Sepi bukan berarti salah, ramai belum tentu benar~
Mbak Popi
Pagi itu di Cafe Red Velvet tempat Clara bekerja, terjadi keributan karena ada seorang yang hampir mencuri uang di kasir. Tentu menggegerkan seluruh pengunjung dan pelayang cafe. Begitu juga Mbak Popi, saat itu ia sedang melayani pengunjung hari berlindung karena keributan tersebut. Biasanya ada Clara yang siap menampung curahan hatinya, tetapi karena Clara izin.
"Telefon Clara aja deh, kangen gue" monolognya ditengah suasana break karena ada keributan.
"Hallo adik minikuuu. Kamu izin kenapa? Gimana pestanya kemaren? Serukan?"
".............."
"Apa? Sakit? Kok bisa?"
"............."
"Okey, pokoknya lo harus cerita semua nanti. Aku bakalan ke rumahmu"
"..........."
"Apa yang ngrepotin sih dek, astaga! Udah ya aku tutup. See you dek mini"
Tut.. (telepon dimatikan)
"Semuanya berkumpul di ruang utama cafe" teriak salah satu pekerja cafe.
Setelah intruksi itu semuanya berkumpul, terlihat manager cafe berada ditengah pelayan yang berkumpul.
"Semuanya sudah berkumpul? Oke, selamat siang semuanya. Saya mengumpulkan kalian semua disini karena ada sesuatu yang tadi mengganggu aktfitas kita. Untuk itu, karena bakal ada penyelidikan dan lain-lain untuk hari cafe ditutup. Kalian bisa istirahat di rumah. Have a nice day. Thank you"
"Thank you, sir" balas semua pelayan cafe dengan serempak.
Setelah adanya pengumuman itu semua pegawai cafe membubarkan diri. Begitu juga dengan Mbak Popi yang langsung bergegas ke rumah Clara. Sebelumnya ia mampir membelikan buah-buahan untuk Clara. Sebelumnya Clara sudah mengirimkan alamat rumahnya.
Rumah Clara
Tok... Tok.. Tok...
"Clara? Mbak Popi datang"
Ceklek.
"Mbak Popiii" pekiknya sambil menghambur ke arah mbk popi. "Ayo masuk"
"Assalamu'alaikum, mbak lupa belum salam hehe. Nih mbak cuman bisa bawa ini"
"Waalaikumsalam. Makasih ya mbak. Yuk duduk mbak"
"Gimana, Ra? Pestanya seru? Semua orang terpesona kan?" tanya mbak Popi antusias.
"Aku menghancurkan semuanya, mbak" balasnya dengan sendu.
"Kenapa, Ra?"
"Aku menjatuhkan tartnya dan ya... aku diusir dari pesta. Its a good plant mungkin mbak" balas Clara sambil berusaha menahan air matanya.
"Jangan nangis, cup cup. Gapapa, kamu pasti gak sengaja kan? Mbak percaya itu" ungkap mbak popi sambil memeluk Clara.
"Permisi, selamat sore" suara itu merenggangkan pelukan keduanya.
"Iya selamat sore, siapa ya?" tanya mbak popi.
"Dia temanku, mbak" bisik Clara yang membuat mbak popi mengangguk-angguk.
"Popi, mbaknya Clara"
"Brandon, temannya Clara, mbak"
"Oke, karena Clara udah punya temen aku balik dulu. Besok cerita lagi ya dek, besok masuk kerja kan?"
"Masuk dong, ini udah sehat"
"Yaudah, pamit dulu. Assalamu'alaikum" pamit mbak popi.
"Waalaikumsalam" balas keduanya bersamaan.
"Wih kompak, jangan-jangan jodoh"
"Mbak popi apaan sih. Hati-hati ya, mbak"
Setelah itu keduanya saling diam karena canggung.
"Mau minum apa?" tanya Clara mengisi kecanggungan keduanya.
"Gausah, Ra. Kamu hari ini mau kemana?"
"Di rumah aja istirahat, kenapa?"
"Oiya kamu masih sakit ya. Tadi temen kerja?" tanya Brandon mengalihkan perhatian.
"Kerja di cafe deket sekolah. Kamu.. "
Belum sempat Clara melanjutkan pembicaraan Brandon tiba-tiba langsung memeluknya.
"Sebentar saja aku kangen kamu, Ra"
Clara hanya mematung di tempat dan tak bisa menolak. Dilain tempat ada seseorang yang darj tadi melihat kedua insan ini dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Krek...
Suara itu merenggangkan pelukan keduanya.
"Siapa di luar?"
Hai hai halooo para readers semuaaa 😍😍
Gimana kabarnya? Baik kan?
Happy Reading ya semoga suka ❤❤
Jangan lupa vote dan coment yaaa. Love you 😘😘
Jangan lupa follow igku
@nisa_farikhani
KAMU SEDANG MEMBACA
Clara (Completed)
ChickLitClara Quenna Azzahra anak baru gede yang bergelimang harta,cinta dan tahta. Anak pertama dari keluarga Adiwijaya pengusaha tersukses di Jakarta. Clara atau yang biasa dipanggil Ara sudah bisa dibilang sempurna hidupnya. Bagaimana tidak? ia memiliki...
