Hello Hello
Nuntasin janji kemarin kkk
Happy Reading
.
.
.
.
Semua berasal dari diri sendiri, rasa takut dan rasa sakit tidak akan datang jika kau tidak memikirkannya. Meski pada hakekatnya kita tidak bisa menghindari rasa sakit dan ketakutan yang ada, namun setidaknya yang harus kau ketahui adalah aku masih disini. Di tempat kau meninggalkanku.
#Yuta
.
.
.
Changkyun membuka pintu rumahnya, mengerutkan kening nya saat merasakan hal baru yang selama 14 tahun tidak pernah ia temui. Rumahnya terasa sepi, biasanya saat ia pulang Na dan Loan akan menyambutnya dengan riang. Ia berjalan perlahan menuju dapur, benar-benar asing untuknya. Jam dinding menunjukkan angka pada angka 7 pagi, biasanya jika anak-anak tidak menyambutnya berarti Yuta sedang menyuruh mereka untuk mandi dan Changkyun akan menemukan Yuta di dapur dengan gerutuan tentang anak-anak mereka yang tidak bisa diam.
Membuka kulkas, mencoba mencari sesuatu untuk diminum. Changkyun justru menemukan beberapa box makanan yang ia yakin berasal dari restoran dekat supermarket. Terselip nota di dalam plastik yang membungkus box.
" lima hari yang lalu??"
Guman Changkyun.
Dokter muda itu menggeleng, dirinya yakin jika Yuta tidak akan membiarkan makanan jadi mendiami kulkas mereka lebih dari satu hari karena Yuta adalah orang yang anti untuk membuang makanan jadi pengacara cantik itu akan memaksa ketiga anak mereka untuk menghabiskan makanan. Bubur yang ia buat untuk Yuta juga tersimpan rapi di dalam box terlihat tanpa disentuh sama sekali.
Changkyun mulai panik, ia mencoba mendial nomor Yuta yang berujung dengan jawaban sang operator selular. Dokter muda itu berlari menuju ke kamar, memastikan tidak ada barang yang terlewatkan. Barang-barang milik Yuta masih disana, bahkan perincing kesayangan Yuta masih di tempatnya. Yang berarti jika Yuta tidak meninggalkannya. Ada rasa lega, namun takut dengan kenyataan jika Yuta atau anak-anak tidak bisa ia temukan dimanapun.
" Oh My God!!! This house really dirty!"
Suara asing menyapa pendengaran Changkyun, ia berjalan ke arah pintu kamar ingin menyambut ketiga putranya karena ia mendengar suara Loan yang terkekeh pelan saat melewati kamarnya.
" tidak ada yang peduli dengan rumah ini jika bukan Ciicie, mengingat dimana dia sekarang tentu saja rumah ini menjadi sarang bakteri"
Changkyun mengenali suara lembut itu, suara Loan.
" dan dimana seorang yang kalian panggil Jiijie?? Uncle pernah mengatakan padaku untuk menelfonnya. Tapi tidak diangkat"
" sepertinya Jiijie memang tidak peduli seperti yang ia katakan"
" hey Na, apa yang Jiijie katakan? Kau menelfonnya saat itu"
Neo terdengar begitu menuntut jawaban dari adiknya, namun Na masih tidak ingin bicara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Fake Protagonis
FanfictionHold my hand, never lose and make it down Kita memiliki kisah yang sama, tanpa tahu kemana arah takdir membawa kita. Kita sama-sama terluka dan memilih mati karena tidak ingin merasakan luka untuk entah keberapa kian kalinya. Aku menggantungkan...
