Part 6 Telpon

14.5K 916 15
                                        


Sepulang dari Bandung Adiba tidur-tiduran saja di kasur empuknya. Badannya lelah sekali. membayangkan pernikahan Eva membuatnya baper.

"Diba" panggil uminya.

Rani membuka pintu kamar Adiba dilihatnya putrinya masih tidur dibalik selimut.

"Diba, nggak ke kampus ya ? Kok masih tiduran" tanya Rani.

"Nggak mi, pagi ini dosennya kebetulan nggak ada. Nanti agak siang baru ada kelas" jawab Adiba malas.

"Bangun nak, umi mau bicara" Rani menarik tangan Adiba agar duduk.

"Apa sih mi?" dengan malas Adiba duduk menghadap Rani.

"Diba, sewaktu kamu di Bandung, tante Shofiyah telpon dan bilang kalau Ghifari langsung mau melamar kamu, dia kesini nanti nggak usah ta'aruf lagi. Katanya minggu ini Ghi pulang, gimana kamu setuju nggak?" tanya Rina.

Adiba yang belum loading masih bengong dan mencerna kata-kata uminya.

"Apa mi? langsung lamaran?" tanya Adiba kaget setelah loading.

"Iya, karena Ghi susah untuk pulang. Makanya ketika dia bisa pulang langsung lamaran aja, kalian juga kan udah tau satu sama lain" jawab uminya.

"Hmm kalau emang itu yang terbaik, Diba ikut aja deh" ujar Adiba pasrah.

"Eh..tapi mi setelah lamaran jarak akad nikahnya berapa bulan?" sambung Adiba.

"Nanti dibicarakan lagi ya mengingat jarak kalian berjauhan. Udah bangun sarapan sana" perintah uminya.

----------

Sejak pertemuan mereka diakad nikah Dzaki dan Eva. Ghifari semakin yakin bahwa Adibalah jodohnya. Rasa yang mulai tumbuh di hatinya coba ia tepis karena mereka belum halal. Ghifari merasa malu pada dirinya sendiri karena selalu terbayang wajah Adiba yang belum halal baginya. Makanya dia meminta kedua orang tuanya agar proses mereka dipercepat. Ghifari menginginkan dua minggu setelah lamaran mereka menikah walaupun akad saja. Resepsinya kan bisa ditunda. Karena memang berat merasakan cinta dalam diam.

"Kalau soal itu umi dan abi setuju saja Ghi, tapi bagaimana dengan Adiba. Apa tidak terlalu cepat. Coba kamu tanya Adiba bagaimana pendapatnya"

Ghifari mengingat saran uminya setelah mengutarakan keinginannya.
Ghifari menatap ponsel di tangannya dan mencari nomor kontak Adiba yang sudah disavenya semalam. Setelah acara resepsi Dzaki, Ghifari segera pulang ke Palembang.
Ghifari memberanikan diri untuk menghubungi Adiba. Lama panggilan darinya belum dijawab Adiba. Mungkin Adiba belum menyimpan nomor kontaknya makanya belum dijawab. Tak lama terdengar suara Adiba di ponsel Ghifari.

[Assalamualaikum] sapa Adiba.

[Waalaikumsalam] balas Ghifari.

[Afwan ini siapa ya? Ada perlu apa?] tanya Adiba karena yang menelpon nomor tidak dikenalnya.

[Adiba ini saya Ghifari] jawab Ghifari sambil mengatur ritme jantungnya yang berdegup kencang.

Lama Adiba terdiam diseberang setelah tahu bahwa yang menelponnya adalah Ghifari. Jantungnya pun berdetak kencang.

[Halo..]sapa Ghifari menyadari keheningan diantara mereka.

[Eh..iya mas. Ada apa?] tanya Adiba lagi kaget karena terdiam.

[Ada yang mau mas tanyakan. Soal lamaran itu kamu setuju?]

[Iya mas Insya Allah Diba setuju, Diba ikut mas aja]

[Ikut kemana?] canda Ghifari.

[Ikut pendapat mas lah] jawab Adiba gemes. Ghifari tertawa kecil.

[Diba..kamu setuju nggak kalau acara akad nikahnya dua minggu setelah lamaran?]

[Ngg... apa nggak terlalu cepat mas persiapannya?]

[Diba, sejujurnya setelah melihatmu di akad nikah Eva, wajahmu selalu terbayang mas takut bertambah dosa, karena kamu belum halal bagi mas. Makanya mas tidak mau menunda-nunda lamaran karena waktu mas untuk pulang juga susah. Kita akad nikah saja dulu, resepsinya kan bisa kapan saja sebulan atau dua bulan setelah akad. Saat itu mas udah sidang dan punya banyak waktu untuk pulang] jelas Ghifari panjang lebar.

Sejujurnya aku juga merasakan hal yang sama mas. Batin Adiba.

[Adiba] panggil Ghifari karena belum ada respon dari Adiba.

[I..iya mas. Terserah mas aja, Diba setuju aja] balas Adiba.

[Alhamdulillah kalau begitu. Nanti mas sampaikan kesepakatan kita berdua dengan orang tua mas. Assalamualaikum] tutup Ghifari.

[Waalaikumsalam]

Adiba termenung melihat ponselnya sudah tidak ada suara Ghifari lagi. Mimpi apa dia semalam tiba-tiba ditelpon Ghifari.

"Apa dia bilang tadi, mas Ghifari selalu terbayang wajahku" batin Adiba tersenyum, pipinya memerah mengingat kata-kata Ghifari barusan.

Hati Adiba berbunga-bunga setelah mendapat telpon dari Ghifari. Yah memang lebih cepat dihalalin deh daripada berdosa saling memikirkan satu sama lain.

Continue

Cintaku LDR-an (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang