Part 25 Morning Sickness

16.2K 771 8
                                        

Liburan Adiba di Bandung telah usai. Kini dia harus menjalani kehidupan LDR lagi dengan suaminya. Entah sampai kapan, Ghifari memintanya untuk cepat mengajukan judul skripsi agar setelah lulus kuliah Ghifari dapat memboyong Adiba ke Bandung. Padahal Adiba belum tahu rencana Ghifari untuk mengajaknya menetap disana.

“Hoek.Hoek.Hoek”

Adiba bolak-balik ke kamar mandi memuntahkan semua isi perutnya.

Sementara ponselnya dari tadi berbunyi terus. Siapa lagi yang menelpon kalau bukan Ghifari, suaminya.

“Ya Allah, kenapa perutku terasa mual sekali” gumam Adiba berbaring di tempat tidurnya.

Adiba memejamkan matanya menarik nafas dalam, tenggorokannya terasa pahit sekali. Dia lalu mengangkat ponselnya yang masih berbunyi.

[Mas] panggil Adiba lemah setelah membalas salam Ghifari.

[Kamu kenapa sayang, kok suaranya lemes begitu] tanya Ghifari heran tumben Adiba tidak semangat mengangkat telpon darinya.

[Nggak...Aku hoek...]

Adiba meletakkan ponselnya dan langsung berlari ke kamar mandi lagi.

“Hoek.Hoek.Hoek”

[Halo, sayang...]

Ghifari mendengar suara Adiba seperti sedang muntah karena tidak ada sahutan dari istrinya. Lama Ghifari menunggu Adiba agar berbicara lagi dengannya.

[Afwan mas] Adiba bicara lagi ditelpon.

[Kamu kenapa? Masuk angin ya...atau jangan-jangan?] Ghifari coba menebak.

[Jangan-jangan apa mas?] tanya Adiba penasaran.

[Sayang, jangan-jangan kamu lagi hamil] jawab Ghifari tersenyum darisana.

[Hamil?] gumam Adiba heran.

Dia mengingat-ingat kapan hari terakhir dia datang bulan. Ya Allah aku udah telat satu bulan. Batin Adiba. Dia lalu tersenyum bahagia.

[Adiba] panggil Ghifari.

[Mas, kayaknya aku udah telat satu bulan deh] ujar Adiba menyakinkan.

[Biar pasti kamu beli alat cek kehamilan atau periksa ke dokter aja] saran Ghifari.

[Iya mas nanti Diba beli tes pack di apotik aja]

[Cepat kabari mas ya] Ghifari tidak dapat menahan rasa penasarannya.

[Iya mas sayang] ucap Adiba manja.

[Love you]  ujar Ghifari bahagia.

[Love you too] balas Adiba tersenyum.

Adiba tidak kaget lagi mendengar kata-kata romantis suaminya. Jarak yang memisahkan membuat mereka terbiasa mengumbar kata-kata romantis di  telpon.

---------

Tanpa sepengetahuan uminya Adiba sudah kembali lagi ke kamarnya setelah membeli test pack di apotik dekat rumah orang tuanya. Adiba pun tidak sabaran untuk segera menggunakan alat itu. Sepuluh menit kemudian Adiba keluar dari kamar mandi dengan wajah bahagia. Dia tidak sabar untuk mengabari suaminya. Adiba segera menghubungi nomor kontak Ghifari hanya sekedar miscall. Seperti biasa Ghifarilah yang menelponnya balik karena suaminya itu telah membeli paket untuk menelpon selama sebulan.

[Gimana sayang, hasilnya positif?] tanya Ghifari tidak sabar.

[Alhamdulillah mas, positif] jawab Adiba tersenyum bahagia.

[Alhamdulillah, mas bahagia sekali kamu hamil] ungkap Ghifari.

[Diba juga bahagia bisa mengandung anak mas] balas Adiba sambil mengusap perutnya yang masih rata.

[Jangan lupa cek ke dokter biar tahu usia kandungannya] ingat Ghifari.

[Iya mas, nanti Diba minta temani umi]

Adiba merasa sangat bahagia dengan kehamilannya. Meskipun jarak mereka yang terpisah, semoga kandungannya baik-baik saja selama belum ada keputusan selanjutnya.

Continue

Cintaku LDR-an (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang