There is no simple love stories
If it's simple, it's not love
If it's love, it'll get complicated
•TheLoveBit•
______________________________________
Jakarta, 9 Januari
11.05 p.m
Mengingat mommy aku jadi tidak kuat lagi, aku menangis sekencang - kencangnya.
Aku juga menjatuhkan semua paper bag yang kutenteng tadi guna mengusap air mata dengan tangan seperti anak kecil yang menangis minta di belikan balon.
Tiba - tiba Amanda mendekat dan berkata, "Brian, harusnya kamu jangan marahin Melody dulu, dia kan baru masuk rumah."
Sedang apa Amanda di sini tengah malam? Lalu di mana daddy? Dan aku tidak suka saat ia menyentuh lengan untuk menenangkanku. Amanda pasti sedang cari muka.
"Maaf tapi itu bukan urusan anda," ucap kak Brian. "Mel, masuk kamar!"
Kak Brian memanggil namaku. Itu artinya ia sedang sangat serius saat ini. Yang bisa kulakukan hanya pergi ke kamar sambil menangis dengan perasaan campur aduk tanpa memperdulikan paper bag yang berserakan di lantai.
Dalam kamar aku juga melihat ke cermin berusaha menghapus tanda laki - laki itu setelah membaca cara - cara menghilangkan kissmark di internet. Bodoh, kenapa tidak dari kemarin saja aku melakukannya. Rasanya setelah kejadian tadi pagi di depan apartement laki - laki itu, aku tidak sudi lagi melihat tanda - tandanya di seluruh leher dan dadaku. Mungkin saja ia juga menandai perempuan itu kan? Membayangkannya saja sanggup membuat air mataku keluar lagi, sedih sekaligus jijik.
Tok tok tok
"Dek, tolong bukain pintunya."
Itu suara kak Brian. Aku masih kecewa padanya yang berlebihan membentakku tadi.
Tok tok tok
"Dek, maaf dek, bukain pintunya."
Aku masih enggan menjawab, dengan kasar segera memakai baju tidur Spongebobku, berusaha menutupi tanda laki - laki itu yang belum berhasil kuhilangkan.
"Dek, gue minta maaf dek, gue nyesel bentak lo."
Kalimat yang sama di ucapkan kak Brian berulang - ulang hingga kupingku panas mendengarnya dan dengan perasaan malas aku mulai membukaan pintu. Aku masih sesenggukan, tapi tangisanku sudah tidak sekencang tadi.
"Mau apa?" Tanyaku ketus tanpa mempersilahkannya masuk.
"Boleh ngobrol di dalem?" Pintanya.
"Bilang aja mau apa?" Aku masih memakai nada yang sama.
"Gue minta maaf, sorry tadi kalap, gue cuma khawatir lo kenapa - kenapa, kalo lo pikir cuma lo yang depresi liat daddy bawa Amanda, lo salah, gue juga dek," jelasnya panjang lebar. Akhirnya aku membuang nafas berat dan membuka pintu sehingga kak Brian bisa masuk kamarku.
"Sorry dek. Gue paham apa yang lo rasain, tapi kasian daddy juga, yok coba kenalan sama Amanda dulu, lo nggak liat tadi dia belain lo?" Lanjutnya setelah duduk di kasurku.
Jika itu menyangkut daddy mungkin iya kakak bisa paham. Aku hanya berpikir mungkin saja kan Amanda sedang cari muka dengan cara membelaku seperti tadi? Bukannya ini kesempatannya untuk mendekati keluarga kami, mengambil hati kami agar luluh?
Kak Brian tidak tahu jika aku menangis bukan karena hal itu saja.
Tapi juga menyangkut laki - laki itu. Coba lihat hubungan kakakku dengan kak Bella! Selama ini lancar - lancar saja, baik - baik saja. Seperti dua orang yang saling kasmaran terus satu sama lain, membuatku iri. Sedangkan aku? Baru beberapa hari saja sudah begini. Bahkan sekarang pun aku tidak tahu sebutan apa yang cocok untuk hubunganku. Walau secara logika laki - laki itu masih pacarku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bad Boy in the Mask
RomanceSUDAH DITERBITKAN OLEH ONE PEACH MEDIA [Je Me SERIES 1] [SEBAGIAN CHAPTER BELUM DIREVISI] WARNING 18+ YOUNG ADULT ROMANCE TERDAPAT KATA-KATA KASAR, ADEGAN KEKERASAN DAN LAIN-LAIN Berlian Melody, remaja umur enam belas tahun yang baru masuk SMA-tidak...
