#Chapter 11 " No To Sorry"

471 56 5
                                        




Wonho berdiri canggung setelah memergoki bagaimana Changkyun mencium Yuta. Jujur dia masih kaget dengan apa yang ia lihat, namun kekagetannya itu tertunda dengan keberadaan Changkyun di samping Yuta.

" Jujur, aku kaget melihat adegan ciuman kalian namun aku lebih kaget dengan keberadaan... Nya"

Ada jeda di dalam kalimat yang Wonho ucapkan, ia juga masih menatap ke arah Changkyun yang tersenyum simpul sambil memainkan jemari Yuta. Wonho sudah mendapatkan apa yang ia mau, namun enggan pergi meski pekerjaannya sebagai ketua team menunggunya namun baginya saat ini lebih penting dari tugasnya yang menggunung di meja kerjanya. Untuk kali ini, ia akan menggunakan kekuasaannya untuk berbuat seenaknya.

" lama tidak bertemu, hyung"

Sapa Changkyun.

" ya... Sangat lama hingga aku nyaris melupakan bagaimana senyum wajahmu"

Changkyun tersenyum simpul, ia melirik ke arah Yuta yang terlihat mengantuk. Perlahan ia menurunkan sandaran pada punggung Yuta, menahan kepala bersurai merah itu agar tidak kaget dengan guncangan yang ia buat sebelum menarik selimut yang sempat tertarik saat ia memeluk dan hampir saja kehilangan kendali.

Wonho masih di sana dan memperhatikan dengan jelas bagaimana Changkyun terlihat begitu dewasa saat memperhatikan Yuta.

Waktu seakan berhenti saat polisi jenius itu mendapati senyum tulus yang Changkyun berikan untuk patner kerjanya. Wonho tidak tahu harus bereaksi seperti apa melihat seorang yang pernah mengisi harinya, yang selalu tersenyum kekanakan saat meminta dia dan yang lain untuk menunggu agar mereka bisa berangkat sekolah bersama. Senyum kekanakan itu tidak terlihat meski hanya sebentar saja. Di hadapannya adalah Changkyun, orang yang sangat ingin ia temui bahkan ke neraka pun jika bisa ia akan dan ingin mencarinya. Wonho mengenalinya, meski Changkyun tidak mengatakan apapun tentang identitasnya. Changkyun-nya terlihat berbeda sekarang, terlihat lebih dewasa yang pada kenyataannya ia bisa melihat jika Changkyun-nya telah berubah dengan ekspresi yang lebih rumit seperti sebuah labirin tanpa jawaban, dan tidak perlu bertanya mengapa karena Wonho dan teman-teman Changkyun telah mengetahuinya. Adik kecilnya telah hancur begitu parah tidak hanya karena satu malam, ia hancur sejak orang-orang dewasa di dekatnya mulai meninggalkannya dalam diam. Sepanjang apapun kenangan yang Wonho coba tepis, ia masih bisa melihat tatapan terluka Changkyun saat dia dan yang lainnya membela seorang yang pada akhirnya ia ketahui salah. Mereka tanpa sengaja membangun mimpi buruk yang lain untuk Changkyun pijaki.

" aku tidak pernah bermimpi untuk melihatmu lagi..."

Changkyun terkekeh, ia sibuk mengusap tangan Yuta saat merasa posisi Yuta tidak nyaman.

" Apa hyung berpikir akan menemukanku di ujung terowongan yang panjang, lalu kau akan berlari menyusuri jalan berbau dan berlumpur dengan terburu-buru hanya untuk melihat tubuhku membusuk dan tersisa tulang bersama ulat dan lalat yang mengerubungiku???"

Wonho buru-buru menggeleng, yang benar saja apa yang Changkyun katakan? Membayangkan bertemu Changkyun masih sehat saja sudah membuat merinding apa lagi dengan apa yang Changkyun katakan barusan, bisa gila mendadak polisi muda itu.

" tidak, sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku hal seperti itu!"

Changkyun mengangguk mencoba mengerti.

" Changkyun sudah mati, sama seperti yang kalian dengar 14 tahun yang lalu"

" Changkyun-ah"

" kau bisa memanggilku Daniel, dan aku harap kau memanggil namaku dengan benar"

Fake ProtagonisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang