8

10.7K 322 2
                                    

BAB 8

....

Pov Sandy

Mata ini terbuka perlahan dan mendapati nuansa putih. "Aku di mana?" batinku bertanya.

"Anggi," ucapku lirih. Bergerak sedikit membuatku harus merasakan rasa remuk di tubuh dan sakit pada kepala. Aku berusaha duduk sambil memegang kepala.

"Sandy, kamu sudah sadar, Nak?" Mengangguk pelan, kepala ini rasanya benar-benar sakit.

"Syukulah, Dek." Aku menoleh, mendapati wajah Mama, Papa, Rina, Mbak Rika, Mbak Salwa, Mas Ridwan dan Mas Satria.

"Mana Anggi?" tanyaku lirih. Mataku menyusiri ruangan dan aku tidak melihat sosok penting dalam hidupku. Aku ingin melihatnya, memeluknya dan kembali berusaha meminta maaf atas semua kesalahanku.

"Kamu baru selamat dari masa kritis, jangan berpikir yang berat-berat." Mama membantuku untuk berbaring lagi. Mengusap rambutku dan memperbaiki selimut.
"Kamu mau apa?"

"Sandy mau ketemu Anggi." Perubahan ekspresi Mama terbilang cepat. Yang tadinya tersenyum, kini datar hanya karna aku menyebut nama Anggi. Aku tahu, Mama dan anggota keluarga yang lain tidak menyukai Anggi yang dari kalangan miskin dan belum juga bisa memberi keturunan, itulah yang membuatku sangat mencintai Anggi, ingin selalu membuatnya bahagia karna cinta, bukan kekurangannya. Dia wanita kedua yang masuk dalam hati ini dan bisa mengobati dari luka cinta pertama. Wanita yang dengan kesederhanaan dan keceriaannya membuatku benar-benar mencintanya tanpa mengeluhkan kekurangannya. Masalah momongan, itu kuasa Tuhan. Kami hanya terus berusaha dan bersabar

"Anggi ngga ada!" jawabnya ketus.

"Kemana?"

"Ya ngga tahu!" Mama menyodorkanku air mineral dan aku hanya mengeleng. Bukan air yang aku butuhkan, tapi istriku. Kalaupun aku mau minum, harusnya yang merawatku adalah istriku.

"Mama ngusir Anggi?"

"Ngga."

"Kalau Mama ngga ngusir dia, kenapa dia ngga ada? Jangan begini, Ma. Dia itu istri Sandy. Pasti kalian 'kan yang kasih tahu rahasia ini sama dia?" ucapku frustasi. Rasanya, pengorbanan insiden bunuh diri itu benar-benar ngga ada gunanya. Mama membuatnya semakin menjauh.

"Tidak! Dia pergi berarti dia sadar diri. Jadi istri kok pembawa sial." Mama berdiri di depan nakas dan mulai dengan cekatan mengupas buah, sedangkan yang lain kembali duduk di sofa.

Benar-benar malas berdebat dengan Mama. Aku sangat merindukan Anggi. Ingin kembali melihat senyumannya. Dia pasti tahu dari mama atau yang lainnya dan pastinya membuatnya sangat terpukul. Anday insident itu tidak terjadi, rumah tanggaku pasti akan baik-baik saja. "Anggi, maafin Mas." batinku merintih. Ini lebih menyakitkan daripada mendengar kabar kalau perusahan keluarga hancur.

"Makan dulu. Sejak semalam kamu pingsan." Mama menyodorkan suapan bubur di depan mulutku. Aku menatapnya sekilas dan berbalik memunggunginya.

"Sandy mau Anggi yang menyuapi."

"Jangan keras kepala, Sandy. Ini demi kebaikanmu." Suara itu dari Mbak Rika. Orang yang pemikirannya sama seperti Mama.

"Kebaikan mana yang kalian maksud?" Emosiku naik. Dengan gerakan cepat aku kembali duduk sembari memegang kepala dan melupakan sejenak rasa remuk ini. "Keluargaku, bukan urusan kalian lagi. Bisakah kalian tidak mencampuri urusan keluargaku? Urusin saja keluarga kalian masing-masing!" Suaraku naik dua oktaf. Aku benar-benar kesal. Dulu mungkin Anggi akan selalu melarangku untuk berdebat karena dia. Tapi kini, aku benar-benar ngga bisa mempertahankan emosi karna Istri tersayang ngga ada di sisi. "Cukup kalian menguasaiku! Aku sudah menikah, sudah dewasa dan berhak menjalani kehidupan sesuai keinginanku!"

"Tapi Anggi ngga pantas buat, Mas." Rina ikut menimpali. Dia berdiri dan menatapku sinis. "Wanita mandul itu memalukan."

