T. Rahasia Angkasa

1.7K 107 5
                                        

"Ibu mau kan bunuh diri karena udah nyakitin hati Angkasa?"

-Angkasa Altezza-

😭

Angkasa kecil memerhatikan sekolah barunya dengan wajah riangnya. Mencoba mencari teman dan akhirnya berteman dengan seorang anak yang bernama Arya.

Bagi Angkasa, Arya itu anak yang keren. Dia anak orang kaya, apa pun dimiliki oleh Arya.

Angkasa suka membantu nenek-nenek yang akan menyebrang jalan. Membantu ibu-ibu yang keberatan membawa belanjaannya, menolong anak perempuan yang dikejar oleh seekor anjing, dan lainnya.

Bagi Angkasa, perempuan itu manusia spesial yang harus dilindungi.

Akhir-akhir ini, orangtuanya sering bertengkar. Angkasa yang masih kecil tidak mengerti apa yang sedang mereka perdebatkan. Kata cerai terus terucap dari mulut ibunya.

Saat itu, ibunya pergi dari rumah. Angkasa mengejarnya dan memohon agar tidak pergi. Menangis seperti anak kecil umumnya. Bertanya kenapa sang ibu tega meninggalkan dirinya.

"Angkasa jelek dan bodoh, ibu tidak suka punya anak seperti Angkasa! Ibu malu! Ibu mau punya anak yang ganteng dan juga pintar!"

Perkataan ibunya terus terngiang di kepala Angkasa. Angkasa harus jadi keren agar ibunya kembali, dia juga harus belajar dengan giat agar menjadi anak pintar yang bisa dibanggakan oleh ibunya.

Anak kecil berumur 8 tahun itu mendapat perlakuan kasar dari ayahnya. Ayahnya menggila karena ditinggalkan oleh orang yang sangat disayanginya.

"Ini semua salah kamu! Harusnya kamu ga usah ada, Angkasa!"

"Kamu bodoh! Jelek! Buat malu aja!"

"Ibumu pergi karena kamu, Angkasa!"

Setiap hari dipukul oleh ayahnya membuat banyak luka memar di tubuhnya. Untungnya Arya selalu ada untuknya, selalu mengobati luka Angkasa dan selalu menemaninya.

Setelah pulang sekolah, Angkasa ingin pulang, tetapi dia sedang tidak ingin dipukuli oleh ayahnya. Badannya terasa sakit semua. Angkasa berjalan ke bangku taman yang terletak di bawah pohon besar yang akan melindunginya dari sinar matahari.

Angkasa menjatuhkan bokongnya di atas bangku kayu itu dan menutup matanya. Berpikir bagaimana caranya agar dia bisa cepat menjadi pintar. Pelajaran di sekolahnya ini juga sangat lama, Angkasa sudah mengerti semua yang dijelaskan oleh guru-gurunya itu. Dia butuh guru les, tapi dia mana punya uang untuk membayar guru les itu?

Merasakan ada seseorang yang duduk di sebelahnya, Angkasa membuka matanya dan melihat seorang wanita berkacamata dengan tangan yang memegang satu buku tebal.

"Ibu seorang guru?" tanya Angkasa tiba-tiba.

Orang yang merasa diajak berbicara oleh anak kecil di sebelahnya pun tersenyum manis. Dia menganggukkan kepalanya. "Iya, saya guru SMA."

Mata Angkasa berbinar. "Saya harus jadi pintar dengan cepat, ibu mau ngajarin saya? Tapi saya enggak punya uang."

Wanita itu terlihat sedang berpikir. Dia menaikkan kacamatanya yang melorot. "Boleh."

"Ibu enggak minta bayaran?" tanya Angkasa bingung.

Wanita berkacamata itu menggeleng dan tersenyum hangat. "Ibu minta bayarannya nanti aja. Jadi, kapan kita mulai belajarnya?"

Semenjak itu Angkasa selalu pulang malam. Pergi saat ayahnya belum bangun tidur, dan pulang saat ayahnya sudah tertidur atau ayahnya belum pulang. Memar di badannya juga sudah memudar. Tidak berjumpa dengan ayahnya berdampak baik juga bagi fisiknya.

Angkasa banyak belajar dengan wanita berkacamata itu. Menurut Angkasa, wanita itu selain pintar dia juga sangat cantik. Wanita itu sangat sempurna.

Satu tahun belajar dengannya, Angkasa sudah mengetahui banyak hal. Diajarkan banyak hal. Angkasa juga menceritakan apa yang dialaminya. Angkasa terlalu terbuka kepada orang asing yang kini dianggapnya sebagai ibunya.

"Ibu kamu enggak pulang lagi?"

Angkasa menggeleng lemah.

"Ayah kamu sekarang gimana?"

Angkasa membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi 2 detik kemudian mulutnya kembali tertutup. Terlalu fokus belajar dia sampai-sampai melupakan keberadaan ayahnya.

"Angkasa enggak tahu," ujarnya kembali menggeleng lemah.

Anak kecil itu pamit pulang. Dia melangkah dengan ragu. Di satu sisi dia khawatir dengan keadaan ayahnya, tetapi di sisi lain dia tidak ingin kembali mempunyai banyak luka.

Angkasa menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran-pikiran buruk yang terus berputar. Kembali melangkah dan mencoba tersenyum setiap ada yang menyapa.

"Eh?" Angkasa memicingkan matanya. Mencoba melihat dengan benar dan tidak salah mengenali.

"Ayah?"

Angkasa bisa melihat dengan jelas walau pun dari kejauhan. Ayahnya sedang berlutut di depan wanita --- ibunya?

Angkasa mengepalkan kedua tangannya. Mungkin yang dikatakan guru les nya ada benarnya juga. Ibunya itu tidak tahu diri, wanita seperti itu tidak pantas untuk disayangi. Wanita seperti itu lebih pantas untuk mati.

Angkasa tidak menghampiri ayahnya, dia pulang, seperti tujuan awalnya. Dia ingin ibunya mati tanpa dia harus mengotori tangannya.

Sampai, pada malam itu. Akhirnya Angkasa mengakhiri semuanya dengan senyum manis layaknya anak-anak.

😭Angkasa😭

Maap kalo ada typo, sila koreksi.

Maaci suda baca😌 jangan lupa cintanya buat aku😆

Babayyy

See u

>>>

Angkasa ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang