31. Balikan?

324 29 14
                                        

"balikan yuk"

"HA?!!" Kaget seisi kelas tanpa terkecuali. Bu Dian pun seperti itu.

"Eh? Enggak kok, Bu. Tadi saya liat ada kecoa lewat di bawah," alih Ravael gugup.

Mereka tertawa kecil melihat kelakukan absurd Ravael sekaligus receh.

"Mana ada kecoa di sini. Lagi ngerasain cinta monyet, ya?," Goda Bu Dian asik.

"Bukan cinta monyet, bu. Tapi cinta mati, eakkk," gombal Ravael receh yang langsung di soraki oleh seisi kelas.

Ferishalah yang makin heboh. "POKOKNYA RAVAEL HARUS TRAKTIR SEISI KELAS IPA 2 NANTI!!!! PAJAK BALIKAN HARUS BAYAR!!" Profokator Ferisha yang membuat seisi kelas makin heboh.

"Ambil aja ambil," sahut Ravael sombong dengan nada santai.

"Dih—bayarnya pake kutang lo, ya? Pasti ngutang nih," ledek Gian kurang ajar seraya tertawa. Otomatis yang mendengar kata tersebut dari mulutnya kebanyakan malu.

"Itu mah elu!! Setiap ke cafe gue yang di London ngutang mulu kerjaan lo. Palingan udah jutaan kali," kompor Ravael yang membuat Gian mendesah tak nikmat.

Heran. Padahal kan itu aibnya. "YA ELA!!GAMPANG ITU MAH. NANTI GUE BAYAR MAKE CALON BINI GUE!!!" Teriak Gian ngotot.

"parah Char, lo di jadiin target," pancing Alex dengan nada datar dan muka flat.

"Eh? Enggak kok. Bercanda bercanda," sentak Gian tersadar dengan perkataan nya. Niatnya kan hanya bercanda.

Tapi dasar cewek!

"Yaudah gak papa. Siapa tau aku dapat yang lebih waras daripada kamu," sahut Charly yang makin memojokkan Gian.

"Anjir!!!" Cecar Gian tak terima.

"Udah pokoknya Rava harus bayar nanti!!" Timbrung Yoga damai.

Ravael tersenyum. "Iya nanti gue bayar. Tapi mintanya sama Gian, ya," balas Ravael.

"KOK GUE?!!" Pekik Gian cempreng dengan komok tak selow, mata melotot hingga ingin keluar dan jangan lupakan hidung yang di kembang kepiskan seraya membuka mulutnya agak lebar.

"Anjir! komok gak kontrol, tai," kekeh Alex yang tak dapat di pungkiri. Sungguh, Masya Allah banget mukanya.

"Iyalah! Itung itung itu lo bayar semua utang lo," balas Ravael seenaknya.

"GAK SEBANYAK ITU—MONYET!!" Geram Gian yang membuat seisi kelas tertawa.

••••••••

"Kutu buku banget sih, kamyuu," gumam Ferisha sok imut kepada Zazkia.

Audrey sedari tadi tersenyum melihat ke arah Zazkia. Mengapa dirinya baru sadar bahwa selama ini Zazkia sangat mirip sekali dengan sahabat kecilnya itu? Pantas saja Yoga terkadang selalu melirik ke arah tempat duduk Zazkia yang berada di belakang.

Audrey tersenyum penuh arti. Semoga Zazkia adalah orang yang tepat untuk menggantikan posisi nya di hati Yoga itu.

Ya, semoga. Terlihat sekali dari tatapan Yoga bahwa Yoga kagum kepada anak itu. Kagum dalam artian—

Muka dan juga sifatnya persis seperti sahabat kecilnya.

"Kata Mami, kalo kita mau sukses, kita harus belajar dengan giat. Trus jangan lupa juga berdoa. Dan yang paling penting gak ngeremehin atau menjatuhkan orang lain." Ujar Zazkia tenang yang membuat seisi meja yang mereka tempati menjadi kicep.

"Nah, loh! Ferisha ketauan banget, nih malesnya," goda Nino kepada Ferisha.

Ferisha mencebikan bibirnya sebal. "Males itu manusiawi kali!" Sewot Ferisha.

Without You✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang