01. Wait

6.6K 666 64
                                        

Sebuah komitmen adalah suatu hal serius yang berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Mengorbankan apapun mengenai diri bahkan perasaan untuk terikat di dalamnya. Semua hanya berputar pada kita yang siap atau tidak membangun sebuah ikatan sakral sehidup semati itu.

Pernikahan yang sempat tertunda beberapa menit tersebut telah berlangsung dengan sempurna, hanya keterkejutan diawal namun tetap dilaksanakan hingga usai. Heejin maupun Jungkook masih diam saja, karena memang mereka tidak tahu apa yang harus di obrolkan-Di bicarakan diantara mereka berdua.


"Wah ... Kau tau Heejin-ssi? Jungkook itu sangat menggemaskan jika tidur, kau akan tahu nanti. Aku saja sering mencubiti pipinya saat ia tidur."

"Hentikan hyung. Kau merusak reputasi baikku." jengah Jungkook mencoba membungkam mulut Kim Seokjin yang terus menerus menceritakan ini itu pada istrinya.

Sesaat Jungkook melirik Heejin dari ekor matanya, melihat gadis itu tertawa senang yang entah kenapa membuat Jungkook menorehkan segaris senyuman tipis. Ada apa dengan dirinya?

Hingga pesta pernikahan selesai dan mereka tiba di rumah, masing-masing diantaranya masih diam, atau sesekali berdehem singkat karena keadaan yang tidak nyaman.

"Sial! Kurasa ibu sengaja melakukannya." pekik lelaki Jeon itu saat mendapati hanya ada satu kamar utama di rumah ini. Dua kamar tamu di rubah ibunya menjadi ruang kerja dan studio musik.

"Tidak masalah jika kita sekamar, jangan kesal pada ibumu."

Heejin melangkah pelan sembari memegang gaun pernikahannya untuk menaiki tangga, menuju salah satu ruangan besar yang akan segera mereka tempati mulai sekarang. Gadis itu hanya tidak mau berpikir untuk tidur si sofa, karena sungguh, ia lelah dan butuh tidur nyenyak.

"Dia tidak masalah, lalu bagaimana denganku?"

Jungkook pun mengekor Heejin yang telah memasuki kamar, mendapati ruangan tersebut kosong dan suara percikan air yang Jungkook dengar membuat spekulasi jika Heejin berada di kamar mandi.

Sedangkan Jungkook, lelaki itu berdecak sebal saat pandangannya terpatri diatas ranjang, melangkah mendekat dengan cepat lalu membuang kelopak mawar yang bertaburan di atas nya.

"Aku harus menghubungi ibu dan memarahinya."

Clack!

Pintu kamar mandi terbuka, dan di saat itu pula Jungkook berusaha mati-matian mengalihkan pandangannya. Heejin terlihat segar dengan kemeja putih kebesaran ditubuhnya, hotpants yang melilit kaki jenjangnya, dan mengapa Jungkook melihat itu terlihat sexy?

Bahkan ketika Heejin sudah berada di depannya, Jungkook masih diam. Gadis Jung itu sendiri bingung mengapa Jungkook terlihat linglung.

"Jeon Jungkook?"

"Ya?"

"Cepat mandi, aku menunggumu." mendengar kalimat tersebut membuat pikiran Jungkook berpencar, mengapa Heejin berkata seperti itu? Bukankah terlalu ambigu?

Tidak ingin terus menerus berkelana dalam fantasi, Jungkook segera melangkahkan kaki menuju kamar mandi, membasuh tubuh lelahnya dengan air hangat yang ternyata telah disiapkan Heejin.

Bahkan setelah ia menyelesaikan kegiatannya, Jungkook mendapati Heejin tengah bersandar di kepala ranjang denga buku di tangannya. Bisakah Jungkook menyimpulkan pemikiran di kepalanya itu benar? Kenapa ia jadi gugup sendiri?

"Kenapa tidak tidur dulu?" pertanyaan tersebut memecah keheningan.

Jungkook mendekati ranjang, merebahkan dirinya dan sesekali berdehem pelan. Antara berdebar dan gemetar. Ini pertama kali untuknya, apa yang harus ia lakukan?

"Sebenarnya, aku tidak bisa tidur jika tidak memegang rambut seseorang."

"Ha? Ti-tidak bisa tidur?" pertanyaan itu diangguki Heejin, bahkan gadis itu mengerucutkan bibirnya-Seolah tidak bisa berbuat apa-apa pada kebiasaannya itu.

Jung Heejin lebih tua satu tahun dari Jungkook, namun wajah gadis itu, tingkah gadis itu, entah kenapa membuat Jungkook gemas. Perasaan sedikit kesal yang ia alami tadi-Karena ekspetasinya yang salah besar itu-Seolah hilang saat melihat Heejin mengumpati kebiasaanya sendiri.

Jungkook terkekeh sesaat, sebelum memiringkan badannya untuk menghadap Heejin.

"Lalu, selama ini, kau memegang rambut siapa?" Jungkook masih terkekeh, bahkan melebarkan senyumannya saat melihat Heejin kesal.

"Jangan mengejekku. Jika tidak mau tidak masalah, aku tidak memaksa." Heejin bersiap membalikkan badan namun ditahan oleh Jungkook.

"Tidak-tidak. Jika kau ingin memegang rambutku atau yang lainnya, silahkan saja, tidak perlu meminta ijin. Semua ini punya mu." ujar Jungkook sembari menunjuk seluruh badannya.

Melihat respon Jungkook yang terkesan blak-blakan tersebut membuat gadis Jung itu membeku, ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

"A-apa maksudmu dengan 'atau yang lainnya?' aku hanya ingin memegang rambutmu."

"Rambut yang kau maksud mana dulu? Rambut kan banyak."

Heejin sepontan terbatuk, lelaki ini polos atau tidak tahu malu sebenarnya? Dasar bocah. Kenapa juga ia harus menikahi Jungkook?-Walaupun sebenarnya ia tidak peduli harus menikahi siapa, mereka sama saja.

"Sudahlah, lupakan. Anggap aku tidak meminta apapun."

Ujaran Heejin tersebut tidak mengurungkan niat Jungkook untuk mendaratkan tangan gadis itu diatas kepalanya, membuat gerakan seolah Heejin tengah mengelus kepala Jungkook. Lelaki itu memejam sembari meletakkan salah satu tangannya di bawah kepala-Masih menghadap Heejin yang tengah menatapnya.

"Bisa kau pegang rambutku? Aku tidak bisa tidur jika tidak ada yang mengelusnya."

Heejin berdecak, namun setelahnya ikut memejamkan mata sembari tangannya sibuk mengelus kepala Jungkook.

Selang beberapa menit berlalu, hingga gerakan tangan Heejin tak lagi dirasakan oleh Jungkook, lelaki itu membuka mata. Memandang Heejin dalam diam-Sesekali mengulas senyuman.

"Tidak buruk mengenalmu, kurasa akan menyenangkan. Si brandal itu merugi meninggalkan semua ini."

TO BE CONTINUE


***

Don't forget to push the star by ✨🌻
- rin 🦋

HYPIUMTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang