Empat belas

40 5 0
                                    

"Jangan hanya ingin dimengerti,cobalah untuk mengerti."

Happy reading...

****

Paginya, Mely bangun sangat pagi sekali. Senyuman di bibirnya tak pernah pudar,setelah bangun tidur ia langsung membasuh wajahnya kemudian sholat subuh. Setelah subuh baru lah ia mandi. Dari semalam moodnya mulai membaik karna pesan singkat dari pacar nya itu.

Kini, Mely tengah berada di ruang televisi,abangnya belum bangun karna ini masih jam 5 pagi. Sebuah keajaiban seorang Mely bangun jam 5 pagi.

Mely terus mengecek ponselnya berkali kali barang kali ada secarik pesan dari pacarnya itu. Pesan semalam pun hanya di baca oleh Ken. Tapi tidak apa,yang terpenting sekarang ia bisa melepas rindu bersama Ken.

"Seneng bat gue sumpah ini aduh" gumamnya kecil.

"Bisa melepas rindu ahay"

"Ken rindu juga ga ya?"

"Aduh ga sabar meluk pacal deh"

Begitulah celetukkan celetukkan yang di keluar kan oleh Mely. Mely senyam senyum sendiri membayangkan nya.

"Udah bangun lo? Tumben amat jam segini udah rapi?" suara berat seseorang dari arah belakang membuat ia mau tidak mau menoleh.

"Iyala kan mau berangkat bareng pacal" ucap Mely di manja manja kan.

Daffa menggeplak kepala Mely keras,dan itu membuat sang empunya mengaduh kesakitan, "abang ih sakit!" ucap Mely seraya mengusap kepalanya yang sakit itu.

"Bodoamat abisnya lo ngomong bikin gue jijik!" ujar Daffa mengejek.

"APALO BILANG?!"

"LO JELEK!"

"ANJIR KALO GUE JELEK BERARTI LO JUGA JELEK!"

"Gue ganteng kali. Buktinya banyak cewe cewe yang mau sama gue" ucap Daffa menyombongkan dirinya sembari menatap Mely dengan tatapan mengejek.

"IYA KARNA LO PINTER MAKANNYA BANYAK CEWEK YANG DEKETIN HAHAHAHA" Mely tertawa puas karna ucapan nya berhasil membuat abangnya diam membisu. Memang,Daffa itu pintar di sekolah nya. Ia selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya, berbeda dengan Mely,justru Mely mendapat peringkat 1 tapi dari belakang.

"Bangke! Gitu ya lo mah Mel" ujar Daffa seraya memanyunkan bibirnya.

Mely terkekeh, abangnya ini memang seperti ini bila di rumah. Sangat seperti anak kecil,namun bila di luar rumah abangnya ini sangat dewasa. Jadi tak heran banyak perempuan yang mendekati abangnya. Bukan hanya pintar,abangnya ini juga pintar masak. Jadi,masih kurang apa abang Mely ini?

"Berangkat sono,pacar lo udah di depan"

Mely melirik ke arah pintu,benar saja Ken sudah berada di depan padahal ini belum jam 6.

"Yaudah gue pamit dulu, assalamualaikum" ucap Mely seraya menyalimi tangan abangnya.

"Waalaikumsalam"

****

Saat keluar dari rumahnya, Mely sudah bisa melihat Ken sudah duduk manis di atas motor ninja kesayangan nya. Ken memasang raut muka datar dan dingin. Perlahan, Mely mendekati Ken.

Cinta Patah dan HatiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang