XXVI

7.1K 651 36
                                        

"Ati-ati ya. Semangat kuliahnya!"

"Iya, Abang juga semangat kerjanya! Nanti Prilly pulang jam 4. Awas kalo sampe lupa jemput!" ancam gadis itu sambil melongokkan kepalanya melalui kaca mobil yang sengaja Nathan turunkan.

"Iya, sayang. Bawel amat?"

"Biariiin. Wlee!" Prilly menjulurkan lidahnya kemudian berbalik badan dan berlari kecil memasuki area kampusnya.

Nathan memperhatikan perempuan itu sambil menyandarkan punggungnya. Senyum itu sirna perlahan dari wajahnya. Tiba-tiba ia merasa tak enak hati, seakan ia mencuri sesuatu yang seharusnya milik orang lain.

Jemarinya makin kuat mencengkeram stir. Sudah benarkah apa yang ia lakukan selama ini? Bukankah ia hanya ingin melihat Prilly bahagia? Tapi, apakah gadis itu benar-benar bahagia?

***

"Halo, Prill? Dimana?"

"Bentar-bentar, Bang, Prilly ke tempat yang sepi dulu.." gadis itu berlari kecil menuju kursi di koridor kampus yang cukup sepi. Saat ini pukul sembilan. Masih ada dua jam sebelum kelas berikutnya yang dijadwalkan pukul sebelas. Prilly ingin menghabiskan dua jam nya untuk makan di kantin dan juga ke perpustakaan untuk meminjam buku materi untuk tugas kuliahnya.

"Bang Gandi? Ada apa Bang?"

"Udah? Dah denger suara Abang yang seksi ini?" Gandi tertawa di seberang sana disusul tawa Prilly.

"Hahah iya Bang. Prilly di kampus nih Bang. Kenapa?"

"Nanti pulang jam berapa?"

"Jam 4.."

"Dijemput Nathan?"

"Iya.."

"Abang jemput aja mau nggak?"

"Ha? Ngapain Bang? Bukannya Bang Gandi di Cafe?"

"Iya, ntar jemput kamu doang, terus Abang bawa kamu ke Cafe. Mau ngomongin sesuatu.."

"Mmmm.. penting ya Bang?"

"Sangat penting,"

"Ada siapa aja?"

"Ada kamu sama ada Abang.."

"Lah berdua doang?"

"Iya lah. Apa mau bertiga sama Ali?" Gandi tertawa namun kemudian menyesal karena keadaan malah jadi canggung. Sedangkan Prilly justru berpikir ke arah sana. Ia yakin Gandi akan membicarakan Ali.

"Mmm.. tapi Prilly udah bilang Bang Nat--"

"Udah. Urusan Nathan serahin ke Abang aja."

"Tapi,"

"Nanti Abang jemput di gerbang kampus kamu yang sebelah utara. Jam 4, ok? Bye Prill.."

Gandi dengan egoisnya langsung saja mematikan ponselnya. Prilly tanpa sadar menepuk jidatnya sendiri. Kenapa semua orang jadi ikut campur seperti ini?

***

Prilly cemberut sepanjang perjalanan. Gandi sampai tak bisa menahan tawanya.

"Duh, Prill. Jangan bete terus napa. Abang jadi ngerasa bersalah.."

"Prilly tau Abang pasti mau nginterogasi Prilly kan?"

"Interogasi apa sih, Prill? Abang kan bukan agen FBI." balas Gandi tanpa menoleh ke Prilly yang duduk di sebelahnya.

"Iya, emang bukan, tapi melebihi!"

"Hahahaha.. ntar dulu deh, Prill. Tunggu kita sampe di Cafe Abang dulu, biar pikiran kamu adem dulu. Jangan dikit-dikit bawa otot, Prill.."

UnrighteousTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang