Aluna Vein
Vol 2 Chapter 7 “Benang Yang Terputus”
"ALASAN UTAMA KENAPA AKU TIDAK BISA MENGELUARKANMU DARI TEMPAT INI, ITU KARENA KAU SUDAH MATI."
"HAH? Mati!? Kenapa bisa begitu. A-apa yang terjadi pada diriku!?."
"KEMUNGKINAN BESAR KARENA PENYIHIR ITU JUGA SUDAH MATI."
"Penyihir?"
"LIHATLAH KE SANA."
Suara besar misterius itu menyuruhku untuk melihat ke arah layar monitor yang mirip seperti hologram masa depan.
Dalam layar itu aku bisa melihat Natia yang terbaring tak sadarkan diri di tengah derasnya air hujan, ditemani oleh Difara dan Umu yang terlihat berusaha untuk membangunkan Natia.
"Mama! Sadarlah, Mama!."
Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menonton dari balik layar putih ini.
Meskipun berulang kali aku meminta agar disadarkan dari tempat ini, jawaban dari Suara besar misterius itu tetap saja 'tidak bisa' dan 'tidak bisa'.
Selain itu sepertinya masalah tidak hanya datang menimpa padaku, tetapi juga dari pihak kerajaan.
Terlihat sang Ratu dengan kondisi tidak begitu baik memerintahkan Jeannie untuk segera mencari keberadaan kami berdua.
"Terakhir kali aku memeriksanya mereka berdua sedang berada di kanal dekat pemukiman Ostrei."
"Baik yang Mulia. Kalau begitu saya permisi–"
"JEANNIE!"
Tepat sesaat Jeannie ingin meninggalkan kamar, sang Ratu sendiri sepertinya memiliki permintaan khusus lainnya.
"Lakukanlah dengan cepat. Karena sempat sesaat sebelum aku jatuh sakit, Natia sempat hendak ingin mengakhiri hidupnya di kanal tersebut. Berjanjilah kau akan membawa mereka berdua dengan selamat."
".... Saya berjanji akan membawa mereka berdua dengan selamat. Kalau begitu saya pamit permisi."
Dengan ditemani beberapa prajurit wanita. Jeannie mengulurkan tangan kanan dan tangan kirinya sebagai kode untuk berpencar ke sisi masing-masing.
Pihak istana juga mengirimkan bala bantuan berupa prajurit berkuda untuk membantu misi pencarian yang dikomadani langsung oleh Pasche si ksatria putih.
Difara dan Umu masih berusaha untuk membangunkan Natia.
Tidak terlihat bercak darah ataupun sesuatu yang dapat membuatnya terbunuh, seakan kejadian itu terjadi secara alami dari dalam.
Di tengah jalan terlihat seseorang sedang datang ke arah mereka bertiga. Difara sempat meringis sebagai tanda waspada pada sesosok pria berpakaian seperti pemilik kedai itu. Ia adalah pak Rosafelt yang tidak lama ini mengunjungi rumah Bu Luvina.
"Oh! Rupanya anaknya Zen?, sedang apa kau di tempat sepi seperti ini?. Lalu seseorang yang tergeletak itu–....I-itu kan, nona Natia!"
Difara masih tetap meringis meskipun sosok pria itu ia anggap sebagai seseorang yang familiar, untuk itu pak Rosafelt dengan berbagai cara mencoba untuk membuat Difara tenang dulu sebelum bisa membantu melihat kondisi Natia.
"Tenang saja. Aku di sini hanya sekedar ingin membantu Ibumu."
"Membantu... Mama?.... To-tolong! Bantu Mamaku!"
Dengan situasi yang sudah lumayan tenang ini, pak Rosafelt kemudian membalikan Natia dari posisi tengkurapnya lalu kemudian memeriksa detak jantungnya.
"Apa Mama baik-baik saja?"
"Tenang saja... Dia baik-baik saja."
"Ah! S-syukurlah..."
KAMU SEDANG MEMBACA
Aluna Vein
FantasíaMenceritakan tentang Zen dan Natia, sepasang laki-laki dan perempuan yang tak sengaja terkirim ke dunia yang asing tanpa mengenal satu sama lain, petunjuk satu-satunya yang mereka miliki adalah barang yang masih mereka bawa. keadaan mereka diperpara...
