Chapter 28

4.6K 306 262
                                        

There's nobody in the world that knows me better than my sister
Tia Mowry
______________________________________

Jakarta, 16 Januari
15.05 p.m

"Jadi gitu kak," kataku sambil menyeruput bubur kepiting yang cocok dengan suasana hujan seraya menceritakan insident headset ulah Jayden pada kak Jameka.

Saat ini kami sedang nongkrong di smoking area Teras Dharmawangsa Restaurant. Bukan tanpa alasan kami memilih restaurant ini. Kak Jameka adalah vegetarian yang sangat pemilih, memperhatikan segala makanan yang tidak mengandung produk hewan, sedangkan di restaurant ini punya menu vegan bahkan kita juga dapat memilih menu gluten free. Jadi restaurant ini cocok untuknya.

Kak Jameka yang mendengarkan ceritaku manggut - manggut sambil merokok, membuang ampasnya yang sudah terbakar pada asbak di atas meja, lalu mengambil secangkir  Americano hangat dan meneguknya.

Sedangkan Jayden, ia sudah kembali ke basecamp karena ada balapan. Ceritanya ia meninggalkan balapan demi memenuhi permintaanku untuk menjemputku pulang sekolah tadi. Entah bagaimana kak Jameka bisa ikut dan ujung - ujungnya jadi girls day out seperti ini. Padahal tujuan utamaku ingin di jemput Jayden adalah agar bisa mengomelinya, tapi malah gagal total hanya gara - gara ia tersenyum. His smile is my weakness. I mean, all of him is my weakness.

"Kalo soal makalah akuntansi gampang Mel sayang, kebetulan gue lagi mulai kerja di perusahaan bokap dan pegang bagian keuangan, gue bisa ngajarin lo."

"Really?" Tanyaku senang, ternyata tidak sia - sia kami nongkrong.

"Iya, kapan sih di kumpulin?" Sekali lagi kak Jameka menghirup rokoknya.

"Minggu depan sih kak."

"Good, weekend kita belajar itu."

"Thank you so so so so much kak Jameka," ucapku kelewat senang, menyatukan jempol dan telunjuk membentuk hati seperti artis Korea, kuacungkan padanya.

"Ya tuhan, ada - ada aja," katanya sambil tersenyum di antara asap rokok yang keluar dari mulut dan hidungnya. "Btw, Makasih Mel."

"Huh?"

"Uda bikin Jay senyum lagi. Terakhir kali gue liat dia senyum tulus kek gitu waktu nyokap kami masih idup," terang kak Jameka dengan nada yang beda, seperti dalam dan mengena di hati. "Lo pasti uda diceritainlah sama Jay gimana kondisi keluarga kami. Kami ini anak - anak broken home yang kabur dari rumah mewah rasa neraka."

"Maaf kak sebelumnya, tapi Jayden waktu itu nggak cerita tentang kak Jameka, jadi gue nggak tau sama sekali, makanya dulu waktu pertama liat kakak, gue jadi... ya gitu deh." Ungkapku. Aku sudah pernah bilang bukan kalau dalam diri kak Jameka ini seperti ada sesuatu yang membuat kita nyaman untuk terus bercerita. Tapi kali ini aku akan membiarkan ia melanjutakn ceritanya.

"Salah gue juga Mel, waktu bokap kawin lagi dengan alibi mau kuliah ke Belanda, gue sebenernya kabur kesana ninggalin Jay gitu aja." Rokok yang dihisap kak Jameka tinggal sedikit, lalu ia mematikan benda itu sebelum lanjut bercerita.

"Gue baru tau dia di usir sama bokap setelah tahun baru kemaren pulang ke sini. Gue nyari si Jay kemana - mana, waktu itu nggak sengaja nguping istri bokap yang sekarang yang lagi ngomongin kalo abis nemuin si Jay di apartementnya dan bahas basecamp, gue langsung ke sana, begitu ketemu Jay karena saking kangen dan khawatir liat kondisinya gue meluk adek gue tanpa liat lo. Sorry." Kak Jameka berbisik dalam akhir kalimat, matanya berkaca - kaca. Aku jadi turut sedih.

Bad Boy in the MaskTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang