Gue udah pulang. Udah di rumah, udah di kamar gue sendiri, gak di kamar rumah sakit lagi. Waktu itu habis dari taman gue pingsan. Karena apa, ya? Karena mungkin kondisi gue emang belum stabil ditambah keluar malem walaupun cuma di taman rumah sakit.
Dan, sekarang ini gue bener-bener dijaga bahkan gak boleh keluar rumah. Keluar kamar aja boro-boro, apalagi keluar rumah. Pokoknya kalau pengen apa-apa tinggal minta.
Seperti apa yang dikatakan Mama, "kalo pengen apa aja tinggal teriak. Tuh, babu udah siap." Mama bilang gitu sambil nunjuk kak Jef. Dan, yang ditunjuk cuma melengos malas sambil mendengus.
Juga, tentang kejadian di rumah sakit yang menurut gue beruntun banyaknya, sedikit demi sedikit gue mencoba lupa walaupun dalam hati memberontak supaya cepat mengungkap ini semua. Ya, emang harus. Tapi, gue belum siap. Belum siap semisal apa yang dikasih tahu Erga itu beneran nyata adanya. Gue gak siap, bahkan gak bakal siap melepas Arga yang udah gue pertahanin selama ini.
Bertahun-tahun dan itu gak mudah.
Oh, iya. Ngomong-ngomong tentang Erga, semenjak dia ngelihat gue sama Arga di taman waktu itu, dia udah gak muncul lagi. Dalam mimpi enggak, bisikan juga udah enggak. Sama sekali gak ada tanda-tanda kehidupan dari dia.
Jujur aja, gue emang ngerasa sedikit kehilangan. Dia kan udah lama sama gue walaupun keseringan ketemu di mimpi. Kayak ada yang kurang gitu, tapi ya udah. Gue berpikiran kalau dia gak muncul lagi, berarti kabar tentang Arga itu cuma bohongan.
Semoga aja.
"Dek, ada Arga."
Gue menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka, di sana ada kak Jef. Gue mengangguk buat meresponnya. Kemudian kakak membuka pintu lebar-lebar dan jalan menjauh meninggalkan kamar gue.
"Masuk aja, Hanna di kamar." itu yang gue denger begitu kakak udah di lantai bawah. Selanjutnya gak ada respon apa-apa lagi, mungkin Arga udah jalan ke kamar gue.
Siapa lagi coba cowok yang dibolehin masuk kamar gue kecuali Papa, kakak, sama Arga? Gak ada.
"Hannaaa?" seperti biasa, Arga selalu memanggil gue dengan nada yang dibuat-buat. Suara yang pasti selalu bikin gue senyam-senyum.
Gue terkekeh pelan. "Apaan? Sini masuk." suruh gue sambil melambaikan tangan guna menyuruh dia mendekat.
Arga jalan ke arah ranjang gue, dia duduk di pinggiran kasur sambil megang kaki gue yang tertutup selimut. Kaki gue dipijat pelan.
"Badanmu gimana? Udah enakan?" tanyanya.
"Udah. Kamu tuh udah banyak kali tanya kayak gitu."
"Ya, kali aja masih sakit." Arga menghela napas terus menyamankan posisi dan lebih fokus memijat kaki gue. "Aku takut kamu kenapa-napa. Kan, aku juga yang nusuk."
Ah, ini lagi. Padahal sebelum pulang dari rumah sakit, gue sama Arga udah janji buat gak membahas hal ini. Maksudnya, dibiarin aja gak usah diinget-inget. Buat apa? Ujung-ujungnya Arga makin merasa bersalah dan gue gak suka itu.
Arga mengerucutkan bibirnya. "Bentar lagi kita lulus, loh."
"Kayak anak SMA aja."
"Ya, kan lulus. Hampir semua kelar. Kamu gak seneng emang?"
Gue memukul pelan tangannya. "Gila apa kalo aku gak seneng? Ya, senenglah. Ngebayangin aku nanti bisa buka apotek sendiri. Seneng banget pasti."
"He'em, aku nanti juga bisa kerja di rumah sakitnya dokter Chen. Bagus banget itu. Internasional basisnya. Siapa tau jadi ketua apoteker di sana? Hahaha, aamiin, Ya Tuhan."

KAMU SEDANG MEMBACA
The Invisible
Fanfiction[ Ft. Jeon Wonwoo ] Hanya cerita seputar kehidupan gue, tentang dia yang tak terlihat, and someone who's none other than the most important part of my life. 2019, nanalalunaa.