[Completed]
Sebelumnya, Angkasa selalu peduli terhadap wanita dan menjadikan wanita itu makhluk nomor satu yang harus dilindungi dan disayangi. Tetapi karena satu hal, Angkasa menjadi lelaki yang sangat suka menyakiti hati wanita dan membuatnya mena...
"Eh, di rumah ga ada orang! Ga boleh!" Alya terlihat panik sambil mengibaskan tangannya.
Angkasa mengerutkan dahinya. "Nyokap lu mana emang?"
"Kerja!"
"Ya udah, gue cabut! Oh iya ntar sore kita jalan ya, jam 5! Inget, ga boleh nolak! Bye!" Angkasa menghidupkan motornya kembali lalu pergi setelah melambaikan tangannya.
Alya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tak mengerti kenapa bisa kenal dengan makhluk aneh itu. Alya segera masuk ke rumahnya, begitu masuk dia langsung mengunci kembali pintunya.
😳😳😳
Setelah membeli makanan, Angkasa lalu pulang ke rumahnya. Begitu sampai, Angkasa langsung masuk dan meletakkan sepatunya sembarangan, melemparkan tasnya di sofa lalu menuju ke dapur untuk mengambil sendok dan air minum.
"Aduh, laper cuy," gumamnya.
Angkasa lalu duduk dan membuka nasi bungkus yang dibelinya. Saat Angkasa sedang makan, handphonenya berdering, tetapi dia mengabaikannya.
Namun handphone Angkasa terus berdering. Angkasa meletakkan sendoknya dengan kasar, lalu mengambil handphonenya dan akan memaki orang yang berani-beraninya mengganggu seorang Angkasa saat mau makan.
"Eh?" Angkasa sedikit kaget melihat nama orang yang menelponnnya. "Dih, pacar baru nelpon, udah kangen kali ya?"
Angkasa lalu menjawab panggilan Alya, "Hal.."
"Sa, tolong saya!"
Angkasa mengernyitkan dahinya lalu berkata, "Ha? Apaan dih?"
"Kamu ke sini ya! Kita jumpa di taman dekat rumah yang kita lewatin tadi!"
Baru saja ingin protes, panggilannya sudah dimatikan oleh Alya. Dengan decakan kesal dan hati yang dongkol, Angkasa mengambil kunci motornya dan langsung menuju ke taman yang dikatakan Alya.
Tidak berapa lama kemudian Angkasa dapat melihat seorang gadis yang sedang menggendong seekor kucing.
Angkasa menghentikan motornya tepat di sebelah Alya yang sedang menunggu di bawah pohon besar yang ada di taman.
"Angkasa!" sapa Alya riang.
Angkasa hanya menatap Alya dan bertanya melalui tatapannya.
Alya menyodorkan kucing yang dipegangnya, "Tolong rawat kucing saya!"
"Dih? Ogah!"
"Saya mohon, Angkasa!" pinta Alya dengan mata berkaca-kaca.
"Kalau gue rawat, untungnya di gue apa?" tanya Angkasa.
"Saya bakal lakuin apapun yang kamu suruh, saya mohon!" Alya menyatukan kedua telapak tangannya dan memohon di depan Angkasa.
"Yaudah, sini!" Angkasa menggendong kucing yang berukuran sedang itu dan mengelus bulunya yang berwarna putih.
"Namanya Shiro, bulunya lembut kan? Kamu rajin mandiin ya! Kasihin makan juga ya," ucap Alya menatap kucingnya penuh kasih sayang.
"Repot amat dih, nanti elu aja yang kasih makan sama mandiin, dateng aja ke rumah gue! Udah ah, gue belum makan lagi, siniin kandangnya!" Angkasa memasukkan kucing itu ke dalam kandangnya lalu meletakkannya di motornya.
"Dih, ntar jatuh nih," gumam Angkasa kesal.
Angkasa menatap Alya yang menatapnya penuh harap. Angkasa mendecak kesal, kenapa wanita semenyebalkan ini?
Angkasa mengambil handphonenya dan menelpon Arya, tanpa basa-basi Angkasa langsung meminta Arya datang ke taman dengan mobilnya.
Selagi menunggu Arya datang, Angkasa membuka percakapan. "Gue ga tau lu ada masalah apa, dan gue juga ga mau tau, jadi jangan coba-coba curhat ke gue."
Alya mengangguk-anggukkan kepalanya, Angkasa mau merawat kucingnya saja dia sangat bersyukur.
Lalu keduanya sama-sama diam. Tidak ada yang mau membuka pembicaraan, keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Tidak lama kemudian Arya datang dan membunyikan klakson mobilnya, lalu keluar dengan wajah dongkol.
"Gue muter-muter anjir nyari ini tempat, monyet emang.." ucapan Arya terpotong oleh tatapan Angkasa yang menyuruhnya agar diam.
Angkasa menyerahkan kandang beserta kucing yang ada di dalamnya itu kepada Arya. "Bawain, kalau pakai motor ntar jatuh," ucap Angkasa.
Arya menganggukkan kepalanya lalu memasukkan kucing tersebut ke mobilnya.
"Terimakasih, Arya!" ucap Alya yang sedari tadi diam.
Sebagai jawaban, Arya hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Angkasa menaiki motornya dan menghidupkannya.
"Terimakasih, Sa. Saya tahu kamu orang baik!"
Angkasa tersenyum miring. "Hm, gue emang baik."
Senyuman Angkasa yang membuat Alya sedikit merinding dan memikirkan sesuatu yang buruk akan menimpanya, tetapi Alya langsung menepis pikiran buruk itu.
Saat Angkasa sudah pergi, Arya menatap Alya lalu menggelengkan kepalanya, "Gue harap lu bakal baik-baik aja, Alya," ucap Arya lalu masuk ke mobilnya.
Setelah mobil Arya tak terlihat lagi, Alya menghapus air matanya yang tiba-tiba mengalir, "Saya juga berharap saya bakalan baik-baik aja."
😳Angkasa😳
HELAU, APA KABS KALIAN SEMWA, HAHAH.
Kembali lagi, aduh lama beut ya:( Cemoga cukak{} maaci buat kalian yang udah suport aku😗