Vol 3 Chapter 2 "Reuni"

49 4 2
                                        

Aluna Vein
Vol 3 Chapter 2 "Reuni"

Aku dan Rosafelt sekarang sedang berada di sebuah ruangan yang tidak asing. Itu adalah ruangan yang kupakai untuk berhias diri bersama Natia beberapa jam yang lalu sebelum semua kekacauan ini terjadi.

Di sana telah hadir seperti biasa pelayan-pelayan juga wanita yang waktu itu memijatiku sedang mengobrol dengan sesama teman pelayannya yang lain.

"Selamat datang kembali, Pak Rosafelt, Nona Natia."
Sawut seseorang yang membuat para pelayan yang lainnya memandangi kami dengan ramah.

"Ah, lama tidak berjumpa, Tufela."

Rupanya Tufela sang kepala sesi penghias mengenal Rosafelt jauh dibandingkan aku.
Itu artinya Rosafelt juga pernah sama-sama datang ke istana ini?

“Aku baru tahu. Kupikir hanya orang penting saja yang diperbolehkan masuk. Rupanya Rosafelt sang pemilik kedai pun diperbolehkan masuk juga.”
Ujarku membatin sembari melirik ke arah Rosafelt. Berkat tinggi badan kami yang berbeda jauh, aku harus meliriknya dengan pandangan mata yang jauh mengarah ke atas.

"Nona Natia. Apa nona baik-baik saja?"

"Eh?... Ah, iya. Aku baik-baik saja.... Aaaa Tufela, ya?"

"Merupakan suatu kebanggan Nona masih mengingat nama saya."
Sawut Tufela sambil menepuk kedua tangannya dengan wajah tersenyum bahagia.

"Tufela, sebenarnya nona Natia ini-"

"Eh jangan-jangan-jangan!"

Aku membisikan sesuatu ke telinga Rosafelt supaya ia tidak membongkar rahasia bahwa aku adalah Zen yang berada dalam tubuh Natia.
Bila itu sampai terjadi, entah bagaimana reaksi mereka (para pelayan ini) menanggapi hal mengejutkan tersebut.

Setelah kubisikan alasan itu, Rosafelt hanya mengangguk-ngangguk sebagai isyarat mengerti.

"Nona Natia ini sebenarnya... Ingin dipijat karena telah lelah beraktifitas seharian."

"Hm hm... itu benar... Eh, apa?..."

"Waah begitu rupanya. Kalau begitu Yamna, segera bawa Nona Natia ke ruang pemijatan."

Yamna adalah orang yang memijatku waktu aku pertama kali datang ke sini, dan ia pula yang akan memijat ku dalam wujud Natia di sini lagi.

"Pastikan pijatannya tidak terlalu keras dan nikmat."

"Pasti, ketua sesi penghias. Saya akan memijatnya dengan segenap jiwa dan raga yang saya miliki."

Yamna mendorong punggungku sehingga aku terseret ke arah ruang pemijatan.

"Eh eh tunggu... Eeeeh..."

"Tenang saja nona Natia, serahkan saja semuanya pada saya."

"Bukan itu masalahnya tapi... Eeeeh-"

Pintu pun ditutup dan hanya kami berdua yang ada di dalam sana.

Sementara aku di sini dengan urusanku dan Rosafelt dengan urusannya terlihat sedang berbincang dengan Tufela mengenai sesuatu yang aku tidak sempat dengar karena cepatnya aku dibawa ke dalam ruang pemijatan.

"Ada yang kau sembunyikan... Tadi kau mau bicarakan apa mengenai nona Natia?" ujar Tufela curiga.

"Aku sudah disuruh untuk bungkam soal masalah ini, itu pun atas titah sang Ratu jadi kuharap kau tidak penasaran soal hal itu." respon Rosafelt.

"Uuuuh~ pelit sekali, padahal kita kan serumah ini."

"Kalian serumah?" ujar salah seorang gadis pelayan yang mewakili kepenasaran para pelayan lainnya yang berdiri berkerumun di belakang.

Aluna VeinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang