"Gue emang manusia ga tahu diri yang dengan beraninya ngekhianati sahabat sendiri."
-Andini Maheswari-
🙊
"Terus gimana?" Alya mengelus-elus Shiro yang entah sejak kapan sudah duduk dipangkuannya.
🙊🙊🙊
"Lu suka sama gue?" Laki-laki itu tersenyum manis. "Boleh, kok. Jadi, kita pacaran, ya?"
Dini menggeleng. "Tapi kamu kan lagi pacaran sama Yulia."
Angkasa menganggukkan kepalanya. "Ah iya, aku lupa! Kalau gitu, kita pacaran diam-diam aja, aku juga suka kamu kok, Andini!"
Dini berbunga-bunga, cintanya terbalaskan. Dini sadar kalau dia sudah mengkhianati sahabatnya, tetapi cinta tak bisa disalahkan, lagi pula Angkasa juga menyukainya.
Maaf, Yuyu.
Walaupun pacaran diam-diam, Angkasa sangat perhatian kepadanya. Dini tahu kalau posisinya itu sekarang sebagai selingkuhan. Dini menghela napas lelah, saat dia akan keluar dari bilik toilet, dia mendengar ada banyak langkah kaki memasuki toilet, Dini mengurungkan niatnya untuk keluar.
"Yul, gue yakin banget sahabat lu itu pacaran sama cowok lu!"
Deg!
Dini memegang dadanya yang tiba-tiba merasakan degupan kencang.
"Iya Yul! Kita yakin banget!"
"Nini enggak gitu, gue tahu Nini gimana. Nini ga bakal ngekhianati gue, karena kami itu, sahabat."
"Terserah elu deh Yul! Ga bisa dibilangin emang!"
Setelah itu Dini tak mendengar apapun lagi, hanya suara kekehan Yulia yang terakhir didengarnya.
Maaf, Yuyu!
Dini mengusap air matanya kasar. Dia harus mengakhiri ini.
"Maaf Yul, kita ga usah temenan lagi, ya?"
Dini tahu, dia bodoh. Harusnya dia mengakhiri hubungannya dengan Angkasa, bukan dengan sahabatnya ini!
Saat itu Dini hanya mendapat tanggapan sebuah senyuman dari Yulia. Yulia tak mengatakan apapun, Yulia hanya menyerahkan sebuah buku bersampul biru yang diketahui Dini kalau itu adalah buku harian Yulia.
Andini Maheswari membacanya, di rumah kumuhnya dia membaca buku itu dengan teliti. Air matanya sesekali berjatuhan.
Angkasa memang tampan, tapi dia kejam.
Aku sering dipukulnya, sakit, sakit sekali. Aku ga bisa cerita ke siapa-siapa.
Nini, aku Yuyu rindu!
Dini membalik lembar buku itu. Terus membacanya, semua curahan Yulia adalah tentang Angkasa dan dirinya. Yulia sudah mengetahui kalau Dini telah berpacaran dengan Angkasa, dan Yulia tidak marah sama sekali.
Sampai Dini di akhir halaman. Matanya membulat sempurna dan air matanya mengalir.
Nini menyukai Angkasa, tapi Yuyu ga mau, Nini ga boleh sama Angkasa! Angkasa itu jahat! Nini harus sama orang baik!
Yuyu pengin banget ngasih tahu Nini, tapi Nini sama Angkasa mulu.
Angkasa ngancam Yuyu, katanya, kalau Yuyu ngasih tahu Nini, Nini bakal dibunuh. Yuyu takut, Nini!
Yuyu capek Ni, Yuyu pergi, ya? Jangan mau pacaran sama orang jahat, Nini harus pacaran sama orang baik!
-Tertanda ( Yulia Atika a.k.a Yuyu canss :) *Smile!
Jangan lupa bahagia!
Harusnya, pada malam itu, Dini bisa menghentikan aksi bunuh diri Yulia. Harusnya, Dini tidak pernah pacaran dengan Angkasa.
Harusnya, Dini tidak meninggalkan dan merasa iri kepada Yulia.
Harusnya, Dini saja yang mati.
Keesokannya, Dini menghadiri pemakaman Yulia. Semua orang menangis, termasuk laki-laki sialan itu, Angkasa. Air mata palsu! Dini bisa melihat Angkasa yang menyeringai begitu menatapnya.
"Maaf Dini, ibu tidak bisa tinggal di sini lagi, kenangan di sini terlalu banyak, ibu akan pindah. Dini mau ikut?" ucapan dari ibunya Yulia membuay hati Dini seperti ditusuk pisau tajam. Sakit.
Bahkan, orangtuanya begitu baik kepadanya, dan dia dengan beraninya mengkhianatinya? Bodoh.
Dini menggeleng. Menolak ajakan ibunya Yulia. Dia tidak bisa merepotkan keluarga itu lagi.
Esoknya, Dini memutuskan Angkasa di belakang sekolah, dan saat itu juga, Dini mengatakan pada Angkasa, kalau dia akan mencegah orang-orang yang akan dipengaruhi Angkasa. Dia berjanji, tidak akan ada yang mati setelah ini.
🙊🙊🙊
"Hmm, penjahat!" seru Alya masih mengelusi Shiro.
Shiro hanya mengeong tanda mengiyakan perkataan Alya.
"Peliharaan sama majikan sama-sama kejam," ucap Dini lirih.
Alya terkekeh. "Udah, ga usah nangis gitu. Udah mati ya udah, ditangisin pun ga bakal balik lagi." Alya mengangkat Shiro dan menggendongnya layaknya anak bayi.
"Sekarang kita cuma bisa ngehentiin Angkasa itu kan? Yah, saya suka sih sama dia," ujar Alya menerawang jauh ke hari-hari yang sudah dilewatinya. "Lagipula, saya sama dia belum putus, sih."
Plak!
Dini memukul kepala Alya pelan.
"Sadar, bego! Itu cowok udah mau ngebunuh lu juga!" Dini bersedekap dan menatap Alya tajam.
"Ah, berisik, orang suram!"
Pada akhirnya pun memang benar, Yulia tidak bisa kembali lagi. Alya benar, lagipula sekarang dia harus melindungi Alya. Jika ada yang harus mati, lebih baik dia yang mati daripada Alya.
Seperti yang dikatakan Alya, hidupnya memang benar-benar suram. Dini tetap hidup agar tidak ada Yulia kedua, itu saja.
/ "Ga usah ikut campur, bisa?"
"Pindah sekolah ya, kasian banget. Gagal ya, Angkasa?"
"Gue bakal matiin lu, Andini sialan." /
🙊Angkasa🙊
KAPAL Q BERLAYARR, TERUSS BERLAYARR.
BYEEE
BYEEE
BYEEE
>>>
KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa ✓
Ficção Adolescente[Completed] Sebelumnya, Angkasa selalu peduli terhadap wanita dan menjadikan wanita itu makhluk nomor satu yang harus dilindungi dan disayangi. Tetapi karena satu hal, Angkasa menjadi lelaki yang sangat suka menyakiti hati wanita dan membuatnya mena...
