BAB 5
....
Mengutarakan hal seperti itu rasanya seperti mengeluarkan hati dari tubuh ini. Sakit. Tapi, hanya itu pilihan terbaik. Meninggalkan atau ditinggalkan.
Air mata kami berdua terus mengalir tanpa adanya perbincangan lagi. Kami sedang meratapi situasi sulit ini. Di mana uji adrenalin kami ditempa.
Angin malam yang dingin ngga bisa membekukan rasa sakit, hanya bisa menambah situasi menjadi benar-benar dramatis.
"Aku ngga akan tinggalin kamu, Sayang. Please, jangan tinggalin aku. Aku tahu ini semua salahku." Mas Sandy meraih tangan kananku dan mengenggamnya erat. Mata kami beradu. Yang kudapat dari sorot matanya hanyalah penyesalah.
Aku mengeleng pelan. "Mas yang tinggalin aku, atau aku yang tinggalin Mas!" ucapku dengan suara yang serak.
Dia mengeleng cepat. Air matanya semakin deras. "Jangan, aku mohon!" Pintanya dengan tubuh makin lama makin merunduk.
Bruk
Dia berlutut di depanku, membuat diri ini semakin menangis. Berlutut pada wanita yang hidup belum bisa memberi kebahagiaan buat dia, bukannya memalukan? Dengan tangan kiri, kudekap mulut dan menatapnya penuh iba.
"Kita bisa bicarakan baik-baik, Sayang. Aku salah. Aku ngaku, hiks." Isakannya menyayat hati, tapi kecewa karna dibohongi belum bisa terkikis.
"Tolong, Mas. Urus semuanya." Dengan berat hati aku mengucapkannya. Berharap dia menerimanya.
"Tidak!" Sergahnya. Melepas gengamannya dan beralih memeluk pinggangku. Menempelkan pipi kanannya tepat dihadapan perut rata ini. Aku menengadah ke langit dengan tangan yang terus membekap mulut. Air mata semakin deras. Ya Allah, rasanya ngga sanggup melihat suami tercinta rapuh seperti ini.
"Aku salah, Sayang. Mas ngaku salah. Maaf, hiks!"
"Jangan egois, Mas." Aku harus kuat. Ngga ada lagi yang bisa dipertahankan. Terus di dekatnya, luka akan semakin parah. Bukan hanya tentang diduakan, tapi juga ngga bisa memberikannya kebahagiaan.
"Please, Mas mohon. Kasih Mas waktu untuk menjelaskan." Dia mendongak dan kami saling menatap. Air mataku jatuh tepat di atas wajahnya.
"Waktu untuk penjelasan sebenarnya sudah sangat terlambat, Mas. Aku merasa benar-benar bodoh. Istri yang buruk. Sudah ngga bisa kasih kamu keturunan, dibohongi selama sembilan bulan, pun aku ngga tahu." Aku tertawa pelan, menertawakan kebodohanku.
"Sayang, andai kamu tahu, hiks ... aku hanya ingin, anak dari rahim kamu. Hanya menikah dengan kamu dan bahagia bersamamu. Hanya itu."
Wajah Mas Sandy menghadap perutku. Dikecupnya perut rata ini berkali-kali.
"Sudahlah, Mas. Aku--"
"Beri Mas waktu buat menjelaskan. Mas hanya cinta sama kamu, Sa--"
"Tapi menikah lagi. Itu kebenarannya. Cukup, Mas! Jangan ucapkan cinta kalau itu hanya dusta. Maaf, mungkin selama aku menjadi istrimu, hanya ada penderitaan. Sekarang, jalani hidup bahagiamu." Aku mencoba melepas pelukannya, tapi yang ada, pelukan itu semakin mengerat. "Jangan begini, Mas!" pintaku kesal sembari menyeka air mata. "Siap menikah lagi, berarti siap kehilangan salah satu."
"Aku lebih memilih kehilangan dia. Aku ngga cinta sama dia!"
"Ngga cinta tapi dinikahi, mana hamil juga." Aku melipat tangan di dada. Rasanya hatiku kembali membengkak, kesal.
Perlahan Mas Sandy melepas pelukan. Dia berdiri dan menatapku dengan tatapan sayang. "Ayo pulang, Mas akan menjelaskan semuanya." Ingin meraih tanganku tapi segera kutepis.

KAMU SEDANG MEMBACA
KEHADIRAN ORANG KEDUA [TAMAT]
RomanceKetika mempertahankan keluarga dari seorang pendendam yang tidak tahu malu.