11. Coming in real

1.2K 208 66
                                    

"Halo, Na."

"Na? O-oh, iya. Ha-halo." gue tersenyum canggung. Di sini gue merasa masih gak nyangka. Bener-bener gak nyangka bisa ketemu lagi sama cowok yang gue temui tempo hari lalu. Masih sama, dia yang punya wajah dingin itu. Dia yang punya senyum manis itu. Dan, suaranya yang persis di mimpi gue. Suara yang selalu berbisik.

"Erga?"

Gue gak bodoh buat gak tau namanya siapa. Gue juga udah pernah cerita tentang bayangan cowok di langit-langit kamar gue. Dan, bayangan itu adalah wujud dari cowok yang berdiri di hadapan gue saag ini. Dari tatapan matanya gue udah tahu, apalagi namanya. Walaupun pembicaraan dia waktu itu terpotong karena Mama, tapi gue gak menyangkal kalau bayangan itu adalah dia.

And, his name is Erga.

Di dunia yang serba modern seperti sekarang, gue masih gak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Terasa mustahil ketika dia selalu berbisik bahkan muncul dalam wujud bayangan bukan secara nyata. Terlalu mustahil ketika dia selalu ngelarang gue, selalu ngasih perintah ke gue, terutama buat menjauh dari Arga.

"Kamu tau namaku?" tanyanya dengan nada heran.

Dia keliatan bingung setelah gue nyebut namanya. Gue kira reaksinya dia bakal kayak yang, "ini aku yang selama ini kamu cari." tapi di luar ekspetasi, dia malah kaget waktu gue tahu namanya. Bukannya dia sendiri yang ngasih tahu ke gue, ya?

"Iya, tau. Kamu yang di kamarku waktu itu kan?" tanya gue pelan nan ragu. Takut kalau semua yang gue ucapin itu salah.

Raut wajahnya makin memperlihatkan kalau dia terkejut. Kaget pakai banget. Loh? Ini gimana, sih? Masa iya dia lupa kalau dia sendiri yang selalu ngedatengin gue?

"Di kamar?" Erga memberi jeda. "Eng, bukannya kita ketemu baru satu kali? Di koridor waktu itu, terus dua kali sama yang sekarang."

Dan, di sini giliran gue yang kaget. Jadi, selama ini apa? Cuma bercandaan? Cuma lelucon? Gue mikir keras buat itu semua.

Tapi, terserahlah. Ada tamu bukannya disuruh duduk malah langsung gue introgasi kayak gini. Maka dari itu, gue nyuruh dia buat duduk dulu. Nanyainnya nanti lagi aja. Nyari waktu yang lebih tepat. Biar semua jelas gak ada yang salah paham.

"Gimana? Masih sakit?" tanyanya memulai pembicaraan setelah beberapa saat dilanda keheningan.

Gue berusaha mungkin biar gak kontak mata sama dia. Rasanya gimana gitu. "Mendingan."

Gue bergerak gelisah. Ini kak Rosa lama banget. Gue gak tahan sama keadaan kayak gini. Gue gak kenal deket, ketemu secara langsung juga baru dua kali ini. Yang lainnya gak tahu. Gue jadi ragu kalau semua yang gue laluin dan berhubungan sama dia itu cuma ulah dari makhluk sialan.

"Mau duduk?" tanyanya lagi. Dia kayaknya peka sama gelagat gue yang keliatan gak nyaman sama posisi gue sekarang. Mau duduk agak gimana gitu, mau tiduran kayak gak sopan banget ada tamu malah gini.

Dengan segenap keberanian akhirnya gue berani natap dia. Kedua mata yang jernih, bola mata yang hitam legam. Seakan ngasih sirat ketenangan di sana.

"Iya. Tapi masih kerasa sakit kalo duduk."

"Mau ditinggiin bednya aja?"

Gue mengangguk pelan. "Oke. Gak masalah."

Dia mulai memutar alat yang ada di kasur gue, yang bikin kasur bagian kepala gue ini terangkat. Posisi gue sekarang udah setengah duduk, tapi gue masih nempel sama kasur. Gue naikin selimut sampai dada. Entah kenapa rasanya dingin.

The Invisible Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang