11. Curahan Hati

1.5K 280 42
                                        

Hola!

P.s. gue tau book ini lama banget update, jadi bagi kalian yang gak mau digantungin, bisa baca pas bulan Juli. Insyaallah udah selesai :D

***

Jungkook menghela napas setelah selesai menyiram tanaman di taman belakang gereja. Peluh sudah membanjiri tubuhnya yang hanya dibalut oleh kaos putih tipis tanpa lengan. Sejak tadi Jungkook sudah membersihkan seluruh halaman, mulai dari menyapu, memindahkan beberapa pot besar berisi tanaman, juga menanam kembali beberapa tanaman yang mati. Ini hari terakhirnya berada di tempat ini, tentu saja ia harus memastikan semua sudah beres saat ia pergi nanti. Mana mungkin Jungkook menyuruh ibunya atau bahkan para biarawati yang ada di sini untuk melakukan pekerjaan berat.

Jungkook menyingkirkan selang yang tadi ia gunakan untuk menyiram.

"Jungkook,"

Jungkook menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Ia tersenyum lebar saat menyadari bahwa itu adalh ibunya. "Oh, Ibu! Kenapa kemari? Urusan di panti asuhan sudah selesai?" katanya dengan diiringi senyuman.

Ibunya mengangguk. "Kau sudah menyiapkan barang-barangmu? Ingat jika kau harus kembali ke Seoul siang ini, kan?"

Jungkook mengangguk. "Aku sudah menyiapkan semuanya semalam," jawabnya. "Tapi, apakah ibu akan baik-baik saja di sini? Meninggalkan ibu lebih cepat membuat hatiku terasa tidak tenang."

"Aku akan baik-baik saja. Rumahku di sini, jika kau ingat."

Jungkook mengulum bibirnya dan bergumam oh, benar juga.

"Setelah sampai sana aku akan mengikuti ujian, Ibu. Aku berjanji akan lulus dengan baik."

"Hm." Setelah itu, ibunya kembali berjalan meninggalkannya.

Jungkook menggigit pipi bagian dalamnya. "Ibu!" panggilannya membuat sang ibu menghentikan langkah. "Bisakah sekali saja kau memberiku kata-kata penyemangat? Aku akan ujian, Ibu. Biasanya setiap ibu akan menyemangati anaknya, atau setidaknya berkata, semangat untuk ujianmu, semoga kau meraih nilai terbaik, atau semoga kau lulus dengan baik dan menjadi orang besar di masa depan. Kata-kata semacam itu. Ibu tidak pernah mengatakannya padaku."

Ibunya tidak langsung menjawab. Kemudian, setelah satu helaan panjang, Jungkook mendengar ibunya berkata, "Jangan berusaha terlalu keras, Jungkook. Kau akan tetap menjadi putraku walau tidak masuk kelas unggulan itu. Menyerahlah pada janjimu untuk gadis itu. Sekuat apapun kau berusaha untuknya, gadis itu tidak akan menatap padamu. Dia tidak akan menganggapmu. Dia akan berpaling darimu. Karena itu, menyerahlah."

Jungkook tersenyum miring dan mendengus. "Wah, itu bahkan tidak terdengar seperti kata-kata penyemangat sama sekali," ujarnya. "Apa ibu benar-benar tidak pernah menginginkanku untuk sukses? Aku ini anakmu, Ibu. Aku putramu satu-satunya. Mengapa kau yang adalah ibuku justru selalu mematahkan mimpi dan semangatku?"

Ibunya tidak menjawab. Wanita paruh baya itu justru menginggalkan Jungkook begitu saja.

"Lagipula kapan aku terasa seperti putramu?" lirih Jungkook sembari melihat punggung ibunya yang semakin menjauh.

***

"Jungkook-ah,"

Panggilan itu membuat Jungkook memalingkan wajahnya ke arah suara. Sebagian diri Jungkook berharap bahwa itu adalah ibunya. Mungkin saja ibunya ingin meminta maaf atas perkataannya tadi atau mungkin saja ibunya akan menyemangatinya sedikit saja.

Namun, keinginan pemuda itu sirna saat melihat seorang biarawati yang berjalan ke arahnya dengan membawa sebotol minuman. Biarawati itu duduk di sebelah Jungkook dan memberikan botol minumannya pada Jungkook yang tengah istirahat. "Terima kasih, Bibi Liu," kata Jungkook sembari menerima botol minuman.

Me After YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang