"Untung gue ganteng dan baik hati."
-Dion Alexander-
😯
"Bang, Alya boleh minta bantuan?"
"Paan?"
"Besok, tolong bawa polisi yang bukan daerah sini ke SMA Mentari. Dan satu lagi, cariin info tentang Angkasa Altezza."
"Oke."
😯😯😯
"Angkasanya mana?" tanya Dion tanpa berniat menolong Alya yang masih merapikan dirinya.
"Kabur," jawab Dini.
"Oh."
"Sesuai rencana sih. Jadi, apa yang abang tahu tentang dia?"
Dion berbalik, mengajak mereka untung meninggalkan taman belakang sekolah. Memasuki salah satu kelas dan duduk dengan tenang.
Soal polisi? Ah, Dion sudah memerintahkan mereka untuk pulang. Mereka sudah tidak dibutuhkan lagi, kan? Hanya sebagai pengecoh.
Setelah duduk, Dion mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dia lalu menyerahkan itu kepada Alya.
"Anak spesial. Kesayangan yang punya ini sekolah, Rossa Meliana," ujar Dion sambil menguap. "Ah ngantuk gue!"
Alya terkekeh melihat tingkah abangnya itu. Dia kembali membaca kertas yang ada di tangannya, membaca dengan seksama dan mengulang-ulang yang dibacanya. Dia tidak akan melewatkan satu hal pun.
"Jadi, Bu Rossa sekongkol sama Angkasa?" tanya Alya yang hanya dijawab anggukan oleh Dion.
Dion menumpukan tangannya di meja dan meletakkan kepalanya. Jika tidak ada yang bersuara, dia mungkin akan terlelap.
"Jadi Bu Rossa selama ini jahat?" pekik Dini. Dini terkejut, hidungnya bahkan saat ini kembang kempis.
Dion mengacungkan jempolnya. Dia terlalu malas hanya untuk sekadar mengangguk.
Alya terdiam. Dia masih memikirkan banyak hal, mencoba memahami pikiran Angkasa. Jika dia paham apa yang dipikirkan Angkasa, mungkin dia akan langsung tahu Angkasa pergi kemana.
Rumah Arya?
Alya menggeleng.
Rumahnya sendiri?
Tidak mungkin.
Apartemen?
Alya memukul kepalanya karena hanya bisa berpikir pendek.
Rumah Bu Rossa?
Ah, iya!
"Kita berangkat!" seru Alya semangat.
"Ogah, gue mau tidur!" Dion memejamkan matanya.
"Ayo, Kak!" Dini menarik Dion tanpa peduli akan sumpah serapah yang Dion keluarkan.
😯😯😯
"Maaf, Bu. Angkasa gagal lagi," ujar Angkasa kepada wanita berkacamata yang menemaninya dari dulu.
Bu Rossa tersenyum, dia mengusap-usap kepala Angkasa sayang. Dia menatap Arya yang juga tengah menatapnya, kemudian dia juga tersenyum kepada Arya.
Bu Rossa menaikkan kacamatanya. Dia menghela napas lelah. "Yang penting kalian berdua selamat."
Angkasa mendongak, dia menatap mata Bu Rossa yang sudah menemaninya selama ini. Kemudian dia memeluk Bu Rossa dengan erat. "Angkasa janji akan segera ngabisin dia, Bu."
"Ibu tahu," balas Bu Rossa masih mengusap kepala Angkasa. "Sekarang kita susun rencana dulu. Kalian malam ini tidur di sini aja, lebih aman. Ibu enggak mau kalian kenapa-napa. Kalian berharga banget buat ibu."
"Tanpa kalian ibu enggak bisa ngelakuin hobi ibu, apalagi tanpa kamu, Angkasa!" batinnya.
Angkasa menurut. Dia dan Arya akan menginap di sini atau tinggal di sini beberapa hari. Keadaan mereka memang sedang genting. Ini kali pertama mereka mengalami hal sesulit ini.
"Ar, udah hubungi orangtua lu?"
Arya hanya mengangguk lemas. "Gue udah nyoba hubungi dari tadi, tapi nomornya enggak aktif-aktif. Kenapa sih disaat penting gini tuh manusia enggak berguna!" makinya.
Angkasa diam. Tidak menimpali ucapan dan makian Arya. Dia tahu sahabatnya itu saat ini sedang sangat kesal.
"Apa mungkin mereka udah ke rumah Arya?" gumam Angkasa.
"Ha? Apa Sa?" tanya Arya yang mendengar namanya disebut oleh Angkasa.
Angkasa menggelengkan kepalanya. Dia kembali berpikir. Mencoba mencari cara agar dia bisa kembali ke kehidupannya sebagai seorang playboy yang santai.
Akhirnya Angkasa hanya mengacak-acak rambutnya, dia frustrasi karena tidak bisa memikirkan jalan keluarnya. Dia terus memaki nama ibunya di dalam pikirannya. Mencoba menghilangkan rasa kesalnya, Angkasa berjalan ke arah dapur dan membuat cokelat hangat. Saat ini jam menunjukkan pukul 3 pagi, dan dia dan Arya belum juga terlelap. Bu Rossa sudah memasuki kamarnya dari jam 10 tadi.
Begitu cokelatnya selesai, Angkasa segera menuju ke ruang keluarga, tempat dia dan Arya berbincang. Ketika kembali dia hanya mendapati Arya yang sudah terlelap di atas sofa panjang. Angkasa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menatap dua gelas yang dibawanya, ya mungkin dia harus meminum 2 gelas coklat panas dini hari.
Sembari meminum cokelatnya, Angkasa kembali melamun. Memikirkan bagaimana caranya dia bisa terlepas dari semua ini. Jika ingin jujur, dia juga lelah menjadi seperti ini, tetapi laki-laki selalu menepati janjinya, dan dia sudah berjanji akan menjadi Angkasa yang kejam kepada Bu Rossa. Lagi pula seluruh hidup Angkasa sudah diserahkannya kepada Bu Rossa. Orang yang sudah merawatnya dari dia kecil, dan satu-satunya wanita yang dia akui keberadaannya.
Walau pun, Angkasa hampir mengakui keberadaan Alya. Bukan hampir, dia bahkan sudah mengakuinya.
"Ah, hujan lagi," ujar Angkasa.
Dia beranjak, bermaksud untuk mengintip keadaan luar yang sedang hujan melalui jendela.
"Eh, Alya? Sialan!" umpatnya.
Dia langsung menutup kembali jendela yang dibukanya.
Sekarang, dia harus apa?
😯Angkasa😯
Ekekek.
Apasii ini apasii.
Aku juga gatau ini apaa😭
Sa ini apa woyyy😭😭
Yaa ini apaaa😭
Menuju ending.
>>>
KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa ✓
Novela Juvenil[Completed] Sebelumnya, Angkasa selalu peduli terhadap wanita dan menjadikan wanita itu makhluk nomor satu yang harus dilindungi dan disayangi. Tetapi karena satu hal, Angkasa menjadi lelaki yang sangat suka menyakiti hati wanita dan membuatnya mena...
