Lira menggerakkan bahunya terkejut, saat tiba tiba tangan seseorang menjitak dahinya. Di tatap Laki laki di sampingnya itu dengan tajam. Dengan sigap dia mencubit perut laki laki itu cepat.
"Masih aja suka bengong," lirikan tajam Lira menghunus.
"Dasar mister bucin sok arogan. Kebiasaan ih, masih aja suka jitakin kepala orang." Leo tertawa dan menarik pinggang Lira, memeluknya erat. Leo hanya tersenyum dan mengecup pelipis Lira lama.
Hari ini anniversary pernikahan mereka yang kelima. Dan mereka mendapatkan tiket liburan dari Papa ke labuan bajo selama seminggu, sementara kedua jagoan mereka Ivan dan Ihan bersama Papa dan Mama dirumah. Hadiah itu di berikan pada Leo setelah pekerjaan yang menyita waktu hingga dua Minggu itu selesai. Pengejaran bandar narkoba terbesar di Ibu kota dan mengakibatkan dia hanya bisa bertemu Lira dan anak anaknya itu waktu sore hari aja.
Kedua pasangan muda itu terlihat menikmati hamparan pasir merah muda di depannya. Pulau itu masih sepi, hanya segelintir orang yang berlalu lalang di sekitar mereka. Tangan mereka tetap bertaut, menikmati keintiman yg beberapa waktu Ini seperti hilang karena kesibukan Leo dan kesibukan Lira mengurus kedua jagoan mereka itu, Lira seperti termonopoli Ihan dan Ivan. Untuk sekedar mengecup pipi istrinya saja Leo harus mendapatkan mata melotot menyeramkan dari kedua anaknya itu. Jika di ingat ingat, jagoannya itu sangat menggemaskan. Masih kecil saja sikap protektif papanya sudah terwarisi dengan baik pada keduanya.
Lira menyikut perut Leo pelan, Leo pun tersadar dari lamunannya dan menatap lembut Lira. Lira tersenyum.
"Udah disini sayang, kenapa masih bengong aja." Leo menarik pinggang Lira dan memeluknya erat.
"Mau gini terus, kita panjangin jadi sebulan yok disini sayang." Lira terkekeh pelan, di tepuk pipi Leo pelan.
"Yang ada kita akan di musuhin Ihan dan Ivan sayang, ini aja mereka udah setiap saat telfon."
"Hah, anak anakku. Sudah mengambil kamu sepenuhnya sayang."
"Cemburu sama anak sendiri ini ceritanya Mas?" Leo tertawa.
"Nggak dong sayang, Masak cemburu." Leo mengenggam tangan Lira dan mengajaknya kembali ke hotel. Hari sudah sangat gelap, dan adzan maghrib di telepon pintarnya pun sudah berbunyi.
Setelah bersih-bersih keduanya pun bersiap sholat berjamaah, Lira sudah menunggu Leo dengan Mukenahnya. Tidak lama Leo datang dengan kain sarung dan baju kokonya. Demi apapun Ketampanan Leo meningkat berkali lipat kalau sudah berpakaianya sholat seperti itu. Lira pun kadang masih suka menyembunyikan senyum malunya ketika tidak sengaja ketahuan tengah memandangi suaminya itu.
Leo pun segera memulai sholatnya dan dengan Lira sebagai makmumnya.
***
Lira menggeliat di dalam pelukan posesif Leo, setelah malam yang panjang itu. Lira harus mengaku kalah dengan gairah suaminya yg menggebu gebu. Memang, sudah hampir 2 bulan mereka tidak pernah seintim ini lagi. Jadi, tadi malam Leo seperti menuntaskan semua apa yang selama ini dia tahan.
Lira tersenyum melihat wajah tenang Leo. Jika sudah begini, Lira akan semakin jatuh cinta untuk kesekian kalinya. Di elus rambut Leo pelan dan di kecup pelan kening suaminya itu. Leo menggeliat, perlahan membuka matanya dan tersenyum melihat Lira yang tengah memandangnya intens.
"Pagi sayang."
"Pagi mas, bangun yuk. Aku laper." Lira mengambil Handphone di nakas dan terkejut melihat jam, 12.30 siang. Pantas saja perutnya sudah protes tidak karuan.
"Astaghfirullah mas. Udah jam segini, pantes aja aku laper banget." Leo tidak bergeming, dia malah semakin mempererat pelukan di pinggang Lira. Lira menepuk bahu Leo pelan.
" Mas, bangun ih. Aku beneran laper." Leo menghela nafas panjang dan segera bangun, setelah mencuri kecupan di bibir bengkak istrinya itu.
