Part 9

702 24 0
                                        

Zayn memencet bel kamar Felix dan Ivi. Mereka yang sedang tertidur pun merasa terganggu.
"Ihh siapa sih malam-malam? Gak tahu apa orang istirahat?" gerutu Ivi
"Sudah kalau males gak usah dibukain hon.."
"Nanti pegawai hotel takutnya.."
"Yaudah deh yuk kita buka." mereka pun berjalan membuka pintu.
"Hai.. Sorry ganggu.." ucap Zayn dengan senyum tak berdosa.
"Ngapain lo malam-malam gini ganggu kita aja?!" ketus Felix
"Sans bro.. Kali ini gue serius pengen balikin tas Livia.. Nih.." ucapnya menyodorkan tas itu. Felix mengambilnya dan menyerahkan pada Ivi. Kemudian menarik Ivi berniat untuk menutup kembali pintu tanpa berterimakasih pada Zayn.
"Nih hon.. Hpnya ntar disedekahin aja ya sekalian tasnya juga soalnya tas dan hp kamu sudah gak steril lagi tuh." ucapnya menatap sinis Zayn.
"Iya hon sans.. Aku cuma mau ambil data-data aja di hp kok. Yuk.." ucap Ivi. Zayn panas mendegar ucapan mereka.
"Gak tahu terimakasih ya lo berdua!" ketusnya
"Kayak ada suara tapi gadak orangnya. Hon, aku takut. Ayo buruan masuk..." ajak Ivi pura-pura panik dan menarik tangan Felix.
Mereka menutup pintu dan ketawa dengan kencang dibalik pintu membuat Zayn kesal.
"Sialan!! Gagal lagi gue!" kesal Zayn dan balik ke kamarnya.

Sementara Ivi dan Felix sudah cekikikan di kamar mereka.
"Hahahah..."tawa mereka
"Honey honey.. Kamu lihat kan tadi muka si Zayn sudah merah padam? Hihih... Aku tadi sudah tahan tawa banget hihih..." ucap Ivi
"Lagian kamu ada-ada aja sih Hon.. Bisa banget manasi orang hahah..." ucap Felix
"Ya siapa suruh dia ganggu tidur kita. Syukurin..." ucap Ivi
"Hahah dasar kamu ya..." ucap Felix mencubit pipi Ivi.
"Duhh perut aku sakit ngetawain dia hahah..."
"Sudah honey sudah stop.. Perut aku juga sakit hahah..."
Mereka terus tertawa hingga kembali terlelap.

..........
Keesokkannya, Calvin menghubungi Felix melalui VC.
"Woi kak... Sudah di airport belum?" ucap Calvin.
"Ni, lagi otw. Masih di taxi kita..." ucap Felix sembari menunjukkan wajah Ivi juga di layar hp.
"Wiss mantap.. Kayaknya ntar lagi gue sudah punya ponakan nih.." candanya
"Bacot lo vin... "
"Hahahh kapan lagi kak lo kasih mama sama papa cucu?"
"Meneketehe... Sabarlah gile apa.."
"Doain donk vin..." sambung Ivi
"Of course kak ipar.."
"Thanks.. Doain juga supaya kakak kamu gak gila di laut mulu.. Yakali dia lebih sayang laut daripada aku.." sindir nya menatap sinis Felix
"Honey.... Sudah donk.." ucap Felix menatap Ivi.
"Iya kak kayaknya lo sudah harus pensiun dari laut deh. Gak kasihan apa lo sama istri lo?"
"Diam lo! Lo gak bakal paham.. Sudah ah gue tutup."
Felix menutup sambungan.
Ivi sedang asyik dengan handphone nya. Ia memindahkan beberapa file dari hp lamanya ke hp yang baru tanpa mempedulikan ekspresi Felix yang kesal.
"Relivia... "
"Hmm.." tanpa menatap lawan bicaranya.
"Lihat aku donk.."
"Aku lagi pindahi file di handphone honey.."
"Nanti di rumah kan bisa ..."
"Gak bisa.. Kalau sudah di rumah, sudah males."
"Ya Allah... Istri hamba lebih sayang handphone daripada hamba."
"Ya Allah.. Suami hamba lebih sayang laut dari pada hamba.." sindir Ivi balik. Kemudian mereka saling menatap.
"Kok kamu gitu?" tanya Felix
"Kamu duluan sih..."
"Terserah deh.." putus Felix dan menyandarkan tubuhnya di jok lalu memejamkan matanya.
"Gitu aja marah.. Yaudah bodo amat!" kesal Ivi dan kembali fokus pada file di hpnya. Mereka terus diam hingga tiba di bandara. Mereka berjalan sejajar tanpa berniat membuka obrolan layaknya tidak saling kenal. Mereka pun memasuki pesawat mereka setelah selesai diperiksa. Mereka duduk bersebelahan. Felix tetap bungkam. Ia memilih untuk tidur disepanjang perjalanan.
"Ngeselin banget sih jadi suami kok jutek banget.. Posesif lagi.. Au ah.." gerutu Ivi yang masih bisa didengar oleh Felix. Felix hanya tersenyum namun Ivi tidak mengetahui itu. Ivi pun ikut tidur.

......
Tadi malam, setelah menghabisi nyawa Sasha, Alfi memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Kini ia sudah berada di rumahnya. Alfi sedang menikmati sarapan bersama kedua orangtua nya dan adik perempuannya. Saat sedang makan, Alfi sempat melamun.
'Gimana caranya gue pisahin mereka ya? Kalau gue jelek-jelekin profesi si captain itu pasti gue kena juga karena gue juga sailor meskipun belum jadi captain. Gue harus gimana donk?' Batin Alfi
Keluarga Alfi menatap heran padanya yang melamun saat sarapan. Mereka saling memandang.
"Alfi.. Apa yang sedang kamu lamunkan?" tanya Rini, Ibu Alfi.
"Hmm gapapa bu.." ucapnya.
"Kalau kamu ada masalah dengan pekerjaan kamu, ceritakan pada ayah nak.. Ayah siap mendengarnya." ucap Rudi, ayah Alfi.
"Hmm... Tidak ada ayah.. I'm well.."
"Kak, nanti temeni aku ke rumah temen aku ya di komplek Asri?" ucap Shena, adik Alfi.
"Ngapain?" tanya Alfi
"Iya jadi beberapa minggu lalu dia nikah tapi aku gak bisa datang karena aku ada tugas ngajar di pedesaan. Jadi, hari ini dia pulang dari honey moon dan aku pengen ketemu dia. Anterin ya.." ucap Shena lembut.
"Oh... Ok." ucap Alfi singkat.

Relationship Between Captain And LecturerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang