Tiga hari setelah Alya datang ke rumah Prilly malam itu dengan berderai air mata, keluarga Dirga langsung berangkat ke Bandung.
Prilly benar-benar terpukul dengan pindahnya Alya dan keluarganya. Ia seakan-akan kehilangan keluarga keduanya.
Ella harus menghibur anaknya yang beberapa hari ini menangis diam-diam di kamar. Ella tahu itu meski Prilly tak pernah terang-terang an menangis di depannya.
"Prilly udah nggak punya siapa-siapa di sini selain Mama.." keluh Prilly suatu ketika saat Ella masuk ke kamarnya untuk membawakan Prilly secangkir teh hangat. Saat itu putrinya terlihat sedang sibuk mengerjakan PR di meja belajarnya.
"Hus, jangan bilang gitu ah, anak Mama. Kan kamu masih punya temen yang lain. Temen sekolah kamu." Ella berusaha memberi pengertian pada anaknya.
"Temen Prilly cuma Alya, Ma. Cuma Alya yang ngerti Prilly.."
"Prilly.. Mungkin ini caranya Tuhan biar kamu bisa buka diri kamu buat orang lain, Nak.."
"Maksud Mama gimana?"
"Ya, kamu cari temen lain. Dunia ini nggak sekecil yang kamu kira, Prill.."
Deg
Kata-kata Ella mirip seperti perkataan Ali yang pernah Prilly dengar. Apa memang mungkin sebaiknya Prilly membuka diri dan mungkin membuka hati?
***
"Prilly cuma punya Bang Gandi sekarang.." lirih Prilly sambil mengaduk iced chocolate nya.
Malam Minggu kali ini, Gandi mengajak Prilly ke Cafe kecil di sudut kota. Cafe ini lumayan sepi dibanding Cafe-Cafe lainnya meski menu disini sebenarnya enak. Sepertinya karena dekorasi Cafe ini yang terbilang biasa saja jika dibandingkan dengan yang berada di pusat kota, yang bisa dibilang style anak muda banget.
Tapi Gandi memilih tempat ini karena Gandi tahu Prilly tak begitu menyukai keramaian dan lelaki itu juga tahu kalau Prilly butuh teman untuk mencurahkan isi hatinya.
Berita tentang kepindahan Alya diberitahukan langsung oleh perempuan itu kepada Gandi, Nathan dan juga Aldi. Oleh sebab itu, Alya meminta tolong dengan sangat kepada Gandi untuk menggantikan perannya bagi Prilly. Setidaknya Alya ingin Gandi selalu ada ketika Prilly membutuhkannya. Dan Gandi pun setuju. Bahkan tanpa disuruh Alya pun, Gandi akan tetap melakukannya karena Gandi sudah menganggap Prilly seperti adik kecil nya.
"Kok gitu sih, Prill? Temen-temen lo di sekolah?"
"Ada sih, beberapa temen yang baik, yang mau ngajakin Prilly temenan setelah Alya pindah. Tapi rasanya beda. Mereka kayak cuma jadi temen di dalem kelas. Selebihnya ya Prilly sendirian."
"Kalo di luar kelas kan ada Abang.." hibur Gandi. Lelaki itu kemudian menyeruput kopi hitamnya yang kini tak lagi panas.
"Ya tapi Bang Gandi kan punya kesibukan sendiri, sedangkan Prilly ngerasa kesepian tiap hari.."
"Move on lah, Prill.."
Prilly sedikit kaget dengan saran dari Gandi.
"Hah?"
"Iya. Kalo emang itu satu-satunya jalan buat lo biar bisa bahagia. Mau gimana lagi?"
Prilly diam.
"Sebenernya ada beberapa cowok yang pernah ngedeketin Prilly, Bang." Prilly menghela nafas seakan menyiapkan diri untuk bercerita.
"Terus?" tanya Gandi antusias.
"Ya gitu aneh-aneh, dari yang pendiem sampe yang agresif banget, bikin Prilly kesel lah pokoknya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Unrighteous
Fanfiction"Prilly itu punya Abang." #2 - aliprilly (10/10/2019) #1 - ggs (05/11/2021) #94 - fanfiction (26/11/2018) #4 - aliandoprilly (17/10/2019) #3 - aliando (16/08/19) #37 - prilly (14/08/19)
