Aluna Vein
Chapter 10 "Menahan Sakit"
Kurgon, si bapak pencuri tas milik Avi ada bersama para penyelundup hewan.
Kami pun secara perlahan mundur dari dia dan segera pergi menemui Rolf selagi para penyelundup hewan itu tidak menyadari keberadaan kami.
"Oy lihat ini. Aku menemukan sebuah pedang berkarat dan sebuah jejak kaki."
Begitu sampai di tempat persembunyian Rolf, kami menceritakan semua hal yang kami lihat tadi sambil berjalan kembali ke dalam hutan
"BRENGSEK!,"
Rolf memukul batang pohon di sampingnya sampai membuat daunnya sedikit berguguran.
"Prajurit gadungan itu ternyata biang keladi dibalik semua ini. Sia-sia kami selalu membayar pajak padanya untuk uang keamanan hutan di desa kami."
"Kakek, bagaimana bila kita laporkan hal ini pada penduduk lainnya di desa!?."
"Ya, kurasa itu ide yang bagus."
"Bagaimana dengan tujuan awal kita tentang memulangkan hewan ini ke habitat aslinya?"
Aku mengajukan pertanyaan itu pada Rolf, dan sepertinya ia juga terlihat bingung dengan hal itu. Pasalnya kawasan hutan sedang dipenuhi oleh orang-orang jahat yang memiliki kemampuan untuk berburu dan melacak hewan, Rolf merasa tidak aman bila misi pengembalian Umu itu terus dilanjutkan.
"Kita tidak punya pilihan lain selain pergi dan menunggu-..."
*swing!..
Tiba-tiba menancap sebuah anak panah pada batang pohon di samping wajah Rolf.
Para penyelundup hewan itu ternyata melacak jejak kami dan berusaha untuk menangkap kami hidup atau mati.
Dalam situasi seperti itu, kami benar-benar panik dan lari berpencar untuk membingungkan pandangan mereka.
Anak panah terus ditembakan pada kami. Beberapa menancap ke tanah dan beberapa juga menancap ke batang pohon.
Mungkin karena kabut yang menyelimuti hutan membuat bidikan mereka sedikit terganggu. Memanfaatkan kesempatan itu, aku tidak pikir panjang berlari sekencang mungkin ke pelosok hutan sebelah kanan.
“Ah sial, ah sial. Tamat sudah riwayatku.”
Dengan menahan rasa perih akibat luka di punggungku yang kembali terbuka, aku berlari menerobos kepulan kabut di depanku.
Suara ranting yang terinjak, gemercik semak-semak yang diterjang, juga nafas yang terengah-engah membuatku sangat takut seakan dikejar oleh maut.
Terasa sudah terhindar jauh dari para pemburu itu aku berhenti di bagian hutan yang tanahnya lembab berlumut dan memiliki aliran air. Aku berusaha mengatur nafasku terlebih dahulu untuk membantuku memulihkan staminaku yang terkuras habis.
Luka di punggungku terasa lebih perih di banding sebelumnya.
Membuatku terduduk memegang bahu kiriku saat itu juga. Pasti karena keringat yang membasahi punggungku penyebab semua rasa perih ini terasa amat sakit.
Kuharap itu tidak menyebabkan infeksi serius pada luka di punggungku.
“Kuharap Natia dan yang lainnya baik-baik saja.”
Tak lama kemudian terdengar suara ranting yang terinjak tidak jauh di belakangku, membuatku was-was mencari tempat untuk bersembunyi.
Aku kembali berjalan ke tanah yang berlumut dan terjatuh ke dalam air.
“ternyata ini bukan tanah, tapi rawa.”
"Oy, aku mendengar sesuatu."
Suara itu berasal dari salah satu anggota pemburu yang melihat jejak darah milikku di tempat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aluna Vein
FantasyMenceritakan tentang Zen dan Natia, sepasang laki-laki dan perempuan yang tak sengaja terkirim ke dunia yang asing tanpa mengenal satu sama lain, petunjuk satu-satunya yang mereka miliki adalah barang yang masih mereka bawa. keadaan mereka diperpara...
