Leo dan Lira sudah sampai digedung resepsi mereka yang tidak jauh dari hotel yang mereka sewa. Lira sudah cantik dengan gaunnya, dan Leo terlihat semakin gagah dengan jas yang dipakainya, mereka duduk di backstage sambil berpegangan tangan. Lira tidak mau membuka obrolan sedikit pun, Lira masih kesal dengan perlakuan Leo tadi siang. Leo menyadarinya,
"kamu marah?"
"yah kamu pikir aja, siapa yang nggak marah. Kamu hobi banget ya main kasar, kita ini orang beragama. Ada hukumnya, bukan main terkam aja."
"iya, maaf sayang aku salah"
"iya aku maafin. Asal kamu jangan gitu lagi, selagi masih bisa diminta baik-baik ya jangan maksa." Leo tertawa.
"oke sayang" Leo tersenyum. Di kecup pelan punggung tangan Lintang. Tidak berapa lama, Mc resepsi pernikahan mereka memulai acara malam itu. Leo dan Lintang bersiap untuk keluar, dengan didampingi beberapa pendamping. Leo menggenggam erat tangan Lira dan keluar pelan-pelan dari belakang, musik slow mengiringi langkah mereka menuju pelaminan. Safira yang datang bersama dengan Doni langsung berlari ke pelaminan dan memeluk Lira,
"Lira, selamat ya. Kamu cantik banget malam ini, beneran deh."
"makasih Fira" Safira memandang kearah Leo.
"khusus buat kamu polisi Leo, jangan kamu sakiti teman aku ya. Jagain dia baik-baik oke, seharusnya kamu beruntung mendapatkan istri yang begitu special seperti lira. Kalau kamu sampai macam-macam sama teman aku, tangan aku sendiri yang bakal kasih pelajaran buat kamu." Leo tertawa.
"siap, kamu tenang saja Fira." Leo memberi hormat kearah Safira.
"duh Fira, kamu memang the best friend pokoknya. Thanks banget ya."
"itu biasa" seru Safira menyombongkan diri. Mereka tertawa berderai.
"ya sudah, aku sama Dony makan dulu yah, laper banget."
"oke, yang kenyang makannya Fira. Dony juga jangan malu-malu."
"nggak ada kata malu kalau soal makanan Lira. Maaf ya Leo Lira pacarku ini emang bawel. Happy wedding pokoknya" seru Dony. Lira tertawa,
"oke have un aja ya." Leo dan Lira tersenyum bahagia saat melihat banyaknya tamu undangan yang datang di resepsi pernikahan mereka. amira melambaikan tangannya ke arah kedua kakaknya dan berlari kearah mereka.
"pelan-pelan dek, kalau buntut baju kamu ke injak gimana?" seru Leo.
"nggak akan bang." Amira memeluk Lira erat.
"tau nggak mbak, mbak malam ini cantiknya kebangetan loh. Bang, abang itu sangat beruntung dapat mbak Lira yang jadi istri abang. Dia wanita yang sempurna banget."
"iya kamu benar dek, abang akui."
"dan mbak Lira, mbak kasian banget bisa dapat suami seseram abang Amira."
"kurang ajar kamu dek." Amira dan Lira tertawa.
"ya udah, Amira mau kesana dulu. Kayaknya ada temen Amira yang datang."
"temen atau pacar Amira?"
"mbak Lira tau aja, calon pacar tepatnya mbak. Ya udah Amira kesana dulu, dah"
Resepsi pernikahan Leo dan Lira terlihat sangat meriah dan seru, acara demi acara berjalan dengan mulus dan tidak ada gangguan sama sekali. Semua terlihat gembira dan menikmati rangkaian acara tersebut. Setelah bersalaman dengan semua tamu undangan, Lira terduduk di kursi pengantin sambil menggenggam tangan Leo erat. Leo mengikut saat Lira terduduk,
"aku capek banget, semua tamukan sudah bersalaman. Biarin aku isthirahat bentar ya Leo." Leo tersenyum masih digenggam tangan Lira erat.
"besok kita masih ada foto pra wedding." celetuk Leo mengingatkan. Lira menepuk jidatnya, pederitaannya belum usai juga.
"emang harus besok Leo, kamu nggak capek?" Leo duduk disamping Lira.
"aku Cuma dikasih cuti seminggu sayangku. Capek nggak capek ya mesti foto besok, akukan sengaja nggak pake pre wed. aku gabungin aja di prawednya, ini juga udah diminimalisir supaya beres semua. Kamu sabar ya, ini nggak akan lebih dari seminggu kok." Lira memanyunkan bibirnya kedepan, Leo hanya tersenyum.
Acara resepsi malam itu ditutup dengan pemotonga kue dan sedikit dansa ditengah-tengah para tamu yang datang. Setelah itu Lira benar-benar langsung masuk kedalam kamar dan membaringkan tubuh lelahnya ditempat tidur tanpa membuka wardrobe yang tengah dikenankan.
"ganti baju dulu sayang." Lira tidak menghiraukan ucapan Leo. Dia memejamkan matanya dan langsung tertidur pulas. Leo menggelengkan kepalanya, dia duduk disamping Lira dan membuka semua atribut yang dikenakan Lira dengan sabar. Dipandang lekat-lekat wajah istrinya itu dengan sayang, Leo tersenyum simpul. Diraih tangan Lira dan digenggamnya,
"maaf sayang, aku sudah membuat kamu seperti ini. Memaksa kamu untuk menikah denganku, terus membully kamu, maaf untuk semuanya. Tapi aku akan tetap sayang dan cinta sama kamu sampai kapanpun." dikecup kening Lira pelan, Leo pun berbaring disamping Lira dengan masih menggenggam tangan Lira erat.
***
TBC GUYS.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Police (End)
RomantizmJadi istri seorang polisi? Sama sekali tidak pernah Lira bayangkan. Tapi apa boleh buat jika takdir harus menyatukan dia dalam mahligai rumah tangga dengan seorang polisi yang kadang arogan dan kadang bisa sangat manis. Lika liku rumah tangga. Ber...