Ghifari akhirnya menghubungi mertuanya. "Assalamualaikum" sapa Ghifari.
"Waalaikumsalam. Ghi apa kabar nak?" tanya Rina terkejut mendapat telpon dari menantunya. Rina masih di rumah sakit menjaga Adiba yang sedang tertidur.
"Umi, Adiba baik-baik saja kan? Kenapa aku hubungi nggak diangkat-angkat ya mi?" tanya Ghifari heran.
"Mmm Ghi sebenarnya..."
"Sebenarnya ada apa mi?" potong Ghifari.
"Ghi, sehari setelah kamu pulang ke Bandung Adiba diopname" jawab Rina.
"Innalillah...Adiba sakit apa mi? Kenapa tidak ada yang memberitahuku mi?" tanya Ghifari terkejut mendapat kabar istrinya diopname sementara dia tidak tahu sama sekali.
"Umi dan umi kamu sebenarnya mau memberitahumu, tapi Adiba bersih keras agar tidak memberitahumu katanya kamu mau sidang skripsi jadi dia tidak mau mengganggu konsentrasi mu kalau mendengar kabar dia sakit" jawab Rina.
Ghifari mengusap wajahnya."Bagaimana keadaan Diba sekarang, Mi?"
"Kemarin udah agak baikan tapi semalam badannya panas, Adiba demam jadi dokter belum menyuruhnya pulang. Dia lagi tidur, Ghi" jawab Rina lagi.
"Ya udah, Mi. Aku mau mencari tiket penerbangan siang ini semoga bisa pulang. Assalamualaikum" Ghifari memutus telponnya.
"Waalaikumsalam. Semoga kamu bisa pulang, Nak" gumam Rina sambil menatap putrinya.
-------------
Ghifari tiba di rumah sakit menjelang maghrib. Setelah mampir ke rumah orang tuanya menaruh kopernya. Ghifari sholat maghrib di masjid rumah sakit kemudian baru menuju kamar inap Adiba.
"Assalamualaikum" Ghifari membuka pintu kamar.
"Waalaikumsalam. Ghi, udah sampai, ya" Rina tersenyum bahagia melihat menantunya sudah tiba di kamar inap Adiba. Ghifari mencium tangan mertuanya.
"Ghi, umi mau sholat maghrib dulu, ya, sekalian mau minta jemput abi pulang" ujar Rina kepada menantunya.
"Iya, Mi. Umi istirahat saja, biar aku yang menjaga Adiba" ucap Ghifari.
Setelah Rina menutup pintu kamar, Ghifari kemudian duduk di samping Adiba yang masih terpejam. Dia menggenggam tangan hangat Adiba. Suhu badan Adiba ternyata masih tinggi.
"Mas ..." gumam Adiba dengan mata masih terpejam. Adiba mengigau. Ghifari menatap sendu wajah Adiba yang berada di hadapannya.
"Mas ... jangan pergi" ucap Adiba lagi.
Adiba masih mengigau, sudut matanya mengeluarkan airmata. Hati Ghifari merasa terenyuh melihat Adiba mengigau. Dialah yang menyebabkan Adiba sakit. Ghifari menggenggam tangan Adiba dan menciuminya sambil menghapus airmata yang mengalir di sudut mata Adiba.
"Diba, ini Mas" bisik Ghifari "Mas sudah pulang" lanjutnya.
"Eung..."
Adiba mencoba membuka matanya. Dia seperti mendengar suara suaminya. "Ah, mungkin hanya mimpiku saja" batin Adiba. Bukankah yang menjaganya seharian uminya. Tapi samar-samar bayangan wajah suaminya terlihat sedang duduk di sampingnya.
"Mas..." panggil Adiba tidak percaya melihat Ghifari berada di dekatnya. Ghifari tersenyum menatap wajah Adiba.
"Diba nggak mimpi, kan?" tanya Adiba tidak percaya. Ghifari menggeleng.
"Iya, ini Mas" jawab Ghifari tersenyum.
Adiba baru menyadari bahwa tangannya masih dalam genggaman suaminya itu, artinya memang dia tidak sedang bermimpi. Suaminya nyata berada di dekatnya.
Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Cintaku LDR-an (END)
General FictionMenikah tapi masih kuliah?? Why not?? Adiba Maharani menerima tawaran menikah dari orang tuanya meskipun dia dan calon suaminya masih kuliah. Jarak yang terpisah antara Palembang-Bandung setelah menikah tidak membuat salah satunya mengalah untuk mem...
