Setelah berbicara dengan dokter Alvin, Mia buru-buru menghubungi salah satu temannya yang kini sudah menjadi pskiater yaitu Vina (Baca S.A)
"Vin, kau sibuk?'' Tanya Mia setelah telponnya tersambung.
"Iya, memangnya kenapa?'' Jawab seseorang disebrang.
"Aku ingin kau memeriksa anakku.''
"Hah?! Zen? Kenapa dia?'' Teriak Vina sampai-sampai Mia menjauhkan hpnya dari telinganya.
"Bukan, tapi Sasi. Aku sudah cerita tentang dia padamu sebelumnya.''
"Ah benar. Kau sudah menceritakannya. Hemmm.. aku bisa malam ini, nanti malam aku akan kerumahmu, aku tak tahu jam berapa tepatnya.. tapi yang pasti aku akan datang.''
"Okay, thanks honey..'' Mia tersenyum.
"No problem.''
***
Zen terus menjaga Sasi sejak ia tak sadarkan diri, ini sudah lebih dari 3 jam, tapi Sasi masih belum bangun juga.
Zen mengusap pipi Sasi yang begitu pucat, ia merasa sangat bersalah pada Sasi.
Tiba-tiba ia melihat jari Sasi bergerak.
Sasi membuka matanya dan menatap kosong kearah langit-langit kamar. Saat Sasi sadar ada seseorang disampingnya ia kaget dan dengan reflek ia langsung duduk dari posisi tidurnya dan terus mundur menjauhi Zen hingga menempel pojok tembok.
Zen kaget melihat Sasi bersikap seperti itu. Sasi melihat Zen dengan takut. Mungkin Sasi kembali mengingat kenangan buruknya lagi dimasa lalu.
Zen tak menyerah, perlahan ia mendekati Sasi sambil tersenyum lembut.
"Sasi..'' panggil Zen pelan sambil mengulurkan tangannya.
Sasi menatap Zen ragu.
Sekali lagi Zen perlahan mendekatinya, dan mengulurkan tangannya.
"Tenang saja, kau akan baik-baik saja..'' Zen terus meyakinkan Sasi.
Dengan ragu Sasi mengulurkan tangannya perlahan menyambut uluran tangan Zen.
Zen tersenyum dengan lega lalu mendekat kearah Sasi dan memeluknya perlahan.
"Tenanglah... semuanya akan baik-baik saja.. aku akan melindungimu apapun yang terjadi.'' Zen mengelus lembut punggung Sasi untuk menenangkannya.
Sasi hanya diam, sama sekali tak bersuara. Ia hanya membiarkan Zen memeluknya, ia butuh seseorang yang mengerti walaupun ia tak mengatakan apapun.
***
"Bagaimana?'' Tanya El khawatir.
Zen menggeleng, sambil menutup pintu. "Ia sudah tidur, kurasa ia kembali mengingat kejadian itu lagi. Ia bahkan tak mengeluarkan suara sedikitpun.''
"Wajar saja. Traumanya 8 tahun yang lalu belum hilang.'' Kata Jerry.
"Mama bilang, nanti malam tante Vina akan datang untuk memeriksanya.'' Zen memberitahu yang lainnya.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu.'' Glenn mengusap-usap dadanya.
"Wajar saja kalau jiwanya terganggu. Anak berumur 8 tahun yang tak tahu apa-apa, berusaha menyelamatkan dirinya dari pembunuh berantai dengan bersembunyi didalam lemari. Bahkan dia melihat teman-temannya mati didepan matanya. Itu hal yang wajar kalau ia memiliki masalah dengan mentalnya....'' Merry menyeka air matanya yang keluar dengan cepat. "Belum lagi ia selalu disiksa...'' Kata Merry terus menundukkan kepalanya.
"Sudah, cukup.'' Jerry memegang bahu Merry yang sudah terisak.
Jerry menepuk-nepuk kepala Mery agar ia tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Guardian Kids
אקשןSEQUEL S.A!! Walaupun blm baca SA tetep nyambung kok. Jadi nggak harus baca prekuelnya. . Guardian Kids... itulah sebutan untuk mereka yang selalu membantu yang memang pantas untuk dibantu, dan juga pengacau yang selalu muncul menghebohkan negara-ne...
