#Chapter 1 " Our Life "

2.4K 119 22
                                        


14 tahun kemudian

.

.

.

.

.

"Nanaaaaa!!!!  Aish! Dimana bocah itu??"

Seorang pemuda tampan dan manis keturunan Jepang itu menghela nafas,  ia masih sibuk dengan sarapan untuk keluarga kecilnya. Namun sosok yang ia katai bocah itu menghilang entah kemana setelah menambah pekerjaannya.

" selamat pagi,  ciicie"

Pemuda manis dengan kacamata bulat dan rambut acak-acakan masuk ke dapur setelah melempar jas putih kebanggaannya ke sofa. Ia terlihat kelelahan dengan kantung mata yang terlihat samar, duduk bersandar pada salah satu kursi dimana seorang yang sedang memasak langsung memberinya secangkir kopi.

" bagaimana shift malammu,  jiijie?"

" tsk melelahkan sekali, benar-benar menyebalkan. Dimana anak-anak?" 

" barusan magnae ada disini, tapi entahlah… Pusing kepalaku"

Keduanya terkekeh pelan membayangkan tingkah anak-anak mereka yang luar biasa. Si sulung yang pendiam, si tengah yang hiperaktif luar biasa dan si bungsu yang terlihat dingin namun begitu lembut seperti sifat kedua Ciicie dan Jiijiienya. Apa itu Ciiciie? Jiijiie? Sebenarnya itu adalah panggilan yang mereka sepakati untuk menjadi kesayangan bagi ketiga anak mereka, yang artinya adalah ayah, memang terdengar salah jika kita menulisnya dalam huruf namun jika kita mengucapkannya, semua akan terdengar begitu hangat.

" Ciicie, ada sesuatu yang harus aku katakan. Bisakah kau duduk sebentar?"

Mendengar nada serius dari seorang yang memanggil nama panggilannya,  pemuda bermanik lebar itu mengangguk. Ia mematikan kompor lalu duduk di dekat teman hidupnya. 

" ini, ini surat yang entah keberapa yang masuk ke dalam kotak surat di rumah sakit"

Amplop berwarna coklat itu didorong ke arah berlawanan,  sebelum menyesap kopi yang tersedia untuknya membiarkan sosok di hadapannya membaca dan meneliti apa yang ada di dalamnya.

" kau akan menerimanya hyung?"

" setahun ini aku sudah mengabaikannya, namun semua tidak berjalan sesuai pikiranku. Rumah sakit tempatku bekerja terlalu senang saat mendapatkan kabar jika aku akan dipinjam sebagai tenaga ahli dengan bayaran fantastis. Mereka menyetujui karena pemerintah Korea mendukung dengan memberikan trilyunan dana untuk menebusku.. Ini gila, aku tidak pernah berpikir untuk kembali ke sana"

Keduanya terdiam untuk sebentar,  lalu menghela nafas dengan detak jantung yang seolah memburu. Mereka berdua sama-sama memiliki luka yang menyakitkan hingga menimbulkan sebuah trauma tersendiri dan mereka tidak ingin membiarkan trauma itu kembali menimbulkan kekhawatiran dan luka, terlebih saat ini ada tiga kehidupan lain yang harus mereka jaga. Yang bahkan lebih berharga dari sekedar nyawa yang berada di dalam tubuh mereka berdua.

" apa itu artinya kita akan ke korea Jiijie?  Ciicie???"

Suara penuh kebahagiaan itu terdengar dari ambang pintu. Seorang dengan rambut pink tersenyum senang,  diikuti dengan si mungil dan si tinggi yang mengekor di belakangnya. 

" apa berarti  Njun bisa bertemu dengan Choi hyung?"

" apa itu artinya kami akan tinggal bersama uncle Kim???"

Pertanyaan berturut-turut dari tiga anak-anak,  pertanyaan yang menuntut dengan sebuah harapan. Dua orang dewasa di ruangan itu menahan nafas mereka sebelum membuat keputusan lewat tatapan mata mereka. 

Fake ProtagonisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang