Lira terkejut saat mendapatkan Nenek dan Sonya sudah berada di depan rumahnya. Dengan canggung Lira mempersilahkan tamu yang tidak pernah terpikirkan olehnya masuk kedalam. Tanpa disuruh Nenek sudah duduk di sofa dan menarik Sonya untuk duduk disampingnya, dan langsung memindai ruang tamu itu dengan jengah. Lira tetap berdiri didepan meraka.
"Nenek dan Sonya mau minum apa?"
"nggak usah, kami Cuma mampir sebentar lihat rumah kalian." Nenek mendecih.
"Beruntung sekali kamu diperistri cucu saya yang kaya raya. Dan kamu bisa mendapatkan rumah sebesar ini." Seru Nenek tidak suka dan membuat Lira bergedik tidak nyaman. Dihembuskan nafasnya panjang, ditatap Nenek ramah.
"Lira tidak pernah minta rumah yang sebesar ini kok Nek, Mas Leo yang cari sendiri." Seru Lira pelan. Nenek menatap Lira malas, diputar bola matanya dan menatap dengan sumringah kearah Sonya yang duduk disampingnya.
"kayaknya rumah ini akan pas untuk ditinggalin Leo dan Sonya deh, sangat ideal." Senyum Nenek merekah membayangkan hal itu. Sonya menatap tidak enak kearah Lira yang sudah menunduk. Sonya menyadari bila airmata Lira sudah membayang di pelupuk mata.
"Nek, mana bisa gitu. Kak Leokan sudah punya istri. Yakan Mbak Lira." Nenek mendengus pelan.
"tetap nenek maunya kamu jadi istri Leo. Bukan dia." Nenek terang-terangan mengatakan ketidaksukaanya. Entah karena memang sakit hati atau bawaan bayi yang baru dia kandung, airmata Lira sudah bergenang dimatanya, tinggal menunggu waktu untuk runtuh.
"sudah, ayo kita pulang Sonya." Sonya mengangguk pelan.
"bilang sama suami kamu, saya dan Sonya datang berkunjung." Lira menangguk dan terus menunduk menyembunyikan airmatanya. Setelah Nenek dan Sonya meninggalkan rumahnya, tubuh Lira meluruh kelantai dan airmata yang sedari tado di tahannya pecah dan menganak dipipinya.
"sakit Ya Allah." Lira menepuk-nepuk dadanya yang terasa nyeri.
"kuat Lira, kamu pasti kuat. Yakinlah suatu saat nanti, Nenek akan dapat menerimamu." Lira menghembuskan nafanya kasar dan menghapus airmatanya.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 wib, terdengar mobil Leo sudah terparkir di garasi. Lira segera berlari membuka pintu rumah. Leo tersenyum disambut pleh istri tercintanya. Lira langsung memeluknya erat saat baru saja Leo mengunci pintu garasi.
"kenapa sayang?" Lira menggelengkan kepalanya. Leo tersenyum sambil mengecup puncak kepala Lira lama.
"kangen kamu." Leo terkekeh melihat wajah Lira yang sudah merona. Diacak sayang rambut Lira. Lira semakin mengeratkan pelukannya.
"masuk yuk mas, tadi aku udah masak banyak buat mas. Mas pasti laparkan." Seru Lira sambil menengadakan wajahnya menatap Leo.
"oh ya?" Lira mengangguk. "mas tidak sabar untuk mencobanya sayang." Leo mengecup bibir Lira singkat.
Mereka masuk kedalam rumah dan langsung kekamar, Lira membiarkan Leo masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara dia menyiap makanan diatas meja. Tidak membutuhkan waktu lama Leo sudah turun dengan tampilan lebih segar, didekati istrinya dan melabuhkan kecupan manis di pelipis Lira. Lira tersenyum dan membimbing Leo untuk duduk dikursi.
"kamu mau lauk apa Mas?" Tanya Lira sambil menyendok nasi putih dipiring Leo.
"sayur sama ikan aja sayang." Lira segera mengansurkan lauk dan sayur dan segera diletakkan didepan Leo. Leo mulai menyendok suapannya dan menikmati masakan Lira. Lira duduk disamping Leo dan memperhatikan cara makan suaminya yang lahap itu. Leo memandang Lira dan mengernyitkan dahinya, melihat istrinya tidak ikut makan juga.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Police (End)
RomansaJadi istri seorang polisi? Sama sekali tidak pernah Lira bayangkan. Tapi apa boleh buat jika takdir harus menyatukan dia dalam mahligai rumah tangga dengan seorang polisi yang kadang arogan dan kadang bisa sangat manis. Lika liku rumah tangga. Ber...