"Bodo amat, pokoknya orang ganteng yang menang, bye!"
-Angkasa Altezza-
😡
Angkasa telah mengumpulkan orang-orang untuk menangkap dua hama yang sudah menyulitkan hidupnya. Ah, Angkasa berharap ini segera berakhir, dia sangat lelah belakangan ini.
"Kita berangkat."
Malas berbasa-basi, Angkasa langsung menuju ke motor besar kebanggaannya. Sebelum menghidupkan motornya, dia mengambil handphonenya dan mulai mengetikkan sesuatu. Setelah selesai, dia langsung memasukkan kembali handphonenya ke sakunya.
Menghidupkan motornya dan bergerak di depan layaknya seorang pemimpin.
"Jangan kerumunan, pisah! Ntar dikira geng motor!" teriak Arya lantang.
Mereka langsung menganggukkan kepalanya dan mengikuti interuksi dari Arya. Arya dan Angkasa adalah dua orang jenius yang harus mereka ikuti.
Beberapa menit kemudian, mereka menghentikan motor mereka. Mulai berjalan memasuki gang sempit dan kotor itu. Arya sesekali bergidik jijik. Ketika pulang, dia harus segera mandi menggunakan banyak sabun.
Berjalan dengan santai dan memerhatikan sekitarnya yang sangat sepi. Angkasa tersenyum miring, para wanita memang tolol, tidak tahu tempat bersembunyi yang baik, heh?
Akhirnya Angkasa melihat rumah kumuh yang diketahui sebagai tempat persembunyian dua mangsanya.
Tanpa diperintah, Arya berjalan menuju rumah itu dan mengetuk pintunya.
😡😡
Dini meremas jarinya, dia mulai merasa gugup. Dia takut dia akan gagal. Dia takut dia akan mati di sini.
Dini menggelengkan kepalanya. Kenapa dia bisa takut jika dia mati di sini? Misinya adalah melindungi Alya, tidak apa dia mati selama Alya baik-baik saja. Dini melihat Alya yang terlihat sangat santai.
"Dini, kira-kira Shiro saya sembunyiin di mana, ya?"
Dini menggelengkan kepalanya, tidak mengerti kenapa di saat seperti ini Alya masih memikirkan kucing kecil itu.
"Letak di belakang," jawab Dini ragu-ragu.
Alya menghela napasnya, dia bingung akan meletakkan Shiro di mana. Shiro itu berharga, Alya harus menyembunyikannya dari Angkasa. Bisa-bisa nanti Angkasa membunuh Shiro.
Saat akan kembali bertanya, Alya bisa mendengar banyak suara deru motor yang berdatangan. Alya mengacak-acak rambutnya. Walaupun ini sesuai dengan dugaannya, tidak dipungkiri bahwa dia mulai merasa, takut.
"Shiro, kamu jaga diri ya. Nanti, kalau pintunya udah dibuka, kamu pelan-pelan lari, oke?" Alya tidak tahu Shiro mengerti atau tidak dengan kata-katanya. Saat ini Alya juga sedang menenangkan dirinya. Dia harus tenang dan tetap berpikiran jernih.
"Sebentar lagi mereka sampai.."
Tok tok
Belum selesai Alya menyelesaikan perkataannya, pintu sudah diketuk.
Ah, Alya memeluk Dini yang terlihat sangat ketakutan. Alya menenangkan Dini dengan tersenyum manis.
"Jangan takut mbak, santai aja. Kalau kita mati ya berarti udah takdir, waktu kita di dunia udah habis, simpel."
"Simpel pale lu!" Ingin sekali Dini berteriak seperti itu sembari memukul kepala Alya seperti biasanya. Tetapi suara ketukan pintu membuat Dini mengurungkan niatnya.
Mereka berdua berjalan dengan santai dan membuka pintu.
Saat ini, mereka akan menyerahkan diri. Melihat tipe Angkasa, mereka tidak akan langsung dibunuh, ya, semoga.
😡😡
Alya membuka pintu, disusul Dini di belakangnya. Alya menatap Angkasa dan tersenyum manis.
"Hai, pacar!" sapa Alya riang. Tidak salah kan? Alya dan Angkasa memang belum putus.
Angkasa balas tersenyum manis yang terlihat sangat menyeramkan.
"Gimana?" tanya Angkasa.
"Gimana apanya?" Alya menaikkan satu alisnya.
"Udah sembunyinya?"
Alya mengangkat bahunya. "Harusnya belum sih kalau belum ketahuan," ujar Alya sambil terkekeh kecil.
Dini menatap Angkasa tajam. Dia mengamati sekitarnya. Ah, Angkasa benar-benar berengsek. Hanya untuk membawa mereka berdua saja Angkasa sampai membawa pasukan sebanyak ini.
Eh?
Sekolah sepi, dong? Angkasa benar-benar spesial ya?
"Mau jalan sendiri atau harus diseret?" Arya menyilangkan tangannya di depan dada dan menatap Alya tajam.
"Jalan aja mas, masih bisa jalan, kok." Alya menarik tangan Dini, berjalan keluar dari gang sempit itu tanpa berniat melarikan diri sedikit pun. Lagi pula bagaimana caranya melarikan diri? Di belakang mereka ada sekitar 8 orang, di depannya juga ada orang. Angkasa benar-benar tidak ingin mereka melarikan diri lagi. Alya diam-diam tersenyum senang.
Tanpa siapa pun menyadarinya, ada hewan yang tengah mengendap-endap keluar. Menatap majikannya sebentar, lalu berjalan pergi.
😡Angkasa😡
😘😘😘😘😘😘😘😘😚😚😚😚😚😚😗😗😗😗😗😗
DABEL KILL☺️
CELAMAT PAGEHH
Maap kalo ada typo😚 udah ah, bye😘
>>>
KAMU SEDANG MEMBACA
Angkasa ✓
Подростковая литература[Completed] Sebelumnya, Angkasa selalu peduli terhadap wanita dan menjadikan wanita itu makhluk nomor satu yang harus dilindungi dan disayangi. Tetapi karena satu hal, Angkasa menjadi lelaki yang sangat suka menyakiti hati wanita dan membuatnya mena...