"Kamu tunggu disini, biar Mas yang pesan makanan. Kita hari ini di kamar aja ya sayang." Lira mengangguk. Benar sekali, kayaknya mereka harus stay di kamar hotel. Tubuhnya benar benar sangat lelah, kalau harus pergi jalan jalan lagi Lira benar benar gak sanggup. Kelakuan suaminya itu, yang membuat dia seperti ini.
***
Setelah makan yang sangat telat dan sudah beres membersihkan diri. Lira duduk terkulai di samping kolam renang. Entah kamar seperti apa yang Papanya pesan, sampai memiliki kolam renang pribadi seperti ini. Lira sih suka suka aja di beri fasilitas liburan selengkap ini.
Senyumnya merekah, Hijab birunya sesekali berkibar terkena angin sepoi sepoi tempat itu. Leo masih di ruang gym, walau lagi liburan olahraga tetap harus di lakukan. Biar tetap sehat, motto dadakan Suaminya itu membuat Lira terkekeh.
Lamunannya melayang, terhenti di kenangan saat awal mereka bertemu. Siapa yang sangka, jodoh akan ketemu dimana aja itu tepat sekali. Bahkan di situasi saat Lira hampir kena tilang dengan Leo karena salah jalur. Rentetan kejadian setelahnya pun mengalir di pikirannya, semua kenangan itu sangat manis jika di ingat. Walau di beberapa part tertentu tidak manis malah cenderung menyesakkan namun Lira selalu bersyukur, dia berhasil melewatinya dan bahagia saat ini.
Hempasan tubuh di sampingnya, menyudahi lamunan panjangnya. Lira tersenyum simpul menatap Leo yang sudah berbaring di samping dengan mata setengah terpejam.
"Udah olahraganya mas?" Leo mengangguk, di raih tangan Lira dan menggenggamnya erat. Lira menyandarkan kepalanya di bahu Leo, dan menikmati pijatan lembut di telapak tangannya.
"Besok kita udah pulang sayang, jadi hari ini kamu gak boleh jauh jauh dari Mas ya." Lira tergelak
"Iya mas bucin. Aku gak akan jauh jauh dari Mas kok."
"Pintar sayang. Cium dulu." Lira mengecup pelan pipi kiri Leo. Leo tertawa dan mengusap usap kepala Lira sayang.
Cinta, cinta, cinta
Satu kata yang selalu membuat penderitanya mengalami sakit dan bahagia karenanya. Saat manis, alangkah indahnya dunia yang tengah di rasakannya, namun jika pahit dunia terasa gelap dan suram.
Balik lagi, kita yang bisa mengendalika itu semua. Kamu memilih sakit karena cinta atau memilih bahagia karena cinta. Karena sakit dan bahagia itu sangat tipis perbedaanya, Cintai dirimu dulu baru kamu bisa mencintai orang lain.
Seperti mencintai suamiku ini, mister arogan namun bucin dan kadang menggemaskan. Dia istimewa dengan segala sikap dan sifat bawaannya. Dia yang memberiku rasa berbeda di setiap waktu yang kita lalui bersama. Tetap seperti itu sayang, aku bahagia memiliki kamu.
I love you
My Husband Police. Love ever after. ❤️❤️
***
Lira menyurukkan kepalanya di dada bidang Leo. Leo memeluk tubuh mungil istrinya dengan sayang. Di tengadahkan wajah Lira keatas, Leo menunduk dan tersenyum.
" I love you sayang, kemarin, hari ini, besok dan seterusnya." Ucap Lira Lirih.
"I love you too sayang. Selamanya." Di raih tengkuk Lira lembut dan melabuhkan ciuman panjang di bibir Istrinya itu.
Okeeew end
Happy forever.'AKHIRNYA, ALHAMDULILLAH. SELESAI JUGA HUTANG KU. INI CERITA HAMPIR TIGA TAHUN. AKHIRNYA NYAMPE PART AKHIR.
THANK YOU SO MUCH, BUAT YANG MAU BACA INI. AKU TERHARU LOH. SIAPA SANGKA KARYA BOBROK INI ADA AJA YANG BACA.
MAAFIN YANG SELALU AKU BUAT MENUNGGU.
MAKASIH BUAT YANG SETIA MENUNGGU.I LOVE YOU FULL POKOKNYA. '
BYE BYE
KETEMU DI CERITA SELANJUTNYA.
YOK BERKARYA YOK.
JANGAN HABISKAN WAKTU UNTUK HAL HAL YANG TIDAK BAIK.AKHIR KATA 'ALWAYS LOVE YOUR SELF'
SALAM
PENUH CINTA
DII 💗💗

KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Police (End)
RomanceJadi istri seorang polisi? Sama sekali tidak pernah Lira bayangkan. Tapi apa boleh buat jika takdir harus menyatukan dia dalam mahligai rumah tangga dengan seorang polisi yang kadang arogan dan kadang bisa sangat manis. Lika liku rumah tangga. Ber...