"Jangan ucapanmu, Rina! Jika saatnya nanti kamu menikah dan mengalami hal sama seperti Anggi, kamu akan sangat menyesal telah berpikiran sempit."

"Mas, Mas nyumpahin Rina?" Ekspesi rina berubah kesal.

Tersenyum miring. Menyeka air mataku. "Setiap wanita inginnya sempurna, Dek. Tapi apalah daya, semua itu sudah digariskan yang kuasa. Mbak Anggimu hanya belum beruntung. Lagian kami berdua sehat. Hanya butuh kesabaran." Kasian Anggi. Pasti ini juga yang membuatnya semakin berniat meninggalkanku.

"Belain terus perempuan sialanmu itu, Mas. Hidup terus-terusan sama dia hanya akan membuat Mas menyesal seumur hidup. Untung ada Mbak Dea, perempuan baik yang membuat nama keluarga juga membaik."

Dea?

Wanita misterus yang kini berstatus istri keduaku. Ngga ada niat menduakan Anggi. Insiden itu begitu cepat. Aku yang hanya bertemu dengan kawan lama disebuah tempat karaoke, berakhir naas bersama wanita cantik, sekamar dan tanpa busana di pagi harinya. Ingin rasanya mengelak kejadian itu. Aku benar-benar sepertinya tidak melakukan apapun dengannya. Terakhir kuingat, aku yang minum sedikit miras merasa mabuk, menuju toilet dan bertemu dengannya dilorong. Setelahnya aku ngga ingat sama sekali.

Menghianati istri tercinta adalah hal yang sangat menjijikkan. Aku benar-benar merasa bersalah. Hingga, wanita itu datang dan mengaku hamil. Aku benar-benar kacau. Ingin rasanya menolak, tapi wanita itu malah mengadu kekeluarga, membuatku semakin terpojok.

"Nikahi dia!"

"Ngga, Ma. Anggi ngga akan nerima ini." Aku memelas.

"Dia hamil anakmu."

"Tapi aku merasa tidak--"

"Kalau begitu, Anggi harus tahu dan dia harus mengalah."

"Ngga. Jangan kasih tahu Anggi. Sandy ngga mau pisah dari dia. Yang Sandy cintai adalah Anggi."

"Tapi, yang kasih kamu keturuan adalah dia!" Gadis itu seperti pemain drama yang berbakat. Dia duduk di sofa sambil menangis. Kenapa masalah ini harus terjadi.  Aku ngga siap pisah dari Anggi.

"Nikahi dia."

"Ma," ucapku lirih. Benar-benar ngga tahu harus bagaimana. Jika benar itu anakku, berarti harus dipertanggung jawabkan, tapi Anggi ...

"Nikahi dia atau Mama pindah ke rumahmu. Membuat Anggi merasa tertekan dan pergi ninggalin kamu."

"Jangan, Ma. Jangan masuk dalam keluarga kami. Ok! Sandy nikahin dia, tapi ini rahasia. Setelah anak itu lahir, Sandy akan mengugat cerai." Setelahnya aku keluar dari rumah Mama sembari menyeka air mata. Apa langkah yang aku ambil ini tepat? Tapi aku ngga mau mama menekan Anggi.

Akhirnya, pernikahan sirih itu terjadi. Dan dengan ancaman mama lagi, aku harus membuat kesepakatan untuk adil masalah waktu. Seminggu bersama Dea dengan alasan dinas keluar kota. Rasanya hatiku hancur saat berbuat kecurangan pada Anggi. Aku merasa sangat brengsek. Jangan salah, seminggu bersama Dea, komunikasi terus lancar dengan Anggi. Di sana hanya mengurus malas kantor dengan otak yang memikirkan Anggi. Tidurpun aku di sofa.

Hingga semua terbongkar dan aku seketika merasa kematian yang amat menyakitkan. Dua pilihan yang Anggi ajukan ngga bisa kupilih. Sampai kapanpun Sandy ngga akan meninggalkan Anggi dan Anggi ngga boleh meninggalkan Sandy. Egois. Aku menang egois!

"Sandy, lupakan Anggi. Ayo makan. Biar cepat pulih." Mama membuatku sadar dari lamunan.

"Lebih baik Sandy mati, Ma. Kalau harus berpisah dari Anggi." Aku kembali merebahkan tubuh, meringkuk, memunggungi mereka. Mengigit bibir menahan isakan. Ya, aku menangis, merindukan sosok ceria dalam hidupku. Anggi.

Aku mengajakmu pergi hanya ingin terus hidup bahagia bersamamu, Sayang. Hanya itu.

Anggi maafkan Mas yang brengsek ini. Kembalilah, Mas membutuhkanmu.

Kuharap hati kami masih terpaut hingga dia bisa mendengar jeritan hatiku.

...tbc...

KEHADIRAN ORANG KEDUA [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang