Aluna Vein
Vol 2 Chapter 3 "perundingan"
[Aula ruang tahta istana]
Seorang ksatria istana berpakaian serba putih sedang menghadap seorang Ratu di ruang tahta.
Ia pun tunduk sebagai tanda hormat seorang ksatria pada sang Ratu.
"Salam hormat saya pada baginda yang mulia, Ratu Eldea."
"Ada apa kau kemari. Wahai Prajurit?"
Ujar sang Ratu yang berdiri menghadap ke arah prajurit tersebut.
"Hamba kemari membawa sebuah berita mengenai pelaku penangkapan hewan liar di hutan Ranalafti. Juga, kejadian pengrusakan tempat di distrik-"
Tiba-tiba, sang ratu mengangkat tangannya ke arah sang ksatria sebagai tanda agar memberhentikan ucapannya.
"Aku telah mengetahui berita itu sejak awal, juga saat mereka berdua pertama kali datang ke kota ini. Pasche Al Voild, kemarilah. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."
"Baik, hamba siap memenuhi semua perintah anda yang mulia."
Ucap Pasche yang dari tadi berdiri di samping sang Ratu.
"Tolong bawa orang yang bernama Zen dan Natia itu kemari. Aku akan senang menjamu mereka berdua layaknya tamu kerajaan di sini."
Mendengar itu, beberapa menteri kerajaan merasa terkejut sekaligus keberatan terhadap keputusan sang Ratu.
Akan tetapi,...
"Apa kalian keberatan dengan keputusanku ini?"
"Umm... Sama sekali, tidak... Yang mulia."
Para menteri tidak berdaya menujukan rasa keberatan mereka langsung ke hadapan sang Ratu. Untuk itu mereka terpaksa menyetujui hal itu.
Pasche pun segera berangkat meninggalkan ruang tahta menuju ke jalanan ibukota dengan menaiki sebuah kuda putih diiringi beberapa kereta istana yang mewah.
*****
[Toko obat Luvina]
Aku sedang dirawat oleh ibu Luvina karena luka bakarku yang sudah terlihat semakin parah
"Adudududuh..."
"Tahanlah sedikit. Ini hanya air tomat, selain itu luka tanganmu ini terlalu parah, sebagai seorang pemuda harusnya kau ini lebih berhati-hati."
Bu Luvina menggunakan air tomat yang waktu itu kami terima dari Rolf saat pertama kali di campakan olehnya di kota ini. Akhirnya aku mengetahui fungsi asli dari jus tomat itu. Yaitu sebagai obat mujarab untuk mengobati kulit yang terkena cidera ringan maupun luka bakar.
Sedangkan Ulric...
"Adududuh... Avi, sepertinya kita harus AAAAH!... Kumohon Avi, pelan-pelan."
"Ma'aaaf, tapi aku harus mengikat perban ini dengan kencang agar papan kayu yang kupasang ini tidak kendor. Jadi mohon, tahan yah."
Ya, bisa dibilang aku mestinya lebih bersyukur hanya terkena luka bakar seperti ini dibandingkan luka patah tulang yang diderita Ulric.
"AAAAAH!!! KALAU BEGINI JADI AKU BISA MATI."
"kalau begitu aku harus segera membelikan peti mati khusus untukmu."
"Sialan, kau mendoakan aku cepat mati yah!?."
"Ahahaha, hanya membahas guyonanmu saja."
Bu Luvina yang melihat tingkah laku mereka berdua, menceritakan padaku bahwasannya mereka berdua ini sudah berteman sejak lama sekali.
"Ulric adalah teman pertamanya Avi, ia sering mampir ke toko kami untuk mengajak Avi main di alun-alun kota saat kecil."
Ya, bisa kutebak bahwa mereka berdua ini sebenarnya berteman semenjak Ulric pertama kali muncul di gang itu bersama Avi. Tapi, aku tidak mengira hubungannya akan sedekat ini dengan keluarga Bu Luvina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Aluna Vein
FantasyMenceritakan tentang Zen dan Natia, sepasang laki-laki dan perempuan yang tak sengaja terkirim ke dunia yang asing tanpa mengenal satu sama lain, petunjuk satu-satunya yang mereka miliki adalah barang yang masih mereka bawa. keadaan mereka diperpara...
