Mission 26 - The Truth

2.4K 360 24
                                        

Los Angeles, 1 PM.

"Bener ini tempatnya?" Tanya Zen pada Glenn.

"Bener, bel aja."

Zen tanpa ragu menekan bel dua kali, lalu menunggu.

"Widih, tajir ya. Gede banget rumahnya." Kata El pura-pura kaget.

"Eh goblok! Markas kita lima kali lipet lebih gede dari ini. Ortu kita juga tajir semua!" Glenn menoyor kesal kepala El.

El melirik kesal ke arahnya, "Aku kan cuma bercanda, kau sensi sekali sih? Lagi datang bulan ya?"

"Tutup mulutmu!" Glenn hampir saja memukul kepala El untuk yang kedua kalinya ketika tiba-tiba saja pintu itu terbuka.

"Apakah anda dokter Santoso?" Tanya Zen langsung tanpa basa-basi dalam bahasa Indonesia kepada laki-laki paruh baya yang membuka pintu. Ini hanyalah sekedar formalitas, karena sebenarnya mereka bertiga sudah tahu foto serta identitasnya.

Laki-laki itu terlihat terkejut, tapi kemudian berdeham, "Silahkan masuk."

Zen tersenyum lalu memberi kode kepada El dan Glenn untuk mengikutinya.

"Jadi, kenapa adik-adik sekalian mencari saya?" Santoso terlihat penasaran.

"Kami tak mau basa-basi, jadi langsung saja ke intinya. Ini menyangkut persoalan lima belas tahun yang lalu, aku yakin anda masih mengingatnya. Persalinan seorang wanita bernama Sekar Aninda." Zen mejelaskan.

Santoso lagi-lagi terlihat kaget, wajahnya terlihat sangat tsk nyaman saat Zen membahas topik ini. "L-lalu? Aku tak terlalu ingat, tapi sepertinya aku pernah menangani pasien ini."

"Jangan bohong." Glenn tersenyum miring, "Terlihat dari wajah anda, kalau anda sangat mengingatnya."

"Jawab saja dengan sejujur-jujurnya pertanyaan kami dok. Atau kau mau memakai cara lain?" El mengeluarkan pisau bedah kesayangannya. "Kebetulan saya juga seorang dokter, walau masih belum memiliki lisensi resmi."

"A-anak kecil seperti kalian mengancam saya?! Kurang ajar sekali!" Katanya marah.

Zen menatap tajam Santoso, "Apakah kami terlihat seperti mengancam? Kami serius."

"Dokter, apakah kau ingin bukti kalau kami serius?" El bangkit berdiri lalu berjalan mendekati Santoso yang duduk di sebarang. Setelah sampai di dekatnya El langsung berbisik. "Kau pasti tahu mengenai Zhang Group kan? Aku adalah penerus mereka. Kalau kau ingin selamat, jangan remehkan kami."

"Z-zhang?! Kau anak dari Richi Zhang?!" Santoso tergagap.

"Jadi, sekarang cepat jawab pertanyaan kami." Zen semakin menekannya.

"Baiklah, aku akan memberitahu semua yang kutahu." Kata Santoso cepat, ia terpaksa menyetujuinya. Ia salah karens telah meremehkan bocah-bocah ini.

"Kau masih ingat bukan tentang Sekar Aninda?" Ulang Zen untuk kedua kalinya.

"Ya, aku ingat wanita ini. Dia pasienku saat aku masih bekerja di Jakarta dulu."

"Apa dia benar-benar meninggal saat persalinan?" Zen memicingkan matanya, berusaha mengamati reaksi Santoso, apakah laki-laki itu akan bemar-benar menjawab jujur atau tidak.

Santoso terdiam selama beberapa saat lalu emnjawab, "Ya, benar. Ia memang meninggal saat itu."

"Catatan rumah sakit mengatakan kalau anaknya juga meninggal saat persalinan. Apakah benar?"

Santoso terlihat ragu sebelum menjawab, "Soal itu---"

El menodongkan pisau bedahnya di dekat leher Santoso, "Kami hanya butuh jawaban 'benar' atau 'tidak'."

Guardian KidsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang