When the person tells you that you hurt them, you don't get to decide that you didn't
•Louise C.K.•
______________________________________
Jakarta, 14 Januari
09.07 a.m
"Oh wow, beneran dateng." Ucap seseorang.
Aku kenal suara ini. Bahkan sangat hafal. Aku hanya tidak ingin membenarkan indra pengelihatanku ketika melihatnya.
Untuk itu aku tetap melihat Jayden yang rahangnya mengeras, darah segar bercucuran di dahi serta mulutnya. Jaket kulit hitamnya juga terkena darah. Tatapan Jayden ke arah suara itu seperti ingin membunuh. Auranya menggelap berkali - kali lipat. Aku sampai takut, bergindik ngeri lalu mengikuti arah pandangannya. Dan ya, indra penglihatanku benar. Ada rasa kaget bercampur bingung dan tidak percaya, why must him?
"Sini Mel," katanya santai seperti sedang mengajakku ke taman bermain.
"Nggak mau?" Ia lalu menatap algojo - algojo itu, menjentikkan jarinya dan detik itu juga Jayden kembali di hajar. Apa aku punya pilihan lain selain mendekat ke arahnya?
"Stop!!! Gue ke situ!" Teriakku, mereka secara otomatis berhenti menghajar Jayden. "Kenapa lo ngelakuin ini?" Tanyaku polos membuatnya tertawa lepas.
"Lo masih inget gimana dia hajar gue di pesta Karina kan? Apa salahnya gue hajar balik, well, tiap perbuatan pasti dapet balesannya." Jawabannya enteng, memperagakan dengan tangan. Alisku masih berkerut tidak percaya ketika ia menjelaskan,"Well, bukan itu aja sih. Gue kecewa sama lo, semua orang tau lo deketin gue, bahkan gue juga uda mulai suka sama lo dan bela - belain ngelarin masalah gue sama Novem, tapi lo malah sama Jayden, kakak tiri gue?!" Bentaknya di akhir kalimat membuatku mundur selangkah. "You..." Ia menunjukku dan Jayden "Hurt me!" Anehnya lagi Jordan menambahkan senyum setelah mengatakan itu.
"Berarti urusan lo cuma sama gue! Kalo gitu lepasin Jayden!" Pekikku.
"Dengan senang hati, kalo lo mau having sex, maksud gue making love sama gue!"
"Bangsat!!" Brengsek!!" Teriakku dan Jayden hampir bersamaan. Bedanya Jayden langsung di pukuli.
"Stop!!" Teriakku membuat Jordan, maksudku si brengsek itu mengkode ke algojonya agar berhenti memukuli Jayden. Aku sudah mengepalkan tanganku marah.
"Bukannya itu tujuan lo kesini? Pake hot pants? Pengen godain gue? Lagian gue yakin lo uda pengalaman, apa lagi sama Jayden, so, apa masalahnya?" Tambahnya. Kali ini aku tidak bisa berdiam diri lagi saat si brengsek ini menghinaku. Jayden sudah mengumpat berkali - kali dan mendapatkan pukulan berkali - kali, maka dari itu rasakan ini!!!
Bugh
Pukulan tinjuku mendarat tepat di hidungnya, ia agak terpelanting ke belakang dan langsung mimisan lalu melihatku dengan tatapan murka.
"You slutty bitch!!" Makinya sambil memegangi hidungnya, mengkode penjaga pintu tadi untuk memegangi tanganku. Aku baru akan kabur tapi penjaga pintu dengan cepat dapat menangkapku.
"Lepasin gue brengsek!!" Teriakku sambil memberontak, meronta - ronta tapi percuma. Kekuatan penjaga itu tentu tidak sebanding dengan badan kecilku. Si brengsek itu terus mendekat ke arahku, berusaha mencium bibirku dengan tangannya yang memegang keras rahangku sampai sakit. Aku masih berusaha berontak, ketika ia sudah semakin dekat, kuludahi wajahnya. Ia bersingkut mundur.
"Hahaha, I like this girl!" Katanya seperti orang sinting, mengelap ludah di wajahnya dan mendekatiku lagi, kali ini aku mencoba menendang - nendang tapi nihil. Sedangkan Jayden berusaha menghajar tiga orang algojo di sekitarnya dengan brutal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy in the Mask
RomanceSUDAH DITERBITKAN OLEH ONE PEACH MEDIA [Je Me SERIES 1] [SEBAGIAN CHAPTER BELUM DIREVISI] WARNING 18+ YOUNG ADULT ROMANCE TERDAPAT KATA-KATA KASAR, ADEGAN KEKERASAN DAN LAIN-LAIN Berlian Melody, remaja umur enam belas tahun yang baru masuk SMA-tidak...
