Leo terus menggenggam jemari mungil Lira dengan erat. Di depan sana, mereka menyaksikan Sonya yang menangis histeris di samping jenazah Ayahnya. Tepat 2 jam yang lalu mereka mendapat kabar yang cukup mengejutkan. Santoso meninggal dunia karena kecelakaan tunggal, sahabat Ayahnya itu termasuk orang terdekatnya. Walau perjodohan anak-anak mereka tidak berhasil Santoso masih sangat baik dengan Leo dan keluarganya. Kabar meninggalnya pun cukup membuat ayah Leo shock.
"Kasihan Sonya Mas." Bisik Lira sambil merapatkan tubuhnya di samping Leo. Leo hanya menatap istrinya itu sejenak sambil mengelus tangan istrinya sebentar.
Jenazah ayah Sonya pun segera di masukkan kedalam ambulan untuk segera di kebumikan. Ibu Sonya tidak pernah melepas pelukan dary tubuh. Anaknya yang sesekali masih terlihat histeris dan mencoba membuka kain kafan dari tubuh ayahnya itu.
Pemakaman pun tidak berlangsung lama, setelah di kebumikan orang-orang pun mulai meninggalkan pemakaman. Hanya tinggal keluarga inti dan sahabat dekat yang masih menemani kuburan merah itu.
Lira melepaskan genggaman tangannya dari lengan Leo dan berjalan menghampiri Sonya yang masih tersedu di pelukan ibunya.
"Mbak turut berduka cita Sonya. Semoga Allah SWT menempatkan ayah kamu di surganya." Seru Lira sambil menepuk bahu Sonya pelan. Sonya hanya menatap Lira sejenak dan mengangguk. Leo menghampiri Sonya dan menggandengnya.
"Kita pulang sekarang ya. Kamu belum bisa lama-lama di luar gini." Bisik Leo. Lira mengangguk. Leo dan Lira menghampiri keluarga dan bersama sama menuju parkiran mobil. Lira, Bunda dan Nenek masih menunggu Ayah dan Leo mengambil mobil di pinggir jalan saat tiba-tiba ada seseorang mendorong Lira kedepan dan hampir saja menabrak mobil yang lewat didepan mereka.
"Astagfirullah." Pekik Lira terkejut, dan dia tersungkur di pinggir jalan. Untung saja Lira sempat menahan tubuhnya agar tidak sampai jatuh terduduk. Bunda dan Nenek pun memekik terkejut dan segera membantu Lira berdiri. Lira menatap orang yang mendorongnya.
"Dasar wanita gak tau diri. Puas Lo sekarang, gue kehilangan ayah gue dan Lo merebut Leo dari gue. Lo memang perusak kebahagian gue Lira. Gue benci Lo." Lira hanya terdiam.
"Sonya, kamu gak baik begini sayang." Bujum ibu Sonya menenangkan.
"Perempuan itu yang mengambil Leo dari hidup Sonya ma. Dia yang menghancurkan mimpi Sonya untuk berumah tangga dengan Leo."
"Kamu tidak baik berbicara seperti itu sayang. Papa baru saja di kebumikan."
Leo yang baru datang langsung menghampiri Lira dan mengecek keadaan istrinya itu, setelah dirasa baik baik aja Leo menghampiri Sonya dengan emosi yang tertahan.
"Tidak ada yang merebut saya dari kamu Sonya. Justru saya yang memilih Lira menjadi istri saya saat ini san selamanya. Bukannya saya sudah menegaskan ke kamu jika kamu hanya saya anggap sebagai adik saya. Tidak lebih." Ucap Leo dingin.
"Kamu jahat kak. Kamu jahat. Seharusnya kakak menikah dengan ku bukan dengan perempuan itu."
"Perempuan yang kamu maksud itu adalah istri saya dan calon ibu dari anak saya. Kamu atau siapapun tidak berhak menggantikan dia di hidup saya. Saya tegaskan sekali lagi, jangan ganggu saya maupun keluarga saya. Kalau kamu masih berani menyenggol keluarga saya, saya akan memakai profesi saya untuk menghukum kamu." Sonya menatap Lira dengan tatapan bencinya. Ibu Sonya menarik Anaknya itu menjauh.
"Maafkan kelakuan anak Tante Leo. Tante pastikan Sonya tidak akan menggangu keluarga kalian lagi. Saran Tante, segera bawa Lira ke dokter. Dia sempat terjatuh saat Sonya mendorongnya."
