9

10.6K 585 5
                                    

BAB 9
....

●Author pov.
Maafken Author yang ngga konsisten. Sekarang pakek pov 3 ya para pembaca. 🙏🙏🙏

............................................................

"Sudah tiga hari berpisah, elo ngga kangen Mas Sandy, Nggi?"

Ucapan Rindi membuat Anggi yang sedari tadi pagi bangun, hanya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan dengan tangan kanan yang terus membelai perut ratanya itu tersenyum masam. Mata bulatnya tidak berkedip, mukanya pucat, kurusan, malas mandi, makan sedikit, bagai mayat hidup yang mengerikan.

"Baru tiga hari, biasanya seminggu."

Rindi menghela napas beratnya. Dia tahu, sahabatnya sangat terpukul dengan insiden itu dan pasti susah menata hatinya lagi.

"Ngga mau coba ketemu?" Rindi yang sibuk membuka gorden, menoleh menatap Anggi yang mengeleng.

"Kami akan bertemu setelah surat cerai ada di tanganku." Tangan mungil itu masih saja membelai perut ratanya sembari mengingat mimpi yang sama selama dua malam ini. "Apa maksud dari mimpi itu?" lirihnya.

"Apa?" Rindi berjalan menghampirinya. Lirih, bukan berarti otak kepo seperti Rindi ngga bisa mendengarnya. Dia duduk di sisi Anggi dan menatapnya iba.

"Jangan tatap aku begitu." Protes Anggi yang semakin masam.

"Kalau saja keluarga Mas Sandy lihat keadaan elo yang kayak gini, bisa mati ketawa jahat mereka. Nggi, hati boleh hancur, jangan penampilan dong,"

Anggi menatap Rindi dan tersenyum. "Aku jelek ya, Rin?"

"Bukan hanya jelek ... buruk malahan!" Rindi terkekeh pelan.

Anggi memegang rambutnya yang berantakan, merapikan perlahan. "Aku kacau tanpa Mas Sandy."

"Eleh! Ngga mau mandi plus dandan, kok nyalahkan orang. Ayolah! Anggi yang gue kenal itu kuat. Lakuin apa yang menurut elo baik. Gue dukung."

"Walaupun aku bercerai dengan Mas Sandy?"

"Apapun. Pilihan elo pasti terbaik buat elo." Rindi tersenyum manis. Menarik kedua tangan Anggi untuk digenggamnya. "Gue sebagai sahabat, cuma bisa dukung elo."

Anggi tersenyum dan mengangguk. "Makasih." katanya.

"Tapi beneran, mau minta cerai aja?"

Anggi mengangguk. "Surat cerainya nanti bakalan dateng, sorean aku bawa ke rumah sakit." Melepas tangan Rindi dan kembali membelai perutnya. "Udah dua malam, tiap subuh selalu mimpi mas Sandy dengan sayang membelai perut ini. Pertanda apa?"

"Dia kangen elo, berharap punya anak dari rahim elo. Kayaknya itu."

"Dan aku hanya bisa kasih dia harapan palsu. Aku mungkin memang man-- hueek," Anggi segera berlari ke kamar mandi, memuntahkan isi perutnya yang hanya berupa air.

Huek, huek

Anggi merasa benar-benar mual, tapi ngga memuntahkan apapun.

"Elo kenapa?" Rindi masuk dengan wajah panik. Anggi yang baru selesai mencuci mulut hanya mengeleng. Dia menatap diri di cermin.

"Kok aku jelek banget." Melihat wajah pucat dan rambut berantakannya membuat dirinya sendiri takut.

"Kan udah gue bilang tadi." Rindi menimpali.

....

"Dea, udah baikan, Sayang?" Brenda Pratama, mama Sandy masuk di ruang rawat Dea dan anaknya.

"Mendingan, Ma. Mana mas Sandy?" Dea menatap ke arah pintu, mencari sosok suaminya yang sangat dia cintai, tapi ngga ada.

"Dia masih harus istirahat. Belum sembuh total. Mama aja yang jenguk kamu, ngga papa kan? Lagian bentar lagi yang lain datang." Brenda menaruh buah-buahan di atas nakas. "Makasih udah kasih Mama cucu yang Cantik."

KEHADIRAN ORANG KEDUA [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang