22. Warm hugs

1.1K 183 30
                                    

"Hanna."

"..."

"Na?"

"..."

"Jangan ngelamun."

"..."

"Naㅡ" kalimatnya tertahan, laki-laki di samping gue menghela napas. "Ya udah. Sini, peluk."

Tanpa sepatah kata lagi, gue langsung berhambur ke pelukan laki-laki di samping gue ini. Bukan maksud gak denger atau apa sewaktu dia manggil, cuman gue males aja buat nanggepin.

Rasanya capek gitu. Paham, kan? Kayak, semuanya tuh udah berhenti gitu sampai di sini, udah gak ada lagi yang harus diperjuangin. Emang kaca yang udah pecah bisa disatuin? Nggak, kan? Sekalipun bisa, juga gak bakalan kembali seperti semula.

Sama seperti gue sekarang. Mau jungker balik, mau nangis sampai satu dunia denger pun rasanya juga sia-sia. Emang Arga bakalan balik lagi ke gue? Nggak. Dia udah punya tanggung jawab yang besar, dan gak bisa dia tinggalin gitu aja.

Ini gak segampang dan gak semudah kayak putus nyambung cintanya anak muda zaman sekarang. Ini udah sampai menyangkut tanggung jawabnya dia sebagai seseorang yang penting dalam kehidupan kecil barunya.

Ini udah gak main-main lagi. Ini udah serius.

Udah, intinya gue sakit, hancur, rapuh, patah. Gak tau lagi mau pakai kata maupun kalimat kayak gimana supaya kalian tahu persis perasaan gue sekarang.

Yang jelas, i'm not doing very well, i'm so bad.

Sambil mengusap rambut gue, cowok yang tengah gue senderin ini bilang, "kamu udah ngelakuin hal yang bener. Kamu kuat, buktinya kamu tetep senyum walaupun hatimu hancur. Aku bangga."

Gue mengangguk dalam pelukannya, lebih tepatnya gue senderan di dada. Melemaskan segala otot dan anggota tubuh yang sedari tadi gue paksain supaya kokoh disaat hati udah mengibarkan bendera putih, menyerah.

Dan entah kesambet angin dari mana, kenangan gue sama Arga mendadak kembali terputar. Gue cuman ngelamun, sambil perlahan netesin air mata. Capek nangis, tapi mau gimana lagi? Cuman ini yang bisa gue lakuin sekarang.

Di menit berikutnya, isak tangis yang gue tahan sedari tadi akhirnya keluar. Gue benci kelihatan lemah begini, tapi gue akui ini sakitnya luar biasa.

"Aku salut sama kamu." kata Erga perlahan sambil tetep mengusap gue supaya lebih tenang. "Kamu perempuan kuat yang aku temui setelah Mama. Aku tau, hatimu hancur. Ya, kan?"

Sebuah anggukan singkat menjadi respon gue.

"Nggak papa, itu hal wajar. Kamu ngerasa sakit terus nangis kayak gini itu wajar. Yang nggak wajar, kalau kamu cuma diem terus gak ambil pusing semuanya. Itu artinya, hatimu udah mati." Erga tersenyum. Kemudian dia berbisik di telinga gue. "Kamu tegar, kamu kuat. Kamu gak usah ngerasa lemah, itu kan yang kamu pikirin dari tadi? Kamu benci keliatan lemah."

"Hm."

Erga terkekeh merdu. "Tenang, aku gak bakal mandang kamu gitu. Aku gak bakal memojokkan kamu. Coba dibandingin cewek lain, pasti kan mereka udah teriak marah-marah ke cowoknya."

"Dih." respon gue sambil nahan ingus supaya gak meler kemana-mana. "Receh, dasar manusia."

Ajaibnya perlahan tangisan gue berhenti. Erga emang mood banget.

"Pegel." gue mengerucutkan bibir. "Udah, ah. Gak mau senderan lagㅡ"

"Eh." sela Erga cepat, sambil narik badan gue buat senderan lagi di tubuhnya. "Zenderan gini aja."

The Invisible Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang