Sasi menjadi gelisah setelah Justin menyebut nama itu. Ia bahkan tak fokus untuk melakukan apa pun, pikirannya terus khawatir dan membayangkan hal-hal yang ia takutkan.
"Sasi, wajahmu agak pucat. Kau sakit?" Merry menatapnya khawatir ketika mereka kembali ke rumah setelah pulang dari sekolah.
"Sepertinya iya. Aku merasa kurang sehat. Kurasa aku akan langsung istirahat saja."
"Baiklah. Kau tak usah khawatirkan untuk masak makan malam. Nanti kita pesan makanan saja."
Sasi tersenyum mengangguk lalu berlalu meninggalkan Merry dan Jerry menuju kamarnya.
"Sepertinya ia kepikiran soal tadi." Ujar Jerry.
"Kurasa begitu. Kita harus hati-hati untuk tidak membicarakan nama itu di depannya." Kata Merry cemas.
"Eh? Apa? Kalian membicarakan apa?" Tanya Dev bingung.
Merry menatapnya kesal karena Dev malah tidur saat Justin menghampiri mereka di kantin sebelumnya. Si gila itu bahkan mungkin akan terus tidur di atas meja kantin hingga saat ini jika saja Cindy tidak membangunkannya.
***
Sasi berusaha untuk terlelap, tapi sama sekali tak bisa. Padahal besoknya ia harus bangun pagi untuk sekolah.
"Sudah jam dua, aku harus tidur." Gumamnya lelah.
Deg!
Ia merasakan keberadaan seseorang yang kini berada di balkon kamarnya. Sasi refleks melompat dari kasurnya dan berjalan mundur ke sudut kamar.
Tubuh Sasi mulai gemetaran ketika ia mengenali getaran langkah kaki ini. Tepat saat itu, pintu kaca yang menuju ke arah balkon bergeser terbuka. Seorang laki-laki berpakaian serba hitam dan menutupi sebagian wajahnya dengan masker hitam kini menatap Sasi.
Kaki Sasi langsung lemas, ia bahkan tak mampu mengeluarkan suara sedikit pun. Tubuhnya menjadi kaku karena ketakutan.
Laki-laki itu kini membuka maskernya dan menampilkan wajah dinginnya serta mata tajamnya yang kini menatap Sasi. Sasi mengenalinya. Dia adalah laki-laki yang dulu bekerja untuk kedua orangtua angkatnya, yaitu David Joe.
Sasi tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok itu. Kini wajahnya sudah pucat pasi, dengan tubuh gemetaran yang terjatuh ke lantai.
David berjalan ke arah Sasi lalu berjongkok di hadapannya. Laki-laki itu kini tersenyum menatap Sasi dari jarak sedekat itu.
Sasi buru-buru memejamkan matanya ketika tangan David terulur ke arahnya. Ia mengira laki-laki itu akan membunuhnya dalam sekejap.
Tapi itu semua tak terjadi. David kini mengelus pelan puncak kepala Sasi dengan senyuman yang belum pernah Sasi lihat sebelumnya.
"Aku senang kau baik-baik saja." Ucapnya pelan dengan tersenyum.
"K-kenapa?" Sasi tercekat. Ia masih heran mengapa laki-laki itu kini tersenyum dan mengelus kepalanya.
David tak menjawab dan malah bertanya, "Boleh aku memelukmu?"
Sasi tak sanggup menjawab, ia keheranan kenapa laki-laki itu kini bersikap hangat padanya. Rasanya seperti... seorang ayah?
"Kuanggap diammu sebagai ya." David kemudian memeluk Sasi perlahan. Laki-laki itu tak bisa berhenti tersenyum dihadapan gadis kecil yang sangat ia rindukan seumur hidupnya itu.
"Ini pelukan terakhirku untukmu." David menepuk-nepuk pelan punggung Sasi. "Ketika kau mengetahui semuanya, tolong jangan cari aku. Aku senang kau sekarang memiliki orang-orang yang menyayangimu. Aku akan terus mengawasimu dari jauh. Dan akan memastikan kau hidup bahagia bersama orang-orang yang tepat."
KAMU SEDANG MEMBACA
Guardian Kids
AksiSEQUEL S.A!! Walaupun blm baca SA tetep nyambung kok. Jadi nggak harus baca prekuelnya. . Guardian Kids... itulah sebutan untuk mereka yang selalu membantu yang memang pantas untuk dibantu, dan juga pengacau yang selalu muncul menghebohkan negara-ne...
