See?
Pesan gue cuman di baca doang sama Arga. Bodoh kalau sekarang gue makin gak sadar tentang ini semua. Tanpa dijelasin lebih detail pun gue yakin, bahkan makin yakin kalau Arga emang main di belakang gue.
Itu emang bener, nyata adanya. Dan gue gak bisa lari dari kenyataan ini. Gue gak bisa mengelak setiap detik kejadian yang akan gue lakuin hari ini.
Setelah gue tadi ngecek hp, gue jadi diem. Erga juga diem, gak ngomong sama sekali. Mungkin dia emang ngertiin perasaan gue, mungkin dia ingin gue lebih tenang, atau emang mungkin kalau dia gak mau menghibur maupun nenangin gue.
Tapi, kayaknya bohong deh kalau dia gak peduli sama perasaan gue sekarang ini. Soalnya dari tadi dia bolak-balik menoleh ke gue. Dia berulang kali ngelihatin gue walaupun cuma sebentar. Entah buat mastiin gue nangis apa enggak, yang jelas gue emang gak nangis.
Ya, buat apa? Emangnya kalau gue nangis bisa merubah apa yang udah terjadi dalam sekejap? Jawabannya jelas enggak. Gak bakal merubah satu pun yang udah terjadi.
Kenapa gak nangis? Udah ya, udah cukup hati gue meronta-ronta dan menjerit kesakitan. Udah cukup hati gue serasa disayat, bahkan ini lebih sakit daripada saat kejadian gue ditusuk waktu itu.
Pokoknya cukup. Gue gak mau mata gue ikutan sakit, gue gak mau nanti pas ketemu dia mata gue keliatan merah, sembab, ataupun sipit gara-gara nangis terus. Gue gak mau kelihatan lemah di depan dia. Gue mau tetep menampilkan senyum bahagia gue di depan dia, walaupun emang gak dapat dipungkiri kalau ini luar biasa sakitnya.
"Na?"
"..."
"Hanna."
"Y-ya?" jawab gue terbata, karena gue emang gak begitu fokus sama Erga. "Kenapa?"
Erga megang tangan kanan gue pakai tangan kirinya. "Liat ke belakang coba." titahnya lembut.
Tanpa membalasnya lagi, gue langsung lihat ke belakang. And, so damn. Ternyata di belakang gue ada Nana. Dia udah duduk manis di belakang. Dia senyum tapi keliatan habis nangis. Kenapa coba dia nangis? Harusnya kan yang nangis gue. Kebalik emang, dasar.
"Dia udah dari tadi, Ga?" tanya gue ke Erga.
Erga mengangguk.
"Kok kamu gak bilang?"
"Kamu bengong." katanya. "Aku gak berani ganggu kamu dulu."
"Oh." gue membeo. "Dia gak bilang apa-apa ke kamu?"
Erga gak jawab. Dia cuma senyum manis sambil mengendikkan dagunya ke arah belakang. Mengisyaratkan ke gue supaya gue aja yang komunikasi sama Nana.
Dengan tangan kanan yang masih digenggam Erga, juga gue yang membalas genggamannya. Gue berani buat komunikasi sama Nana. Karena, oke, gue akui, gue jujur kalau gue takut banget. Ini rasa takut gue bener-bener takut yang setakut-takutnya. Bukan takut sama Nana, tapi kalian taulah apa yang gue maksud.
"Na." gue mulai manggil dia, yang pasti tetap memakai suara batin. Dengan posisi yang agak menghadap ke belakang, sama posisi tempat duduk gue yang direndahin sama Erga biar gue lebih nyaman.
"Hanna, maafin aku." ujarnya sesal. Dii langsung ke inti ternyata. Dan, dia mulai nangis.
Oke, perasaan gue makin gak karuan. Makin sakit, makin perih, makin tergores. Tapi, gue tetep senyum. Gue gak ikutan nangis. Pokoknya jangan sampai nangis. Gue ini kuat.
"Aku tau." ucap gue berusaha menenangkan. "Aku tau apa yang kamu maksud."
Gue bingung mau ngejelasin ataupun menggambarkan Nana kayak gimana lagi. Soalnya dia beneran nangis, bahkan dia menyodorkan telapak tangan kanannya dengan maksud supaya gue menggenggam tangannya juga.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Invisible
Fanfiction[ Ft. Jeon Wonwoo ] Hanya cerita seputar kehidupan gue, tentang dia yang tak terlihat, and someone who's none other than the most important part of my life. 2019, nanalalunaa.