SELAMAT MEMBACA KISAH TROUBLEMAKER
***
~apa ini akhir dari segalanya? Penantian ku kini benar-benar berakhir~
***
Kurang tiga puluh menit lagi dokter akan melepas seluruh alat-alat penopang hidup Nathan yang kini berbaring tepat di atas brankar berwarna putih khas rumah sakit tersebut.
Seluruh orang yang berada di dalam ruangan tersebut terus menerus memanjatkan doa kepada Tuhan agar hari ini bukan hari terakhir nathan berada di dunia.
"Gak tau deh gue mau doain apalagi, semua doa udah gue bacain dari Al-fatihah sampai doa makan pun Lo gak sadar-sadar bro"gerutu gabriel sembari menendang-nendang kecil besi penyangga brankar.
"Keliatan banget lo gak ikhlas anjeng"cibir brian melirik sekilas kearah gabriel.
"Gue lapar bung. Otak gue seketika buntu aja gitu. Bingung gue"ujar gabriel dengan mata yang menyipit akibat terkekeh saat berbicara.
"Pantesan doa makan sampai lo jabanin"sahut fara seraya mendengus kesal.
Mendengar itu gabriel seketika cengengesan sembari mengangkat kedua jarinya arti damai kepada Fara dan yang lainnya.
Alex mengumpat "Sono lu gausa deket-deket gue" sembari mendorong bahu gabriel menggunakan jari telunjuknya.
"Yeuh jahat pisan bang. Gak kuat aku tuh" gerutu gabriel tetapi tetap melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari alex.
Setelah itu semua kembali hening dan sibuk dengan pemikiran masing-masing. Termasuk neisyla yang sedari tadi menggenggam erat jemari alex.
"Dua puluh menit lagi. Apa kita masih punya harapan?" Seketika semua tersadar lalu serempak menoleh ke arah nadya yang menatap datar ke arah arloji di tangannya.
"Lebih tepatnya sembilan belas menit lagi" sahut dian dan langsung mendapat senggolan dari Fara yang berada di sebelah nya.
Helaan nafas terus terdengar bersahut-sahutan. Sepertinya harapan mereka harus punah di akhir waktu sembilan belas menit kedepan. Apakah jalan takdir harus berakhir begini? Mengapa harus Nathan? Kenapa tidak yang lain saja? Sungguh takdir tak ada yang tahu selain tuhan.
"Gak ada untungnya kalian nunggu waktu, lebih baik kita semua berdoa demi keselamatannya di banding hanya diam meratapi kematian di ujung waktu sembari menunggu akhir dari waktu sembilan belas menit kedepan"
Spontan semua yang berada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu yang baru saja terbuka dan di iringi ucapan yang cukup membuat mereka mengiyakan perkataan tersebut.
"Gausah se-lebay itu njir, ngeliatin gue kayak ngeliatin setan aja"cibir erick dengan memutar kedua bola matanya.
"Ini lebih seram dari setan bang"sahut fara sembari memandang takut ke arah belakang erick.
Dahi erick berkerut "serem? Setan? Lebih? Eh ada apa sih?" Erick tampak kebingungan melihat mereka menatap ke arah belakangnya, lalu dengan cekatan erick berbalik
"ASTAGHFIRULLAH"
Untung saja bola mata erick tak ikut keluar.
***
Fanny terbangun dari pingsannya dengan meringis kecil sesekali memijit pelipisnya fanny menyandarkan tubuhnya pada sandaran brankar yang terbuat dari besi tersebut.
"Argh sakit banget"gerutu nya dengan perlahan tapi pasti fanny turun dari brankar lalu berjalan keluar dari ruangan berbau obat-obatan yang sangat dibencinya itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
NEISYLA {COMPLETED}
Ficção AdolescenteLAPAK INI MASIH DALAM PROSES REVISI, YANG INGIN MEMBACA HARAP SABAR, JIKA TIDAK BERSABAR SILAHKAN MENCARI CERITA YANG SUDAH BERSIH DARI TYPO DAN ALUR YANG JELAS, SEKIAN. {Direvisi sesuai mood} ___________ Aku suka dia, dia suka yang lain, yang lai...
