Changkyun dan Yuta menghirup nafas dalam-dalam setelah keluar dari ruang imigrasi, mereka berjalan lambat membiarkan ketiga anaknya berjalan mendahului mereka karena saking semangatnya untuk melihat sesuatu yang sebelumnya hanya mereka lihat dari televisi.
" kenapa Mingyu selalu bermasalah di sini? kenapa tidak di Jepang saja?"
Guman Yuta.
" kenapa mereka harus memutasiku kemari, tidak ke afrika saja? itu akan lebih baik meski disana sangat panas"
Keluh Changkyun lirih.
Dua orang yang menjadi seorang ayah itu saling menatap lemah, lalu mengangguk setelah menyunggingkan senyum sinis menyadari kekonyolan mereka tentang keluhan yang tidak mungkin akan merubah apapun yang telah mereka putuskan bersama. Siap atau tidak, mereka harus menghadapi luka dan trauma mereka karena seberapa jauh mereka melangkah mereka tahu cepat atau lambat mereka akan kembali ke tempat dimana mereka pernah mendapatkan luka. Yuta dan Changkyun saling mengangguk, berusaha memastikan mereka akan baik-baik saja setelah keluar menyusul anak-anak mereka yang sudah menunggu mereka di ujung pintu keluar bandara. Mereka saling memastikan untuk tidak akan ada luka dan trauma yang akan menghampiri mereka karena mereka memiliki satu dengan yang lain.
Di taxi Yuta sibuk dengan berkas-berkas perkara untuk sidang yang akan ia datangi. Ketiga anaknya pun memilih diam, dengan Loun ( si bungsu ) yang tertidur di pelukan Neo ( si sulung ) sementara si pinky atau New atau lebih sering dipanggil Na ( si tengah-tengah ) memilih menyandarkan kepalanya di pundak sang Jiijie.
" apa Ciicie akan langsung pergi ke pengadilan?"
" hmm, si malika yang sialnya adalah pamanmu mengatakan persidangan akan dimulai jam 2 sore ini"
Si pinky itu menghela nafas.
" boleh aku ikut? Akan membosankan jika berada di tempat asing tanpa Ciicie"
Changkyun dan Yuta saling bertatapan, mereka mengerti jika anak tengah mereka merasakan tidak nyaman dengan tempat baru terlebih mereka memang belum pernah menginjakkan kaki mereka di Korea semenjak mereka terlahir ke dunia, dengan pertimbangan singkat Yuta mengangguk.
" Nana ikut, aku juga ikut"
Itu si sulung yang tiba-tiba membuka matanya menuntut Yuta dari pantulan kaca mobil. Tidak ingin berdebat, Yuta mengangguk.
" tapi kalian harus menurut pada Jiijie selama disana. Kalian berbuat ulah sedikit saja, Ciicie akan memastikan kalian menjadi cleaning service tambahan dengan baju maid selama seminggu di rumah sakit tempat Jiijie bekerja"
GLEK
Dua biang onar itu menelan ludah mereka kasar, menatap pada sang Jiijie yang hanya tersenyum simpul menunjukkan dua lesung di pipinya. Sementara Yuta kembali fokus pada pekerjaannya setelah mengancam anak-anaknya, seolah-olah apa yang ia katakan adalah angin lalu baginya berbeda dengan kedua anaknya yang mengartikan ancaman Yuta sebagai tanda bahaya. Yuta tidak akan main-main, apalagi sudah melibatkan Changkyun.
.
.
Setelah makan singkat di kantin kantor kejaksaan, Yuta meninggalkan keluarga kecilnya dan berjalan menuju ruangan yang ia dapati dari kekasih Mingyu.
Langkah kaki Yuta membawanya ke arah ruangan dimana ia yakini tempat adik tampannya berada. Tepat saat pintu dibuka, Yuta mendengar suara adik bungsunya yang menggeram menahan amarah. Ada sekitar lima orang yang ada bersama dengan Mingyu dan membelakanginya. Beruntung adiknya memiliki tubuh tinggi, hingga ia bisa melihat raut kesal sang adik yang ternyata sedang berdebat dengan seorang pengacara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Protagonis
FanfictionHold my hand, never lose and make it down Kita memiliki kisah yang sama, tanpa tahu kemana arah takdir membawa kita. Kita sama-sama terluka dan memilih mati karena tidak ingin merasakan luka untuk entah keberapa kian kalinya. Aku menggantungkan...
