Chapter 39

4.1K 241 252
                                        

Happy reading everyone

Hope you like this story

Janga lupa tinggalkan jejak dengan vote dan komen

Tolong tandai juga kalo ada typo, harap maklum jarinya jempol semua

Muucih 💋

❤❤❤

I think I wanna marry you
by Bruno Mars

______________________________________

A happy man marries the women he loves;
a happier loves the women he married
Susan Douglas
______________________________________

Jakarta, 6 Juni
12.00 p.m.

Aku mulai menggiti kuku ketika jadwal penerimaan kelas akselerasi sebentar lagi akan di tempel di mading sekolah, terlebih saat ini sudah memasuki jam istirahat. Jam yang digunakan untuk menempel hasil tes.

"Tenang Mel, lo uda usaha maksimal," kata Karina mengelus punggungku agar tenang.

Bagaimana aku tidak gugup mengingat tidak banyak dari kelasku yang mendaftar kelas akselerasi, hanya aku, Bayu, Sasa, dan Umar Onta karena memang kelas itu hanya akan menerima sekitar tiga puluh siswa. Sedangkan siswa kelas sepuluh yang mendaftar jumlahnya kurang lebih seratus, itu artinya peluangku di terima sangatlah minim.

Debaran jantungku bertambah semakin cepat, gigitan kukuku semakin menjadi ketika Umar berlari dari koridor menuju kelas kami. Napasnya masih ngos - ngosan saat berdiri di depan white board.

"Guys, pengumuman kelas akselerasi uda di tempal di mading!" Seru Umar. Sontak saja aku berlari menuju mading yang sudah bejubel banyak siswa rebutan ingin melihat hasil tes mereka.

Aku mendesak, tidak peduli menyikut siapa hanya untuk membaca pengumuman itu. Karena kau tahu sendiri tinggiku hanya sejengkal, jika tinggiku dua meter tentu aku tidak akan bersusah payah menerobos kerumunan masa seperti ibu - ibu yang berburu diskon.

Aku menelusuri namaku, harusnya huruf awalan namaku tidak jauh, tapi karena letaknya tinggi aku harus berjinjit, mengurutnya dari huruf A sampai huruf B.

Balada...

Baskara...

Benjamin...

Benita...

Berlian Melody...

Napasku tertahan lalu melirik hasilnya. Lulus. Aku menutup mulut, membaca tulisan "lulus" berkali - kali lalu keluar kerumunan masa dan berteriak, "aaakkkkk aku lulusssss." Sambil berlari menuju kelas memeluk Karina.

"Kar gue lulus Kar," ucapku senang seraya lompat - lompat dalam pelukan Karina. Merasa sahabatku ini tidak seheboh biasanya ketika mendapat kabar baik, aku melepaskan pelukan dan melihat wajahnya, "Eh kok lo cemberut sih?"

Bad Boy in the MaskTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang