20. Berjuang

283 35 0
                                        

Tiga Minggu berlalu. Tiga Minggu pula Audrey menjalankan aksinya. Yaitu berjuang untuk mendapatkan Ravaelnya kembali. Ia yakin masih ada harapan untuk mengembalikan rasa cinta itu. Mungkin orang itu hanya butuh waktu, pikirnya.

Terkadang cinta itu harus butuh perjuangan yang amat mendalam bukan dan pengorbanan yang tiada hentinya? Itulah yang sedang dilakukan oleh Audrey sekarang. Ia tak meminta bantuan siapapun untuk menjalankan aksinya. Ia sosok yang tegar dan tangguh. Mampu menjalankan hidupnya yang sekarang terasa hampa. Namun, ia tak sering mengeluh dengan keadaan.

Ia bisa bertanggung jawab. Ia punya kaki untuk menopang tubuhnya dikala susah, ia mampu berdiri sendiri di sini tanpa bantuan orang lain. Ia punya pundak yang mampu menopang segala beban kehidupannya selama tiga minggu ini. Bahkan selama hidupnya. Ya, selama tiga minggu ini pula, tepatnya setelah kejadian beberapa minggu silam, ia selalu mendapatkan cibiran, gosip sana sini dan pembulian.

Salah satunya yaitu, ia lagi berjalan santai, namun tiba-tiba dari arah atas ada yang menumpahkan jus alpukat dan itu mengenai kepalanya, selalu mendapatkan coretan-coretan unfaedah di mejanya, jangan lupa lokernya yang sudah penuh dengan kata-kata jahat yang keluar dari mulut mereka semua. Bahkan kebanyakan 90 persen yang menyindirnya secara terang-terangan, bahwa ia tak pantas hidup, ia tak layak, ia pembunuh, ia belagu, bla-bla-bla dan masih banyak lagi, tanpa lagi memandang Audrey jika dia adalah anak pemilik yayasan ini. Selama itu pula, belum ada kemajuan semasa perjuangannya selama ini.

Ravael masih sama, bahkan ia secara terang-terangan mengatakan Audrey adalah cewek murahan dan kurang belaian di depan semua siswa siswi, tak jarang banyak yang menahan tawanya lalu menghujatnya. Dan manusia yang tak berperasaan itu pun mengabadikannya momen itu di ponsel mereka masing-masing. Jangan lupakan setelah itu ia mengunggahnya di sosmed.

kalian tau, kan, alasannya kenapa? Jadi, tidak perlu untuk dijelaskannya lagi.

Ujian Nasional telah usai. Audrey lega. Semoga ia mendapatkan nilai yang memuaskan. Audrey memasukkan peralatan alat tulisnya dan menggendong tas ranselnya dipundaknya. Lalu memasang earphone ditelinganya. Ia sudah tahu, pasti di luar sana sudah banyak hujatan-hujatan yang menanti dirinya. Maka dari itu, ia memasang earphone dengan mendengarkan lagu, sengaja volumenya difullkan agar tak terdengar kata-kata yang menurutnya unfaedah.

Ia keluar kelas beriringan dengan Samuel dan Chatrine. Pasalnya, Audrey berada di ruang 10 dan hanya Chatrine dan Samuellah yang seruangan. Lalu, Ferisha Delwyn, Davit, dan juga Ravael berada di ruang 13.

"Akhirnya gue lega, gila!!" Seru Chatrine antusias seraya berjalan beriringan keluar kelas.

"Pada mau masuk sekolah mana, rencananya?," Tanya Samuel basa-basi.

"Simpel. Gue sama Ferisha ngikut aja sama si Audrey," timpalnya enteng yang dibalas delikan oleh Samuel.

Tibalah mereka di pintu ruang 13. Terlihat Ferisha yang tengah ketar-ketir mengisi jawabannya. Padahal waktu sudah tersisa kurang 10 menit, namun entah apa yang dipikiran gadis itu. Otaknya telmi sekali. Ya, Audrey, Samuel, dan Chatrine bisa keluar dari ruangan karena mereka sudah selesai. Di ruangan 10 rata-rata Einstein semua otaknya. Jadi, jangan heran mereka bubar sebelum waktunya. Meskipun ada percekcokan sebelumya murid dengan guru. Sebab guru tak mengizinkan karena belum waktunya, takut menganggu yang lain. Namun kalian tahu kan sifat murid yang kadang super abstrak? Seperti alasan kebelet pipis gara-gara nahan kencing dari semalem akibat belajar kebut semalem, ada yang katanya mau ngapel sama pacarnya karena sedih bentar lagi bakalan LDR-an, ada yang mau happy-happy sama kawan-kawannya, ada yang kebelet berak sampai 4 hari karena menahan berak selama banyak hari Ujian Nasional, saking sibuk belajarnya jadi gak sempet berak atau pun hal lainnya. Terkecuali belajar, belajar, dan belajar.

Without You✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang