Audrey termenung di balkon kamarnya memikirkan hal yang tak seharusnya ia pikirkan, karena pada dasarnya Audrey terus-menerus sedari tadi memikirkan apa benar dalang dari semua ini abangnya?
Jika benar, untuk apa ia melakukan semua ini?
Ada masalah dengan Ravael? Tidak.
Dendam? Tidak.
Namun Audrey merasa ada yang janggal dengan abangnya tersebut, tapi apa?
Apa iya gue harus mata matain bang Marcell, pikirnya.
Tapi gak mungkin deh dia dalangnya, pikirnya lagi.
Eh tapi kemungkinan iya, pikir Audrey lagi dan lagi.
Tapi masa iya, batin Audrey.
"Bodo amat, lah!" Pasrah Audrey seraya menutup pintu balkon kamarnya dan beranjak ke atas kasur.
©©©
Pukul 01.00
Audrey terbangun dari tidurnya, gadis itu menggeliat ke sana kemari dan tangannya sesekali meraba nakas, ia ingin minum. Haus. Namun nihil, ia lupa untuk menaruh air putih seperti biasanya.
Jadilah seperti ini, dengan langkah gontai ia pergi menuju ke bawah untuk pergi ke dapur mengambil air minum.
Awalnya sih gontai-gontai gitu, tapi setelah cewek itu mendengar suara Marcell, abangnya sedang telponan di kamar, seketika tubuhnya tegak dan matanya terbuka sempurna.
Dengan mengendap-endap Audrey mengintip di balik pintu kamar abangnya tersebut yang sedikit terbuka. Ia sedikit mencondongkan telinganya agar bisa mendengarnya dengan sesempurna mungkin.
"Thanks, lo udah mau bantuin gue. Kerja bagus," ucap Marcell.
"....."
"Gue pastiin hubungan mereka sebentar lagi bakalan hancur," balas Marcell lagi.
"...."
"Lo tenang aja masalah itu, gue yang urus," balas Marcell lagi.
"...."
"Ya udah, besok kita ketemuan di cafe tempat biasa kita nongkrong jam sepuluh pagi," balas Marcell lagi setelah itu ia menaruh ponselnya di atas ranjang. Tak sengaja ia melihat adiknya yang sedang mengendap-endap. Oh.. jadi dari tadi dia nguping toh, pikirnya.
Marcell menghampiri Audrey tanpa disadari adiknya tersebut.
"Abis ngapain lo?," Tanya Marcell sarkas.
Seketika Audrey berdiri tegak dengan wajah yang pucat pasi karena kegiatan mengupingnya ketahuan.
"Lo tadi abis telponan sama siapa?," Balik nanya Audrey ke sang abang. Karena pasalnya ia pun penasaran dan sedikit curiga dengan tingkah abangnya itu.
"Temen," singkat Marcell.
"Terus apa maksud dari kata 'gue pastiin hubungan mereka sebentar lagi bakalan hancur?'" Tanya Audrey seraya meniru gaya bahasa abangnya tadi.
"Kepo banget lo! Gue mau tidur mending lo keluar deh dari sini!" Usir Marcell dan mendorong-dorong tubuh Audrey untuk pergi dari kamarnya.
Audrey hanya bisa pasrah, namun ia merencanakan esok pagi akan mengikuti abangnya tersebut secara diam diam.
Di sisi lain..
Kedua cowok tersebut sedang menikmati pandangan malam hari ini di roftoop biasa mereka nongkrong.
Salah satu cowok tersebut habis telponan dengan sahabatnya itu---Marcell.
Di sebelahnya, ada cowok yang sedari tadi menikmati obrolan mereka berdua, sebenernya sih sudah muak dengan semua ini, namun mau gimana lagi?
KAMU SEDANG MEMBACA
Without You✓
Novela JuvenilBerawal dari kisah percintaan Audrey Valencia bersama Ravael Leo Aiden di masa SMP. Ravael mengatakan perasaannya terhadap Audrey di depan kerumunan banyak siswa siswi yang membuat Audrey merasa senang dan malu. Bagaimana tidak? Ravael yang statusny...
