SUDAH DITERBITKAN OLEH ONE PEACH MEDIA
[Je Me SERIES 1] [SEBAGIAN CHAPTER BELUM DIREVISI]
WARNING 18+ YOUNG ADULT ROMANCE
TERDAPAT KATA-KATA KASAR, ADEGAN KEKERASAN DAN LAIN-LAIN
Berlian Melody, remaja umur enam belas tahun yang baru masuk SMA-tidak...
I'm constantly torn between'I don't need anyone' and 'hey you please fall in love with me'
••Kushandwizdom••
________________________________________
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Jakarta, 5Agustus 10.00 a.m
Sudah berapa lama sejak nama Jayden Wilder di sebut kak Brian? Aku kadang hanya tidak sengaja memikirkannya. Maksudku, ia sangat cocok menyandang nama itu, sesuai penggambaran dari apa yang telah kulihat beberapa waktu lalu.
Kau tahu? Padahal kami hanya bertatapan satu kali dalam rentan waktu beberapa detik, kemudian aku lebih dulu memutus kontak mata tersebut karena berdebar tidak karuan-mungkin karena takut-namun sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan tatapan mata itu. Sekali lagi aku tidak sengaja melamunkan tatapan mata Jayden Wilder ketika tidak menyadari ponsel dalam tasku bergetar.
Karina yang terusik melirikku sekilas, menyenggol lenganku pelan serta menggumamkan sesuatu-mengkode bunyi getaran di dalam tasku-di tengah pelajaran bahasa Indonesia saat ini. “Psssttt, hp lo geter,” bisiknya. Aku yang masih memperhatikan guru dengan tatapan menerawang karena melamun pun menoleh beberapa derajat-bahkan nyaris tidak terlihat menoleh-ke arah Karina.
“Hp lo,” bisiknya lagi sambil menunjuk tasku menggunakan pelototan matanya.
Paham bahasa Karina, perlahan aku menelusupkan tangan ke dalam tas untuk mengambil ponsel itu dengan satu tangan, lalu membaca notification yang masuk di instagramku di bawah bangku. Sebuah direct message dari kak Jordan!
From : Jordan Michelle To : Berlian Melody Sebenernya gue uda putus beberapa bulan lalu
Mataku terbelalak girang, mengatubkan bibir rapat - rapat agar tidak memekik. Setelah berhasil tenang, sambil menyenggol kaki sahabatku, aku berbisik. “Kar, baca nih.”