"Jeng, maafkan anakku ya." Bunda mengganguk pelan dan tersenyum. Setelah itu ibu Sonya pun pergi sambil menarik paska anak gadisnya itu.
Leo segera menghampiri Lira lagi, dan segera membopongnya ke mobil dan ingin segera membawanya ke rumah sakit. Bunda dan Nenek langsung masuk kedalam mobil ayah dan mengikuti di belakang.
Lira menatap wajah Leo yang masih terlihat marah. Di genggam jemari suaminya itu dengan lembut. Leo menatap Lira sejenak.
"Kenapa sayang? Perut kamu gimana?"
"Aku gak papa mas. Tadi aku sempat menahan tubuhku kok, jadi tidak sampai jatuh terduduk."
"Maafkan mas sayang. Mas terlalu lama ninggalin kamu tadi."
"Gak mas. Ini bukan salah mas. Tidak ada yang menyangka kalau Sonya akan begitu kan. Mas tenang ya, insyaallah dia baik baik aja kok." Leo menarik tangan Lira dan mengecupnya lama.
"Mas akan laporin masalah ini. Ini tindakan kriminal sayang, kamu hampir tertabrak mobil tadi." Lira menggeleng.
"Jangan mas. Aku paham Sonya hanya merasa jalur saat ini. Dia pasti tidak sadar telah melakukan ini sama aku. Hatinya masih di liputi rasa marah dan sedih."
"Tapi sayang, kalau kamu sampai tertabrak tadi. Mas gak pernah ngebayangin kamu terluka."
"Stop mobilnya mas." Leo menurut dan segera meminggirkan mobilnya di bahu jalan.
Setelah mobil benar-benar berhenti. Lira menarik tangan Leo dan membuat tubuh Leo menghadap ke arahnya.
"Liat aku? Aku baik-baik ajakan. Aku gak terluka, jadi mas jangan terlalu khawatir dengan ini. Untuk Sonya aku sudah memaafkan dia mas. Aku tahu dia tidak sepenuhnya sadar melakukan itu padaku. Jadi mas, kita lupakan masalah ini ya." Leo ingin membantah. Lira segera memajukan tubuhnya dan memeluk suaminya itu dengan sayang. Leo menghela nafas panjang dan membalas pelukan Lira dengan erat.
"Yang penting aku sekarang baik-baik aja ya mas. Mas jangan marah lagi ya, gak baik menyimpan rasa marah lama-lama. Nanti mas sendiri yang stres mikirinnya."
Leo pun tersenyum di pelukan Lira. Istrinya memang luar biasa. Kehamilan ini membuat pemikiran istrinya bertambah matang. Leo mengurai pelukan hangatnya dan menatap Lira sejenak. Di kecup dahi Lira lama.
"Iya sayang. Mas gak akan marah lagi. Makasih udah ngingetin mas ya." Kita tersenyum. Dia menarik wajah Leo dan mengecup pipi Leo cepat. Leo semakin tersenyum lebar. Di elus wajah Lira pelan.
"Tapi kita tetap harus kerumah sakit. Kita pastikan si dedek baik-baik aja disana." Lira mengangguk.
Leo kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
TBC
Uwaaaaa setelah sebulan lebih 2 hari. Maafkan yang telat banget up nya. Ini tinggal 2 atau 3 part lagi menuju ending ya guys. Doakan bakal cepat aku up nya. Mumpung kantor di liburkan agak panjang.
Eh curhat sedikit. Sebenarnya aku juga kurang suka kantor libur kek gini. Kasihan klien klien aku. Seharusnya mereka dapat perawaratan, tapi harus mandek sebentar karena virus korona ini. Mudah mudahan klien aku gak balik lagi ke barang haram amiin.
Bye guys, maafin kalau banyak typo. No edit soalnya.
Sampai jumpa di part selanjutnya.
SALAM
DII

KAMU SEDANG MEMBACA
My Husband Police (End)
RomanceJadi istri seorang polisi? Sama sekali tidak pernah Lira bayangkan. Tapi apa boleh buat jika takdir harus menyatukan dia dalam mahligai rumah tangga dengan seorang polisi yang kadang arogan dan kadang bisa sangat manis. Lika liku rumah tangga. Ber...