"Sasi, akhirnya datang juga. Aku sudah pesan makanan untukmu." Merry tersenyum ketika gadis itu muncul dikantin.
"Terimakasih." Jawab Sasi pelan lalu duduk di samping Merry.
"Sasi, aku baru mendapatkan kabar dari Zen. Ia ingin aku memberitahumu soal ini." Jerry menatap Sasi datar.
"Ya? Katakan saja." Sasi menunggu.
"Orang tua angkatmu, Wiryatama dan Ningsih telah dibunuh."
Untuk sesaat Sasi terkejut. Jerry dan Merry bisa melihatnya dengan jelas.
Sasi menarik napas dalam-dalam lalu kembali mengontrol ekspresinya, "Mereka bukan lagi orangtua angkatku. Orangtua angkatku sekarang adalah Mama Mia dan Papa Aldo. Jadi itu semua bukan urusanku lagi."
"Maaf, bolehkah aku bergabung? Sepertinya seseorang baru saja mengatakan soal kematian Wiryatama dan Ningsih?" Seseorang tiba-tiba saja menyela dan duduk dihadapan Sasi.
Jerry dan Merry langsung waspada serta menatap orang itu dengan tajam. Hanya Sasi yang mengenalnya, ia adalah anak laki-laki bernama Justin yang ia temui di perpustakaan.
"Hey, tenang, tenang. Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya penasaran dengan topik yang kalian bahas." Justin tersenyum santai.
"Siapa kau?" Jerry terlihat enggan untuk menahan dirinya jika saja Justin menyulut emosinya.
"Aku? Haruskah aku memperkenalkan diri lagi? Sepertinya Sasi bisa memberitahu kalian." Justin tersenyum menatap Sasi seraya memapah dagunya dengan kedua tangan diatas meja kantin.
"Kau kenal dia Sasi?" Merry kini menatap Sasi.
Sasi menggeleng, "Aku tidak mengenalnya, aku hanya tahu namanya. Kami bertemu di perpus tadi."
"Jangan mengada-ada Justin, kita baru saja bertemu tadi." Sasi menatapnya kesal.
"Jadi, kalian itu apa?" Justin tak menggubris kata-kata Sasi. "Secret agent? Atau spy? Atau pembunuh bayaran?"
Merry terkekeh geli, "Imajinasimu itu terlalu tinggi."
Justin mengubah ekspresinya, "Jangan pura-pura. Kematian Wiryatama dan Ningsih sampai saat ini masih dirahasiakan. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya."
Jerry kembali melahap makanannya dengan santai, tak memperdulikan keberadaan Justin sama sekali. Begitu juga dengan Sasi dan Merry.
"Mengganggu sekali. Kenapa kau sebegitu penasarannya sih?" Merry akhirnya bersuara setelah Justin terus mengoceh tak henti-hentinya.
"Harusnya kami yang bertanya. Kau itu yang siapa? Kenapa menyampuri urusan orang?" Sasi menatapnya datar.
"Aku tidak akan memberitahu identitasku sebelum kalian memberitahu identitas kalian." Justin menjawab.
"Apa-apaan itu." Komentar Merry lagi, "Terdengar bodoh sekali."
"Oh baiklah. Kami hanya perlu waktu satu menit untuk tahu tentangmu." Jerry kemudian membuka jam tangannya yang terdapat kamera di dalamnya. Ia mendapatkan foto wajah Justin dalam sekejap, lalu menghubungi Glenn.
"Hey Glenn."
"Kenapa? Apa terjadi sesuatu?"
"Cari tahu orang ini untukku. Ia telah menganggu Sasi."
"Eh?! Siapa yang berani-berani menganggu adik kecil kita? Kalau Zen tahu, bisa-bisa nyawanya melayang."
"Cepatlah, waktumu satu menit." Pinta Jerry.
"Satu menit itu terlalu lama, aku hanya butuh tiga puluh detik." Kata Glenn menyombongkan dirinya, "Oh, ketemu! Wow! Rekor baru! Bahkan tak sampai tiga puluh detik! Hahaha, aku kelewat jenius sepertinya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Guardian Kids
AkcjaSEQUEL S.A!! Walaupun blm baca SA tetep nyambung kok. Jadi nggak harus baca prekuelnya. . Guardian Kids... itulah sebutan untuk mereka yang selalu membantu yang memang pantas untuk dibantu, dan juga pengacau yang selalu muncul menghebohkan negara-ne...
