Selama kehamilan Adiba, Ghifari hanya pulang sebulan sekali. Dia tidak bisa lama meninggalkan usahanya yang semakin maju. Dia pun berencana akan membuka cabang untuk usaha kulinernya di Bandung. Perut Adiba semakin membesar, di kehamilannya yang ke tujuh bulan Adiba hampir menyelesaikan skripsinya. Dia ingin ketika melahirkan sudah terbebas dari sidang skripsi.
“Kok abi dede bulan ini nggak ngasih kabar kapan mau pulang” ucap Adiba sambil mengelus perut buncitnya.
Adiba merasakan perutnya bergerak. Adiba tersenyum melihat bayinya merespon ucapannya.
“Dede kangen abi ya? Sama, umi juga kangen abi” ucap Adiba lagi.
Tanpa dia sadari seseorang menutup matanya dari belakang. Adiba terkejut merasakan telapak tangan menutup matanya. Lalu orang itu memeluknya.
“Mas Ghi” tebak Adiba tersenyum setelah mencium aroma parfum di tubuh orang yang menutup matanya.
“Kok bisa ketahuan” Ghifari melepaskan tangannya. Adiba membalikkan badannya melihat Ghifari.
“Ya taulah suamiku sayang, wangi parfum mas itu nggak bisa bohongi Diba” ucap Adiba memencet gemas hidung mancung Ghifari. Ghifari terkekeh lalu memeluk Adiba.
“Aw..sakit mas” teriak Adiba.
“Afwan sayang lupa kalau perut kamu udah besar begini” ledek Ghifari.
“Ugh...yang bikin gede begini kan karena ulah mas juga” sungut Adiba.
“Eh...nggak bisa nyalahin mas dong, kamu juga mau kan” goda Ghifari mencubit kedua pipi Adiba.
“Ih mas ini kalau ngomong nggak mau kalah” Adiba membalas dengan mencubit pinggang Ghifari.
“Iya...iya mas nyerah deh” Ghifari tertawa menatap Adiba lalu berjongkok memeluk perut Adiba.
“Anak abi sehat ya. Pasti kangen sama abinya yang ganteng ini” Ghifari mencium perut Adiba.
“Alhamdulillah sehat abi. Dede kangen banget sama abi ganteng” sahut Adiba menirukan suara anak-anak. Ghifari tersenyum geli mendengar suara Adiba, dia lalu berdiri menatap Adiba.
“Uminya kangen juga kan?” tanya Ghifari memegang dagu Adiba
Adiba menautkan kedua tangannya ke leher Ghifari.
“Banget” jawab Adiba manja.
Ghifari mendekatkan wajahnya lalu mencium sekilas bibir Adiba.
“Aww..” jerit Adiba tiba-tiba.
“Kenapa?” tanya Ghifari cemas melihat Adiba meringgis kesakitan.
“Dedenya nendang mas, sakit” jawab Adiba mengelus perutnya.
“Hmm...dede tahu kali kalau abinya cium umi cuma sebentar” goda Ghifari memainkan matanya.
“Bisanya mas aja” Adiba tertawa kecil.
“Mas, mau lebih dari itu. Udah rindu berat nih” bisik Ghifari menggoda Adiba sambil mengendus leher Adiba.
“Masss. Mandi dulu gih atau makan sana. Nggak laper apa. Masa baru datang langsung minta jatah” gerutu Adiba mendorong pundak Ghifari.
“Sayang mas masih wangi begini”
Ghifari tidak mau kalah. Dia mengurung Adiba dengan kedua tangannya.
“Mas udah kenyang dengan melihatmu sayang” cumbu Ghifari.
Entah mengapa setiap melihat Adiba dengan perut yang semakin besar, dia terlihat begitu seksi di matanya.
“Mass...”
Adiba tidak dapat melanjutkan kalimatnya karena Ghifari sudah memagut bibirnya. Adiba pun tidak dapat menolak keinginan Ghifari yang sudah membara. Satu bulan dia menanti agar bisa memadu kasih dengan istrinya. Sungguh perjuangan yang sangat berat bagi Ghifari berjauhan dengan istrinya.
Continue
KAMU SEDANG MEMBACA
Cintaku LDR-an (END)
General FictionMenikah tapi masih kuliah?? Why not?? Adiba Maharani menerima tawaran menikah dari orang tuanya meskipun dia dan calon suaminya masih kuliah. Jarak yang terpisah antara Palembang-Bandung setelah menikah tidak membuat salah satunya mengalah untuk mem...
