Part 24 Kembali ke rumah

14.8K 785 3
                                        

Ghifari meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Kepalanya sakit memikirkan Adiba. Dia terduduk di sisi tempat tidur, pikirannya sudah tidak karuan sehingga suara ketukan pintu dari Adiba pun tidak digubrisnya.

Adiba memegang handel pintu karena sudah beberapa kali memanggil suaminya tidak ada jawaban dari dalam.

“Lho, kok tidak dikunci” gumam Adiba masuk ke dalam rumah. Adiba lalu menuju kamar mereka disana dia menemukan Ghifari.

“Mas” panggil Adiba merasa bersalah melihat keadaan suami sekarang tampak kacau. Ghifari mengangkat kepalanya melihat sumber suara.

“Diba”

“Maafin Diba, mas” ucap Adiba dengan suara bergetar hampir menangis. Ghifari berdiri dan langsung memeluk erat Adiba.

“Kamu dimana dua hari ini?” tanya Ghifari pelan tidak ada nada marah sedikitpun.

Adiba tambah merasa bersalah karena ternyata suaminya tidak marah sedikitpun dengannya.

“Di rumah teh Eva, mas” jawab Adiba membenamkan kepalanya di dada bidang Ghifari.

Adiba merasakan badan suaminya begitu hangat. Apa mas Ghifari sakit? Pikir Adiba. Adiba coba melepaskan pelukan suaminya, benar saja tangan dan kening suaminya panas setelah dia sentuh.

“Mas demam?” gumam Adiba.

“Nggak. Hanya sedikit pusing” elak Ghifari.

Adiba melepaskan pelukan Ghifari dan membaringkannya ke tempat tidur.

“Mas istirahat saja, Diba belikan obat ya” ujar Adiba. Ghifari memegang tangan Adiba menahannya agar tidak pergi.

“Nggak usah, kamu disini saja karena kamulah obatnya” tatap Ghifari sendu.

Hati Adiba begitu tersentuh, dalam keadaan begini masih saja suaminya ngegombal. Ghifari menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Adiba pun duduk di tepi ranjang menghadap Ghifari.

“Mas, Diba minta maaf udah pergi tanpa izin” ucap Adiba sekali lagi dengan tatapan sedih karena Ghifari belum menjawab kata maaf darinya. Ghifari lalu mengangguk.

“Mas, nggak marah?” tanya Adiba takut.

“Nggak, mas tahu kamu cemburu. Iya kan?” tanya Ghifari memastikan.

“Iya sangat cemburu” jawab Adiba jujur.

Ghifari menarik Adiba ke pelukannya, wajah mereka kini sangat dekat. Ghifari membelai pipi Adiba dengan jemarinya. Sentuhan itu membuat darah Adiba berdesir.

“Hanya satu wanita yang mas cintai, Adiba bidadariku” bisik Ghifari.

Adiba terpaku menatap Ghifari yang semakin mendekatkan wajahnya lalu memagut lembut bibirnya. Aktivitas intim mereka pun berlanjut dan Adiba pun menikmati setiap sentuhan Ghifari. Dia merasa beruntung karena Ghifari telah memilihnya menjadi bidadari surganya.

“Masss, bukannya kata mas tadi pusing. Kenapa bisa kebablasan begini” ucap Adiba manja di balik selimut yang menutupi tubuhnya.

“Kan sudah mas bilang, obatnya kamu” ujar Ghifari tersenyum.

Ya Allah senyuman itu, senyuman yang selalu ku rindukan. Batin Adiba.

“Mas, gombal deh” Adiba tidak percaya.

“Adiba. Jangan lakukan itu lagi. Kau hampir membuat mas gila” ujar Ghifari mengingatkan.

“Iya mas, maafin Diba yang masih bersikap kekanakan ini” Adiba memeluk erat Ghifari seperti memeluk bantal gulingnya.

Sungguh hanya engkaulah satu-satunya wanita yang mengisi relung hatiku, Adiba. Bisik hati Ghifari mengelus punggung Adiba.

Continue

Cintaku LDR-an (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang