Mission 29 - Family

2K 243 55
                                        

"Sasi!" Merry berteriak dari ruang tengah ketika melihat pintu kamarnya dilantai dua terbuka.

Sasi tersenyum kecil lalu turun ke ruang tengah tempat semua orang berkumpul. Semua mata memandangnya cemas, terutama Merry.

Merry langsung berlari memeluknya dengan wajah khawatir, "Sasi, kau baik-baik saja?"

Sasi mengangguk sekali, "Iya, aku baik-baik saja."

Sasi kembali meringis ketika melihat ekspresi Merry yang tak percaya, "Ku bilang aku baik-baik saja!"

"Bukan! Bukan itu maksudku. Semalam, Kak Zen tidak melakukan sesuatu saat kau tidur kan?!" Balas Merry melirik Zen.

"Hey! Jaga mulutmu!" Zen langsung berteriak panik, lalu wajahnya bersemu merah.

"Kenapa panik begitu? Kau benar-benar melakukan sesuatu padanya ya?" El memandangnya curiga.

"Ti-tidak! Sumpah!" Zen menggeleng kuat dengan wajah merahnya.

"Sasi? Apa benar?" Glenn bertanya pada gadis itu karena tak percaya pada Zen.

Sasi terkekeh geli lalu berdeham malu. "Dia memelukku sepanjang malam, lalu..."

"Lalu??!" Seru yang lainnya penasaran.

"D-dia juga mencium keningku." Jawab Sasi malu seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Zen! Apa yang kau lakukan pada adik kecil kita?!" Teriak Dev berlebihan seraya memukul kepala Zen.

"Dasar bajingan!" El ikut mengeroyok Zen dengan menendang bokongnya.

Sasi tersenyum salah tingkah. Pipinya merona, dan ia tak tahu harus bicara apa lagi.

"H-hey hentikan!" Zen berteriak kesal, hingga akhirnya ia memilih duduk di sebelah Sasi agar El dan Glenn berhenti memukulnya.

Sasi berdeham sekali hingga perhatian semua orang kini kembali teralih padanya. "J-jadi, bolehkah aku menagih janjimu semalam kak?" Tanya Sasi ragu pada Zen.
"Aku ingin tahu kebenarannya."

Zen menatap Sasi agak lama dalam diam, lalu menghela napas dalam-dalam. Yang lain juga diam, memperhatikan Zen yang ingin mulai menjelaskan segalanya.

Selama Zen memberi penjelasan, keheningan menyelimuti ruangan itu. Diam-diam semua orang melirik Sasi, memperhatikan reaksinya yang mulai berubah terkejut dengan berlinang air mata. Sampai Zen menyelesaikan ceritanya, Sasi tak kuasa lagi menahan tangisnya.

Kenyataan yang menampar dirinya tiba-tiba membuatnya terkejut. Kini Sasi akhirnya tahu mengapa David selalu menatapnya dengan pandangan aneh selama ini. Ia juga mengerti apa arti kata-kata David kemarin, yang berarti perpisahan. David adalah ayah kandungnya!

Zen tak tahan lagi melihat Sasi yang sesenggukan langsung memeluknya untuk menenangkannya, dibarengi dengan pelototan beberapa pasang mata.

"Kau! Mengambil kesempatan dalam kesempitan?!" El mendelik dan bicara tanpa suara ke arah Zen.

Zen balik menatapnya sinis, "Memang kenapa?! Dia pacarku!" Balasnya juga tanpa suara.

"Brengsek!" Balas El semakin kesal.

Zen hanya mendengus lalu mengusir semua orang agar mereka pergi dengan gerakan tangannya.

"Lihat apa kau! Pergi!" Usir Zen pada Glenn yang hanya diam di tempat duduknya sementara yang lain sudah bangkit berdiri.

Glenn mengangkat bahunya dengan cuek, lalu menunjuk ke arah belakang tempat Zen dan Sasi duduk.

Perasaan Zen jadi tak enak, lalu menoleh cepat ke belakang.

Guardian KidsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang